
POV Bayu.
sungguh hari ini aku benar-benar merasa tak bisa fokus dalam pekerjaanku yang sangat menumpuk, ini semua karna kabar yang diberikan oleh anak buahku yang aku tugaskan untuk mencari tau semua tentang apa yang dirahasiakan oleh ibu.
namun, batapa terkejutnya aku setelah mendapatkan hasilnya. sungguh aku tak menyangka jika orang yang selama ini aku sebagai ibu, orang yang sangat sayangi, orang yang aku cintai pertama kali tega membuat hatimu hancur berkeping-keping.
bagaimana tidak, disana tertuliskan jika ia adalah orang yang telah berusaha membunuh ibu kandung ku. yaa ternyata ibu bukanlah ibu kandungku, melainkan hanya ibu sambung yang dinikahi ayah setelah beberapa bulan kepergian ibumu yang juga disebabkan olehnya. diketahui ibu kandungku meninggal dengan vonis pendarahan pasca melahirkanku, tapi ternyata pendaharan itu disebabkan oleh ibu yang sudah mendorong ibu kandungku disaat mereka memperdebatkan sesuatu yang tidak aku ketahui apa itu.
jelas sekali dalam rekaman cctv yang ditemukan oleh orangku beberapa puluh tahun silam terekam jelas dalam ingatanku.
"mengapa ibu tega melakukan ini semua padaku Bu" gumamku menjambak pelan rambut ku sendiri.
aku pun memutuskan untuk memberikan pelajaran untuk ibu yang tega melakukan hal tersebut padaku, aku akan membuatnya dalam kebimbangan. aku yakin ada hal yang ibu rahasiakan dariku, apalagi saat aku tau jika ibu memiliki beberapa aset pribadi setelah menikah dengan ayah hingga ayah telah berpulang ibu pun sempat membeli sesuatu menggunakan uang perusahan.
aku harus segera pulang kerumah untuk mempercepat permainanku yang baru saja berlangsung dengan ibu, tadi pagi ibu sama sekali belum menjawab keputusan apa yang akan ia ambil.
aku berharap ia akan memohon padaku untuk membebasakan anak yang ternyata adalah anak kandungnya dengan pria lain, aku tak menyangka ibu bisa melakukan hal sekeji ini pada ayah. hingga akhirnya ayah pun meninggal setelah mengetahui kenyataan yang ia terima.
"aku akan membalas apa yang perempuan itu lakukan pada ibuku dan juga ayah, tapi bagaimana dengan naura. biar bagaimana pun dia adalah anak kandung ibu" gumamannya lirih diakhir kalimat.
aku pun meneruskan pekerjaanku hingga jam menunjukkan pukul empat sore, aku pun bergegas membereskan uang kerjaku yang sempat berantakan karna ulahku sendiri yang terlalu pusing dengan apa yang menimpa rumah tanggaku.
"ndi, ayok kita pulang" kataku pada Andi yang kini telah menjadi asisten pribadiku.
"sekarang? tapi kerjaan ku masih banyak bos" jawabnya yang sudah mengubah panggilannya ketika dikantor, bukan lagi dengan sapaan akrab kami.
"udah besok aja gampang, atau kamu bawa pulang aja. aku ga sanggup mengerjakan semuanya hingga selesai, mumet endasku" jawabku membuatnya terpaksa menganggukan kepala.
"ada apa si buru-buru pulang? apa ada hal yang penting?" tanya Andi ketika kami melangkah memasuki lift kelantai bawah.
"gaada si, aku cuma lagi ga mood kerja aja. lagian aku ada urusan dirumah yang harus aku selesaikan hari ini juga" jawabku seketika membuatnya menganggukan kepala.
kami pun bergegas menuju mobil setelah berhenti tepat didepan garasi yang emmenag khusus untukku.
"kamu bisa bantu aku dulu nanti dirumah? sepertinya aku butuh bantuan kamu, karna dirumahku hanya ada para perempuan" kataku pada Andi yang fokus mengemudikan mobil.
"boleh, memang ada apa si?" tanyanya penasaran.
"sudah, nanti juga kamu tau. tapi ini bersifat pribadi ya, jangan sampai orang lain tau tentang semua ini" kataku pada Andi yang langsung diangguki olehnya.
__ADS_1
tak lama kami pun tiba didepan rumah, andipun segera turun dan membuka pagar sementara aku tetap menunggunya didalam mobil.
"huh kenapa si ngga pakai satpam, kaya gini kan aku jadi repot harus bolak-balik" gumamnya membuatku tertawa kecil.
"Belum ada yang cocok, nanti juga pasti ada satpamnya kok" jawabku santai.
"ayok masuk" lanjutku, Andi pun mengikuti ku melangkah masuk kedalam rumah. aku sudah disambut dengan perempuan cantik yang selalu ada disaat aku membutuhkan, siapa lagi jika bukan istriku.
"assalamualaikum sayang" kataku mengecuk keningnya ketika mencium punggung tanganku.
"waalaikumsalam mas" jawabnya dengan senyum mengembang, sungguh membuatku merasakan lelah yang hilang berganti dengan banyaknya hamparan tenaga di sekelilingku.
"mas Andi, ayok masuk" katanya mempersilahkan asistenku itu masuk kedalam rumah.
"iyaa Bu, terimakasih" jawab Andi sungkan dibalas senyum oleh istriku.
"ibu belum kesini lagi sayang?" tanyaku pada Rita.
"belum mas, mungkin nanti" jawabnya dengan sedikit senyum. namun aku perhatikan pipinya memerah disebelah kanan, aku pun menyentuhnya dan ia pun reflek menjerit kesakitan.
"aauu" katanya memegang pipi sebelah kanannya.
"jangan bohong sayang, aku yakin ini pasti ibu yang membuat pipimu jadi seperti ini. iyakan? jawab jujur Rita" kataku sedikit membentak membuatnya langsung menganggukan kepala dengan kepala tertunduk.
"sialan, berani sekali perempuan itu memukul istriku" gumamku dengan pelan takut Rita mendengar apa yang aku katakan.
"kapan dia melakukannya? dimana? disini! kemana semua orang, kenapa ngga ada yang mencegahnya" kataku dengan sedikit berteriak karna kesal.
"maaf mas, kamu tau sendiri ibu bagaimana. sementara dirumah ini hanya ada aku, bi Surti dan juga Naura." jawabnya menundukkan kepala. ya aku tau sekali bagaimana sifat ibu, aku pun tak menyalahkan Rita yang tak dapat membalas perlakuan ibu padanya yang sudah sangat semena-mena.
"yasudah biar mas nanti yang akan menegur ibu, dimana Naura dan bi Surti?" tanyaku pada Rita.
"Naura dilamarnya, sementara bi Surti lagi memasak makan malam didapur." jawabnya dengan tersenyum lembut.
"Andi akan menginap disini, siapkan kamar tamu untuknya. tolong sampaikan pada bi Surti" kataku oada Rita yang langsung dibalas anggukan kepala olehnya.
"iyaa mas, kamu mandilah dulu. pakaiannya sudah aku siapkan dikasur, aku akan menggantikan bi Surti memasak. dan ingat, jangan berisik karna keena masih tertidur" kata Rita mengingatkan aku yang suka mengganggu tidur anak perempuanku itu.
aku pun terkekeh kecil sebagai jawaban, lalu melangkahkan kaki memasuki kamar dengan hati-hati sesuai dengan apa yang Rita ucapkan.
__ADS_1
aku pun bergegas mandi dan rutin kembali kebawah untuk menemani Andi yang masih menunggu kamar tamu untuknya.
"apa aku harus menginap bro, sepertinya aku bisa pulang walaupun tengah malam" kata Andi padaku yang langsung aku jawab dengan gelengan kepala.
"tidak, karna setelah itu ada yang harus aku bicarakan denganmu sekaligus aku meminta solusi padamu" jawabku membuatnya menganggukan kepala.
"yaa baiklah kalo begitu, aku akan menginap disini untuk malam ini" jawabnya membuatku tersenyum.
"pak, sudah siap kamar tamunya. silahkan jika mau dipakai" kata bi Surti yang datang menghampiri kami berdua yang tengah mengobrol.
"baik bi, terimakasih" jawabku dengan tersenyum.
"sama-sama pak, saya permisi" kata bi Surti meninggalkanku dan juga Andi yang masih berada diruang tamu.
"mandi dulu ndi, biar aku pinjami baju ganti. sebentar aku ambilkan, kamu masuklah dulike kamar itu" kata ku menunjukan Andi kamar yang akan ia tempati.
Andi pun memasuki kamar tersebut, sementara aku langsung mengambilkan baju ganti yang akan dipakai oleh Andi.
setelah itu, aku kembali menghampiri Andi didalam kamarnya menaruh pakaian gantinya diatas ranjang kemudian keluar sebelum Andi keluar dari kamar mandi.
"ndi, aku taruh diranjang pakaian ganti untukmu" kataku pada Andi yang langsung diasahuti oleh nya dari dalam kamar mandi.
"yaa terimakasih" katanya dengan berteriak.
aku pun kembali duduk diruang keluarga sambil menunggu azan Maghrib berkumandang, disusul oleh Rita yang juga duduk disebelahku dengan senyum menawan.
"mengapa tidak mengabari mas jika ibu menaparmu lagi" kataku yang hanya dibalas senyum oleh Rita, ia pu memelukku untuk menenagkan.
setalah hampir dua jam menunggu, akhirnya ibu pun tiba tepat setelah kamu berkumpul diruang keluarga. ibu pun berjalan dengan angkuh tak seperti ibu yang selama ini aku kenal.
"bagaimana keputusan ibu?" kataku ketika ibu telah duduk dikursi yang telah disediakan.
"apakah tidak ada tawaran lain Bayu? biar bagaimanapun aku adalah ibumu" jawabnya dengan menundukkan kepala.
"tidak!! segera berikan jawabanmu!" kataku dengan tegas, ibu pun melirik Rita dengan pandangan tajam sementara Rita hanya menundukkan kepalanya.
"baiklah, aku kan ikuti kemauanmu asal Maura segera kamu bebaskan" jawabnya membuatku tersenyum kecil.
nikmati dulu kesenanganmu Bu, ini baru awal!!
__ADS_1