
Saira mengepalkan kedua tangannya dengan kesal. Pria itu sudah dengan berani mengajaknya untuk berperang. Ia akan mengabulkan semuanya. Ia tidak perlu mengkhawatirkan Alyne, karena gadis itu kelihatannya saja lemah, tapi tidak dengan kekuatannya.
"Ternyata Anda hanya berani dengan cara seperti ini? Saya tidak heran jika Anda menculik teman saya karena melihat latar belakang serta kemampuan Anda yang hanya bisa seeprti itu, saya rasa wajar."
"Apa maksudmu?" tanya Wira geram. Ia tidak suka jika ada orang yang menghinanya secara terang-terangan.
"Bukankah sudah jelas jawabannya?" kekeh Saira berhasil membuat amarah Wira naik ke ubun-ubunnya.
"Kurang ajar, siapa kau beraninya berkata seperti itu!" teriaknya.
Saira yersenyum miring melihat kemarahan Wira, salah satu melumpuhkan musuh adalah dengan memainkan emosi mereka dan Saira berhasil melalukannya. Perlahan tapi pasti pria itu akan menyesal karena sudah berani mengusiknya.
"Saya adalah Evellyn, anak satu-satunya dari pemilik perusahaan terbesar ke lima di Australia. Apa info yang saya berikan cukup?" tanya Saira dengan congkak.
Namun, respon yang diberikan Wira jauh dari kata bijak. Pria itu malah tertawa dan merasa gadis itu sedang membual mengenai identitasnya.
__ADS_1
"Jangan mimpi kamu! Mana mungkin kamu putri dari Pak William,jangsn mengarang cerita atau kamu saya laporkan kepada beliau." ancamnya dengan geram.
Tawa Saira membahana, ia tidak tahu jika pria itu sebodoh itu untuk memahami hal mudah seperti ini. Sebentar lagi pria itu akan menyesal karena sudah berurusan dengannya.
"Semua bisa menjadi mungkin jika Anda membuka pikiran lebih luas lagi. Ternyata tidak heran jika putra Anda minus moral karena ayahnya juga minus. Kasihan karena dia harus terlahir dari ayah seperti Anda."
"Diam kau! Beraninya mulut kotormu berbicara mengenai hal buruk tentangku."
"Kenapa? Apa Anda tidak terima? Lagi pula saya berbicara mengenai fakta kan? Hm bagaimana jika semua kejahatan Anda tersebar ke semua media, mereka pasti akan senang."
"Apa Anda menantang saya?" tanya Saira memastikan.
"Coba saja kalau kau berani, nyawa temanmu sedang berada dalam genggaman saya."
"Benarkah? Apa Anda tidak mau mencoba melihatnya? Saya takut Anda hanya membual saja." tantang Saira sambil tersenyum remeh.
__ADS_1
Wira yang mendengar semuanya dengan segera menyuruh anak buahnya untuk menuju kamar yang ditempati Alyne. Mereka melihat gadis itu masih tidur di sana dan tidak ada tanda-tanda akan pergi.
"Dia masih pingsan di kamar, Tuan, dan tidak ada tanda akan segera bangun."
Mendengar hal itu tawa Saira membelah malam, bahkan Elca yang di balik pintu tampak merinding mendengarnya. Ia yang sedang berniat menuju dapur, dikagetkan oleh suara milik Saira yang membahana.
"Anda terlihat bodoh sekali dengan ti dakan barusan, sebenarnya Anda ini mafia, orang jahat atau orang dungu, baru digertak begitu saja sudah takut."
Sungguh tingkah Wira menjadi sebuah hiburan bagi Saira. Ia belum pernah menemukan orang dengan kelakuan sekonyol pria itu. Ia padahal hanya bercanda, bagaimana mungkin Alyne bisa kabur jika masih diikat dan dibuat pingsan seperti itu.
"Kau akan menyesal karena sudah membuatku kesal!" ancamnya dengan nada dingin.
"Saya juga akan memastikan satu hal," ucap Saira sambil membisikkan sesuatu di corong telpon.
-------
__ADS_1
Bagaimana? mau lanjut? sini tak tendang