Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Mengumbar Tawa


__ADS_3

"Tidak, siapa bilang aku mencintainya, dengar ya! Aku hanya sedikit kagum saja, kenapa wajahnya begitu tampan. Satu hal yang membuatku bingung Ev."


"Soal apa?"


"Apa kamu benar-benar tidak merasakan apa pun, misal kekaguman atau sejenisnya. Kamu lihatkan, semua mata karyawan menatap memuja sama bos kita." Alyne meletakkan tas yang ia tenteng ke sofa.


"Termasuk kau!" ejek Saira berhasil membuat gadis itu kesal. "Jangan bilang kau belum makan."


"Aku sengaja menunggumu, kamu pasti kelelahan di sana. Aku ingin sekali mengucek wajah wanita sialan itu!" maki Alyne mampu membuat mata Saira melotot sempurna.


"Alyne, apa ini dirimu?"


"Memangnya siapa lagi kalau bukan aku, kamu jangan membuatku takut."


"Malah kau yang membuatku takut," ucap Saira dramatis. "Sejak kapan kau memaki orang."


"Ah, maaf mengenai hal itu, aku hanya sangat kesal Eve. Masa dia membuat atasanku bekerja dengan keras. Mentang-mengang punya pegangan manajer, huh begitu saja sombong!"


Wajah Alyne terlihat sangat jengkel mengingat wanita itu. Saira tertawa mendengarnya, jarang-jarang ia bisa mendengar gadis itu mengomel dan memaki orang yang membuat kesal dirinya.


"Eve, apa makanannya kurang enak? Kamu nggak makan."


"Bukan, ini aku mau makan, cuma bingung mau taruh kemana makanannya."

__ADS_1


Hal itu sontak membuat Alyne menepuk jidatnya. Ia lupa mengambil piring.


"Maaf, tunggu sebentar!" Alyne segera mengambilnya dan meletakkannya di depan Saira.


"Apa ini efek kamu kesal sama nenek sihir dan jadinya kualat sampai lupa bawa piring!" ledek Saira sambil tertawa.


Rasanya sudah lama ia tidak tertawa dengan lepas. Alyne juga menyadari satu hal, Saira sudah mulai lebih santai dan lebih banyak mengeluarkan ekspresi. Ia senang mengetahui hal tersebut.


"Apaan sih, jangan bahas kualat."


Mereka segera makan malam ditemani suara tawa dan ocehan Alyne yang masih belum puas mengutuk wanita bernama Viya. Mereka berhenti sejenak saat ada panggilan masuk.


"Siapa?" tanya Alyne penasaran.


"Halo, Ma. Aku baik-baik saja di sini."


"Mama tidak perlu khawatir soal itu, aku sudah beradaptasi dengan baik di sini. Kapan-kapan datanglah berkunjung. Tempat wisata di sini indah-indah, Ma."


Saira tertawa mendengar keluh kesah ibunya di seberang.


"Iya, Eve juga sangat merindukan Mama, tapi pekerjaan masih banyak Ma. Nanti begitu selesai, Eve akan segera pulang."


"Eve, bagaimana rasanya memiliki seorang ibu?"

__ADS_1


Alyne terlihat sangat penasaran akan hal itu. Perlahan senyuman Saira surut berganti dengan wajah sedikit sedih. Ia tidak mengerti bagaimana mengatakan hal itu. Sebelum ia menikah, ibunya sangat menyayanginya. Bahkan begitu dimanja. Apa pun yang dia inginoan pasti dikabulkan.


Saira tidak memahami satu hal mengenai ibunya. Mengapa kasih sayang begitu mudah terkelupas dari hatinya. Tidak bisa melihat betapa kesakitan putri kecilnya dalam membina rumah tangga. Namun, satu hal yang ia pahami dari seorang ibu.


"Memiliki ibu itu sangat menyenangkan, jika kasih sayangnya sebesar hidupnya. Percayalah Alyne, tidak semua ibu memiliki kasih sayang seluas itu. Tapi bukan berarti semua ibu begitu."


"Pedas sekali menunya, berapa cabe yang kau pakai?" tanya Saira karena air mata jatuh tanpa sengaja di pipinya.


"Menurutku ini tidak begitu pedas, baiklah! Besok akan kukurangi penggunaan cabenya."


"Apa semenyenangkan itu memiliki seorang ibu?"


"Bergantung, seberapa beruntung kamu dilahirkan dari rahim seorang ibu yang penuh kasih sayang."


Alyne tampak sedih mendengar ucapan Saira. Itu artinya ia tidak begitu beruntung karena terlahir tanpa pernah mengenal sosok ibunya.


 


Aku bisa, Mas. Aku bisa mengutukmu jadi Syeitun yang terqutuqes.


Wulan, kalau kamu mau suami saya, ambil saja. gratis! Halo semuanya, aku lagi nonton Indosiar wkwkwkw.


PUAS KELEN, PUAS SEKARANG. AKU UPDATE LIMA KALI, SATU BONUS 🤣🤣🤣🤣

__ADS_1


__ADS_2