
Seminggu kemudian, Saira sudah bisa berjalan kembali seperti biasa. Ia juga sudah kembali masuk ke kantor. Saat berjalan di lobby, banyak mata menatap tak suka kepadanya. Bahkan banyak yang dengan cara terang-terangan melemparkan kebencian.
"Lihat tuh, enak ya kalau dekat sama Bos. Bisa datang sesuka hati."
"Iyalah, namanya juga kesayangan bos," ejek mereka saat Saira lewat.
"Jangan sembarangan, nanti kalau dilaporkan ke Pak Bos, bisa-bisa nasib kita seperti Bu Viya yang diturunkan jabatannya dan terakhir di tendang."
Saira tersenyum melihat mereka semuanya, saat ini ia akan diam karena ada cara ampuh untuk menutup mulut mereka semuanya. Saat itu tiba, dia tidak tahu akan seperti apa raut wajah mereka yang sudah mengejeknya tanpa mengetahui apa pun tentangnya.
"Lihat, dia bahkan tidak menyangkal sama sekali, dasar munafik beraninya main sama atasan."
"Sudah, ayo kembali bekerja, jangan mencari masalah dengan kesayangan bos. Nanti kita bisa kena masalah."
Saira menghela napas pelan, baginya menanggapi orang seperri mereka tidak akan ada gunanya, ia membiarkan pemikiran kuno seperti itu berkembang, dirinya tidak pernah merasa dirugikan.
"Akhirnya kamu datang, aku hampir mengamuk karena melihatmu disindir seperti itu!"
"Abaikan saja mereka Alyne, tidak ada gunanya menanggapi. Biar waktu yang menjawab semua nyinyiran mereka."
"Jadi kamu sudah memiliki rencana untuk itu?"
"Menurutmu?" tanya Saira dengan misterius.
__ADS_1
"Aku selalu menyukai gayamu yang seperti ini, apalagi kalau mereka tahu kalian sudah pacaran."
"Lyn, kamu jadi bahan gosip paling hangat di sini," beritahu Elca dengan kesal. "Ingin rasanya merobek mulut mereka yang sok tahu."
"Biarkan saja mereka El," ucap Saira datar.
"Baik, Lyn."
Elca tersenyum kecut, ia selalu mengira Saira tidak pernah menyukainya, padahal gadis tulus ingin berteman dengan Saira. Ia melangkah dengan lesu menuju mejanya dan menunduk dengan sedih.
"Sudah, jangan berkecil hati, dia sebenarnya sangat menyukaimu tapi memang pembawaannya seperti itu." hibur Alyne.
"Benarkah? Tapi kenapa dia sangat berbeda saat bersamaku dan saat bersamamu?"
Wajah yang tadinya mendung, kini berubah menjadi binar bahagia. Ia akan kembali berjuang untuk diakui sebagai teman oleh Saira. Semangatnya kembali bangkit.
"Terima kasih Ae karena sudah memberitahuku."
"Sama-sama, tetap semangat ya."
------
Romeo tersenyum di kursi kebesarannya. Banyak cita-cita yang ingin ia wujudkan bersama Saira jika mereka sudah menikah nantinya.
__ADS_1
"Pak, lusa kita akan kedatangan tamu dari Autralia." beritahu Raya sambil membawa beberapa berkas.
"Pak, ehem!" Raya mengetuk meja Romeo hingga membuat pria itu kaget.
"Maaf, Pak. Saya tidak bermaksud membuat kaget, tapi ada hal penting yang ingin saya sampaikan."
"Katakan saja Raya," ucap Romeo memusatkan kembali fokusnya agar tidak terbelah dua.
"Kita akan kedatangan tamu dari luar negeri, tepatnya negara kangguru Australia, Pak."
"Kapan?"
"Minggu ini," ucapnya.
Entah kenapa Romeo merasa senang, ia sudah tahu siapa yang akan datang berkunjung, tidak lain dan tidak bukan, itu orang tua Evellyn. Mungkin Tuhan sedang ingin merestuinya untuk melamar gadis itu dengan mendatangkan kedua orang tuanya.
"Saya ingin mereka disambut dengan pelayanan yang baik."
"Siap, laksanakan pak."
Romeo mengambil ponselnya dan mengirim pesan oada Saira.
"Hai cinta, mau makan malam romantis?"
__ADS_1
--------