Fitnah Dari Saudara Ipar

Fitnah Dari Saudara Ipar
tigapuluhdelapan


__ADS_3

malam harinya semua berkumpul dimeja makan kecuali Maura, ibu yang mau semuanya berkumpul pun memanggil maura yang masih didalam kamarnya.


"mau, ayok makan malam dulu" kata ibu mengetuk pintu kamar Maura.


Maura pun membuka pintu dengan wajah dan pakaian acak-acakan, kurang enak di pandang.


"kamu bangun tidur dan belum mandi mau?" tanya ibu mertu melihat penampilan Maura.


"iyaa, udah ibu makan duluan aja sama yang lain. nanti Maura nyusul" kata Maura ketus langsung menutup pintu dengan kencang membuat ibu mertua terlonjak kaget.


kemudian ibu mertua pun kembali ke meja makan menemui anak dan menantunya yang sudah siap dengan hidangan di piringnya masing-masing.


"mana Maura Bu?" tanyaku pada ibu mertua yang duduk pada posisinya.


"nanti katanya nyusul" jawab ibu mertua dengan pelan.


"bagus lah, biar ngga ngilangin selera makan" kata Naura sambil memasukan satu suapan nasi kedalam mulutnya.


"hust, jngan ngomong gitu nau" kataku menegur Naura yang mendapat lirikan tahan dari ibu mertua.


"biarin aja mbak, lagian pasti tadi ibu diketusin kan sama kak Maura"kata Naura dengan sinis.


"udahlah nau, jangan begitu biar gimana pun dia kan kakak kamu. gabaik kamu bicara kaya gitu" jawab ibu mertua membela Maura.


"ibuu itu selalu aja membela kak Maura. udah jelas-jelas perlakuan dia itu buruk Bu, apa ibu ga sadar juga. hah? ada apa dengan ibu? bukannya dulu ibu juga ga suka dengan sikap kak Maura, kenapa sekarang ibu malah terkesan membelanya" kata Naura tak bisa menahan emosinya.


"kamu ini, selalu itu yang kamu permasalahkan. Maura itu sudah berubah Naura, kenapa kamu ngga bisa terima itu? kenapa? bukannya seneng kakaknya udah berubah malah kamu sekarang yang cari gara-gara" jawab ibu mertua.

__ADS_1


"apanya yang berubah Bu, malah semakin menjadi iyaa. harus nya tuh ibu yang sadar Bu bukan Naura!!" jawab neura dengan kesal.


"udah lah Naura, jangan salahin Maura terus. mending kamu habisin makanan kamu terus tidur, besok masuk sekolah biar gak kesiangan" kata ibu mertua menyuruh Naura menyelesaikan makannya.


"ibu, ibu kenapa sih percaya banget sama kak Maura. inget Bu, sumber masalah dikeluarkan kita itu dia!!" kata Naura dengan secara agak tinggi.


"Naura, udah cukup!!" kata mas Bayu menengahi.


"ngga mas, biar aja biar ibu tau gimana Maura. seharusnya ibu sadar karna sudah membuat kak Maura hadir dikehidupan kita, baik boleh tapi jngan bodoh sampe mau ngelakuin apapun untuk dia. kita anaknya aja harus punya sopan santun, sedangkan dia jngan kan sopan santun mulut aja ngga punya mungkin" jawab Naura dengan emosi.


"Naura , cukup!! yang sopan bicara dengan orangtua!!" kata ibu mertua membentak Naura.


"nah, lihatkan mas. ibu malah menyalahkan aku, mas lihat sendiri kan?!" kata Naura dengan mata berkaca-kaca.


"Naura, jaga attitude kamu didepan orangtuamu sendiri. itu ga bagus Naura" kata mas Bayu dengan lembut.


"ibu itu pilih kasih mas, mas tau sendiri gimana Maura sudah mau menghancurkan rumah tangga mas dan mbak Rita. tapi ibu selalu aja membela nya, padahal waktu dulu juga ibu semangat sekali untuk membantu tapi kenapa sekarang malah berubah pikiran?!" kata Maura dengan pelan.


"semua ini karna maura mbak, karna Maura!!" kata Naura dengan berteriak kencang.


"ada apa sih, bawa-bawa nama aku" kata Maura yang baru saja turun dari makarnya, dengan langkah pasti ia menghampiri meja makan setelah mendengar Naura menyebut namanya.


"ini nih, orang yang udah membuat ibu berubah. ntah apa yang ada dipikiran ibu, sampe selalu membela kamu!" kata Naura memandang Maura dengan wajah sinis.


"heh, jangan asal bicara. itu karna ibu tau kalo aku ngga salah! kamu yang justru selalu menyalahkan aku!" kata Maura membentak Naura yang sudah beruaraian air mata.


"kamu sengaja memanfaat kan ibu agar kamu bisa selalu berlindung padanya, iyakan?! dasar mun*fik" kata Naura menunjuk nunjuk Maura.

__ADS_1


"jaga ucapan kamu nau, aku ngga serendah itu!" kata Maura menggeretakan giginya.


"kamu memang ngga serendah itu, tapi lebih rendah dari apa yang aku ucapkan!" kata Naura dengan wajah memerah padam.


plaaaakkk


tiba-tiba ibu menampar Naura yang masih mengeluarkan airmata, Maura memegang pipinya yang terasa sakit karna tamparan dari ibu mertua.


"ibu!" kata mas Bayu dengan nada keget atas perlakukan ibu mertua pada Naura, begitupun ibu mertua yang kaget telah menampar Naura. anak kandungnya!


"liat, liat kan. betapa sayangnya ibu sama anak pungut ini, sampai bisa mendapat anak kandungnya dlsendiri. lihat mas, ibumu lebih membela anak sialannya ini dari pada kita anak kandungnya" kata Naura dengan lirih memandang ibu mertua yang masih dalam keterkejutannya.


"nau, maafin ibu nau. ibu ga sengaja" kata ibu mertua dengan lirih menghampiri Naura yang masih memegang pipi bekas tamparan ibu mertua tercetak jelas karna memang sangat kencang dan pasti sakit sekali.


"puas Bu?! puas sudah menampar anak sendiri?!" kata mas Bayu yang membela Naura yang masih terisak dalam dekapan Rita. makan malam yang harusnya berjalan dengan tenang malah membuyarkan emosi masing-masing.


"ngga gitu maksud ibu Bayu" kata ibu mertua terpotong oleh perkataan mas Bayu yang terlihat sangat marah oada ibu mertua.


"ngga begitu gimana? lantas apalagi Bu?masih belum cukup? belum puas? ini, sekalian tampar Bayu Bu!" kata mas Bayu menunjuk pada pipinya, ibu mertua pun mulai terisak. karna kedua anaknya yang mulai menyalahkan dirinya, sedangkan Maura hanya mendekap tangan didada seperti menikmati kekacauan yang ada dirumah ini.


"sudah puas kamu membuat kekacauan dirumah ini mau? puas membuat ibu dan anak-anaknya saling menyalahkan? selamat, kamu menang mau!" kata mas Bayu pada Maura yang melirik sinis padanya.


"sudah mas, percuma bicara dengan dua orang itu. biar aja ibu merasakan nanti jika tidak ada kita, biarlah dia hidup dengan Maura beserta kehidupannya sendiri. aku ingin lihat bagaimana ibu diperlakukan oleh Maura, sebagai seorang ibu atau seorang pembantu!" kata Naura langsung meninggalkan meja makan tanpa melanjutkan makannya.


"dasar adik gatau diri, dibalikin malah semakin menjadi tingkahmu" kata mas Bayu memandang Maura dengan tajam.


"semoga ibu cepat sadar Bu, jika ibu salah. sepertinya aku salah mempercayakan Rita pada ibu, maaf mungkin untuk sementara aku akan membawa Naura juga Rita pindah dari rumah ini. ibu tenang aja, aku akan mencarikan rumah kontrakan untuk Rita dan Naura. karna sepertinya rumah ini sudah tidak layak untuk mereka" kata mas Bayu dengan tegas.

__ADS_1


"tapi bay, apa kamu ngga kasihan jika ibu sendirian dirumah ini?" kata ibu mertua pada mas Bayu yang mau melangkahkan kaki menggandengku menuju kamar Naura.


"ada anak kesayangan ibu, ibu ngga usah khawatir!" kata mas Bayu dengan langkah pasti meninggalkan ibu mertua yang masih terisak dihadapan Maura yang hanya melihatnya dengan tatapan datar.


__ADS_2