Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
empatpuluhsembilan


__ADS_3

POV Naura


entah sejak keadaan rumah tangga mbak Rita dan mas Bayu yang aku rasa kurang baik karna kak Maura, aku diam-diam selalu mengawasi tingkah kak Maura. aku tak mau ia berbuat sesuatu yang membuat rumah tangga kakak dan kakak ipar ku jauh lebih berantakan lagi.


memang setiap ada suatu hal mbak Rita dan mas Bayu selalu bisa menyelesaikan masalah mereka dengan baik, tapi aku sebagai seorang adik pun tak ingin rumah tangga keduanya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


suatu hari ketika aku tidak sengaja bertemu dengan kak Maura dan temannya saat aku dan temanku sedang makan siang setelah mencari buku di toko buku mall terbesar didaerah kami, aku tak sengaja mendengar perkataan mereka yang akan membuat rumah tangga mas Bayu dan mbak Rita berantakan dengan mendatangkan orang ketiga diantara keduanya.


sungguh aku tak menyangka sampai seperti itu rencana yang sudah kak Maura lakukan, dia bisa jadi sejahat ini hanya karna obsesi. ya, aku mengatakannya obsesi karena sangat terlihat jelas dimatanya saat memandang mas Bayu, ntah apa alasannya.


beberapa hari kemudian aku melihat kak Maura pulang kerumah diantar oleh temannya yang akan ia jadikan umpan tersebut, sekali lagi mereka berdua merencanakan hal yang tak aku duga. tapi aku mencoba untuk menghiraukannya sampai teman kak Maura pergi aku baru menegurnya. kak Maura yang tak terimapun


memberantakan semua cemilan yang sedang aku makan sambil menonton Drakor kesukaanku, disitu akupun merasa sangat marah pada kak Maura tapi yang aku heran kan ibu terlihat tak berbuat banyak untuk kebeneran yang aku katakan.


begitupun seterusnya, sampai akhirnya dimana semua orang yang telah berfikir kak Maura sudah berubah tapi tidak didepanku dan juga mbak Rita. ia mulai menunjukan ketidak sukaannya pada kami secara terang-terangan.

__ADS_1


sampai akhirnya malam dimakan mas Bayu memutuskan untuk keluar dari rumah itu mengajak serta aku dan mbak Rita untuk menjauh dari kak Maura, malam itu sangat tegang bahkan ibu sampai menamparku ketika membela kak Maura. jujur aku sangat kecewa pada ibu, ibu lebih percaya dan membela anaknya yang sudah jelas sangat salah dibanding dengan ku yang jelas membela kebenaran untuk keluarga kecil mas ku yang sangat aku sayangi.


aku pun bersedia mengikutinya untuk pindah rumah. memang selama ini, aku begitu menghormati mas ku juga mbak Rita, karna selama bapak meninggal hanya ia satu-satunya tempatku mengadu. keduanya adalah kakak dan ipar terbaik, sabar menghadapi situasi apapun. aku salut dengan keduanya.


setelah beberapa Minggu kami bertiga hidup tenang tanpa gangguan dari kak Maura, aku dikagetkan dengan mbak Rita yang akan melahirkan. panik dan rasa takut pun ada karna hanya aku dirumah ini. aku pun segera membawa mbak Rita kerumah sakit dan menghubungi mas Bayu. setelah mas Bayu sampai ia pun segera mendampingi mbak Rita diruang bersalin, tak lama terdengar suara tangis bayi dari dalam ruangan bersalin diikuti dengan lantunan azan dari bibir mas Bayu.


aku merasa terharu sekaligus bahagia atas kelahiran ponakan pertamaku, rasa syukur pun tak bisa aku lukiskan. air mata yang sudah menumpuk pun tak kuasa lagi tertahan, mengalir dengan sendirinya.


Alhamdulillah hirabbil alamiinn.


"bagaimana mas keadaan mereka?" tanyaku setelah mas Bayu mendudukan diri disebelahku.


"Alhamdulillah semuanya sehat nau" jawabnya mengusap wajahnya menggunakan kedua tangannya.


"bayinya cewek atau cowo mas?" tanyaku penasaran.

__ADS_1


"cewek Alhamdulillah" jawabnya.


aku pun tersenyum menanggapinya, aku pun membantu mas Bayu menjaga mbak Rita meskipun dengan suasana yang sering kali ada sesuatu yang membuat perasaanku tak nyaman tapi aku berusaha tidak berbuat ulah. walaupun saat ibu dan kak Maura menjenguk aku merasakan kesalnya tapi aku tak menghiraukan, aku lebih memilih menghindar.


sampai puncaknya ketika mbak Rita pulang dari rumah sakit dan keduanya kembali menjenguk dengan Maura yang sengaja memancing keributan denganku, disitulah emosiku mulai meluap bahkan sampai ibu menangis.


sebagai anak tentu saja aku merasa bersalah, tapi aku juga masih ada rasa kecewa pada ibu yang lebih memilih membela kak Maura dibanding aku.


"maafkan aku Bu" gumamku setelah kembali kekamar diantar ibu mbak Rita yang juga sudah aku anggap sebagai ibuku sendiri, bahkan tak segan ia membuatkan aku coklat hangat kesukaanku untuk meredam emosiku yang masih meluap.


tetap dihari ketujuh kelahiran SHAKEENA anak mas Bayu, mereka pun sepakat mengadakan acara aqiqah untuk putri pertama mereka. aku pun sedikit membantu, ditengah-tengah aku yang sedang membungkus snack ibu mbak Rita mengatakan sesuatu yang membuatku selalu terngiang ngiang.


"kita ngga tau apa yang ibu kamu rasakan dan apa yang dilakukan oleh dia kepadanya, jangan sampai nanti kamu menyesal nau"


kata-kata itu selalu muncul dalam pikiranku membuatku merasakan perasaan yang tak biasa, aku akan coba meredam kekecewaanku pada ibu. betul apa kata ibu mbak Rita, aku harus coba memaafkan beliau. biar bagaimana pun ia adalah ibu kandungku, aku tak ingin menyesal dikemudian hari.

__ADS_1


__ADS_2