Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Rencana Matang


__ADS_3

Alyne segera menjalankan rencananya yang sudah mereka rencanakan bersama Saira. Ia mengambil sesuatu dari kantungnya. Sebuah benda tajam dan segera memutus tali yang mengikatnya. Setelah terlepas dari jeratannya. Gadis itu dengan segera kekuar dari sana dengan cara mengendap-endap.


"Evellyn, aku sudah keluar dari kamar, sekarang apa yang harus aku lakukan?" tanyanya.


"Jangan dulu lakukan rencana kita, ada seorang gadia yang sedang disekap oleh pria itu, coba kau cari tahu keberadaannya." perintah Saira yang langsung diangguki oleh Alyne.


"Baik, aku akan segera mencarinya."


Dari sebuah ruang di samping kamar yang di tempati Alyne, ia melihat ada beberapa penjaga yang berada di sana. Ia yakin gadis yang dimaksud oleh Saira sedang disekap di sana.


"Aku sudah menemukan tempatnya, tapi aku bingung menghalau mereka."


Saira segera menyuruh Alyne untuk mengedarkan pandangannya agar ia bisa melihat lingkungan sekitar.

__ADS_1


"Alyne, apa ada sesuatu seperti tombol merah, jika ada, kamu harus memecahkan dam ambil benda tersebut."


Gadis itu mengedarkan tatapannya dan menemukan tombol tersebut. Ia segera memecahkan kaca dan mengambil tabung yang digunakan untuk situasi darurat. Ia akan menghajar mereka menggunakan benda ini. Beberapa dari mereka mendengar bunyi tersebut dan segera mencari sumber suara.


"Alyne kau mau apa?" tanya Saira saat gadis itu bersiap memasang kuda-kuda.


"Menghantam mereka menggunakan tabung ini," jawabnya.


"Itu akan menghabiskan waktu, kau segera kabur dari sana lalu masuk ke kamar tempat Izora dikurung. Ingat, jangan sampai ketahuan." peringat Saira.


Di dalam sana Izora meringkuk dengan mulut dibekap dan kedua tangan dan kakinya juga turut diikat. Hati Saira terenyuh melihat kondisi sang kakak yang tampak menyedihkan. Di pipinya terlihat sedikit lebam. Alyne segera bergegas mendekati gadis itu dan mengisyaratkan untuk diam. Alyne mengeluarkan pisau mini yang selalu dibawa olehnya.


"Ssttt ... jangan bergerak, aku akan melepas kaitan di tanganmu."

__ADS_1


Izora menurut sampai tali kedua tangan dan kakinya sudah lepas. Ia menarik napas dan mengembuskan dengan pelan untuk menghirup udara segar yang terkuras habis darinya. Siapa pun gadis itu ia sangat berterima kasih.


"Terima kasih," ucap Izora dengan senyum tipis.


"Terima kasihnya nanti saja, kita harus menyelinap dari sini untuk keluar." Alyne melihat kondisi gadis tersebut dan bertanya. "Apa kau bisa berjalan?"


Izora mengangguk dan segera mengikuti langkah Alyne menuju pintu, gadia itu mencoba membuka pelan pintunya dan masih terlihat kosong. Artinya, penjaga tersebut belum kembali. Ini menjadi kesempatan baik untuk mereka.


"Ayo, kita harus pergi degan segera sebelum pria itu kembali."


Alyne dan Izora mengendap, tapi Kaki Izora beberapa tersungkur karena kakinya lemah. Gadis itu dengan sabar menuntun sampai mereka menuju pintu keluar.


"Kau tunggu di sini, aku akan mengecek bagian itu," tunjuk gadis itu dan meninggalkan Izora di sudut ruangan mengingat gadis itu tidak bisa berjalan dengan baik. Mungkin kakinya mengalami keram akibat terlalu lama ditekuk.

__ADS_1


Izora memberi isyarat untuk gadis itu melangkah, Izora dengan segera pergi menuju pinti tersebut dengan langkah tertatih, saat hendak keluar rambut Izora tampak ditarik dari belakang membuat tubuhnya limbung dan berteriak kencang. Alyne yang melihat hal itu segera menerjang tubuh tegap itu dengan kedua kakinya dan memukul dengan tabung hydrogen yang ia bawa kemana-mana.


------


__ADS_2