Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Bos besar?


__ADS_3

Alvin menatap lembut manik yang kini sedang menatap kejauhan dengan berbagai makna.


"Zora, semua yang terjadi sama kamu dan keluarga adalah ujian dari sang pencipta. Tidak ada hal yang terjadi tanpa memiliki sebuah makna."


"Iya, Al. Aku tahu akan hal itu, mungkin di lain waktu, Saira akan jauh merasa lebih baik dari pada saat bersama kami."


Zora masih berharap bisa bertemu dengan Saira di mana pun dia berada. Meskipun sudah tidak berada di bumi, setidaknya ada sesuatu yang membuatnya mengingat Saira. Dia sangat merindukan sosok yang selalu membuat keluarganya bahagia dengan segala keceriaaan yang dimiliki.


"Saira, Kakak rindu sama kamu." batinnya.


Saira kini harus berurusan dengan orang tua Yudi yang tidak terima atas tindakan Saira beberapa hari yang lalu. Namun, gadis itu tidak pernah gentar sedikit pun karena dia sudah mengantongi beberapa bukti mengenai kejahatan pria itu.


"Kita akan memberinya kejutan!"


Wira beserta beberapa anak buahnya sengaja membuat pengakuan palsu karena Alyne sedang mengikuti mereka. Ia akan memberi gadis itu pelajaran agar tidak lagi terlalu mengurusi urusan orang lain.


"Kalian jebak gadis itu, kita akan menggunakannya sebagai ancaman untuk gadis sialan itu."


"Baik, Tuan!"

__ADS_1


Alyne yang tidak mengetahui rencana mereka yang sebenarnya pun ikut terjebak dalam permainan. Ia terus mengikuti masuk sampai jauh dari hiruk pikuk perkotaan. Ia mengambil ponselnya untuk memberi kabar pada Saira. Namun, ada seseorang di belakangnya memukul dengan tongkat hingga jatuh pingsan.


"Sita ponselnya!"


Mereka segera membawa tubuh Alyne menuji sebuah ruangan.


"Ikat gadis itu, jika sudah sadar jangan lupa hubungi saya."


"Baik, Tuan!"


Mereka segera mengikat tubuh Alyne sehingga gadia itu tidak bisa bergerak dengan leluasa lagi. Setelah itu mereka segera pergi meninggalkannya dalam ruang tersebut. Tentu Saira sangat khawatir, bahwasanya gadis itu belum ada kabar hingga matahari tergelincir.


"Alyne belum ada kabar sama sekali, padahal gadia itu selalu memberi kabar jika pulang terlambat."


"Mungkin ponslnya mati," ucap Elca.


Saira menggeleng. "Tidak, dia selalu membawa power bank kemana-mana. Sangat aneh jika Alyne sampai membiarkan ponselnya mati."


"Kita tunggu saja kalau begitu, kalau dalam waktu dekat dia tidak juga ada kabar kita akan mencarinya."

__ADS_1


Saira menganguk setuju dengan kalimat Elca. Mungkin sebaiknya ia memang harus tenang dan pikirannya terlalu diajak bekerja keras belakangan ini sampai tidak bisa mengistirahatkan pikiran yang berakibat mudah khawatir pada segala yang terjadi, belum lagi ia sedang bermasalah dengan seseorang yang berkuasa. Bagi Saira kekuasaan pria itu bukanlah masalahnya, melainkan ia tidak akan bisa melindungi semua orang yang dekat dengannya.


Malam pukul sembilan, Alyne belum juga kembali. Hal itu membuatnya khawatir. Bukan masalah kembalinya, tapi tanpa kabarnya yang membuat Saira cemas. Berbagai macam pikiran menyelinap nakal di kepalanya.


Ponsel yang ia letakkan di meja terdengar berbunyi. Saira berjalan ke sana dan mengambilnya. Kening Saira mengernyit melihat nama Alyne yang memanggil.


"Syukurlah kau menel ...." kalimatnya terpotong oleh suara tawa yang membahana memecih kesunyian.


"Halo gadis sialan! Apa kau sekarang khawatir?" tanya suara berat tersebut.


"Siapa Anda?" tanya Saira dengan nada datar.


"Ayolah, kamu mengenal siapa saya. Yudi, kamu kenal dia bukan?"


"Pak Wira?"


"Ternyata otakmu belum berubah jadi tolol," ucapnya sarkastik.


------

__ADS_1


__ADS_2