Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
parasit Level Akut


__ADS_3

Tasma dan Chloe membulatkan kedua matanya dan menatap William sambil menggeleng pelan.


"Kalau kalian maunya begitu, kenapa harus teriak-teriak."


"Mungkin belum terbiasa tinggal di rumah megah, Pa."


Alyne tertawa mendengar ucapat Saira. Ka tidak tahu jika atasannya bisa sesadis itu jika tidak suka melihat orang yang sok berkuasa seperti gadis itu.


"Oh, iya Pa. Eve akan mengantar Alyne, silakan panjutkan masalah kalian pada Papa. Mana tahu Papa punya solusinya Bibi. Jangan teriak-teriak lagi ya, rumah ini kan bukan hunian Tarzan."


setelah itu Alyne dan Saira pergi meninggalkan mereka dengan perasaan senang. Sedikit kedongkolan hatinya terobati. Ia bukan tidak tahu kalau Chloe bersikap kura g ajar pada Alyne. Ia mendengar dan melihat semuanya.


"Eve, mereka tadi siapamu?" tanya Alyne penasaran.


"Mereka adik dari Papa tapi menumpang hidup dan tabiat mereka sangat buruk. Aku sangat muak dengan mereka berdua."


"Pantas saja," ucap Alyne.

__ADS_1


"Apa rumahmu masuk jalan di depan yang belok kanan?" tanya Saira.


"Kenapa kamu tahu?" tanya Alyne bingung.


"Aku hanya menebak saja." Saira segera membelokkan mobilnya menuju tempat Alyne. Mata Saira mengamati lingkungan sekitar dan tempat tinggal Alyne terlihat sederhana.


"Berhenti di sini Eve, itu rumahku." tunjuk Alyne sambil menunjuk ke sebuah rumah kecil dannterlihat nyaman untuk ditinggali. Saira menghentikan mobilnya dan turun dari sana.


"Jadi di sinilah Pamanmu yang kurang ajar itu sering datang?" tanya Saira sambil melihat ke sekitar. Alyne menganguk.


"Alyne, apa kamu tidak ingin mencari tahu soal keberadaan orang tuamu?"


Berbicara mengenai keluarga, entah kenapa selalu berhasil membuat Saira emosi. Entahlah, pengalamannya dengan keluarganya membawa luka mendalam yang mungkin tidak akan pernah bisa sembuh sampai kapan pun.


"Ya sudah, aku pulang dulu. Besok jangan sampai telat." peringat Saira dan kembali masuk ke mobilnya. Ia segera pergi dari sana menuju kediamannya. Sekitar tiga puluh menit, Saira sudah sampai ke rumahnya dan drama masih saja berlanjut.


"Eve, kemari!" perintah William dengan tegas.

__ADS_1


Saira berjalan menuju ruang tamu dan menatap William datar. Di sisi kanannya sudah ada Halena dan Tasma beserta putrinya.


"Ada apa?" tanya Saira datar.


"Duduk dulu dan jelaskan semua ini."


Saira duduk dan menatap datar ke arah mereka semuanya. Entah kenapa keluarga Evellyn memelihara ular di rumah mereka, benar-benar lucu. Apa mereka tidak tahu, kepergian Evellyn bukan karena kecelakaan tapi dicelakai.


"William, lihatlah putrimu, dia tidak senang dengan keberadaan kami di sini." Tasma tampak menangis sedih seolah dialah yang paling terluka di sana.


Saira masih menjadi pengamat di antara mereka, ia akan mengikuti drama yang coba dibangun dan dimainkan oleh Tasma dan putrinya.


"Paman, kami tidak pernah mengusik Kak Eve tapi kenapa kami diperlakukan seperti ini. Bukankah kami juga keluargamu, Paman."


"Sudahlah Nak, mungkin emmang nasib kita seperti ini. Kita sudah ditakdirkan untuk hidup dengan cara seperti ini."


Saira menyunggingkan senyum melihat kelakuan mereka. Jika hanya memainkan drama murahan, pengemis lebih ahli. Dia akan memainkan drama yang berkelas. Bahkan drama murahan seperti ini sudah seringa dia lalui di masa lalunya. Bahkan drama yang diciptakan Tasma belum ada apa-apanya di banding yang dimainkan oleh keluarganya dan suaminya. Ia masih bertahan dari semua luka karena dia adalah gadis yang kuat. Tidak ada siapa pun yang bisa membuatnya jatuh. Cukup dulu ia menjadi gadis yang tolol karena terjebak cinta yang tidak sehat.

__ADS_1


--------


__ADS_2