Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Damai


__ADS_3

Izora sudah di antar ke dalam kamar tamu. Dia ingat saat menatap manik sedamai samudra itu ada ketenangan tidak kasat mata di sana. Ia merasakan sesuatu yang terus menariknya untuk tetap merasakan kedekatan tersebut. Meski wajah Saira sangat datar dan terkesan dingin, entah kenapa Izora merasa damai.


Izora mengingat ponselnya terakhir tergeletak, ia takut ayahnya akan sangat khawatir karena tidak pulang ke rumah. Gadis itu segera keluar dari kamar dan meminta izin kepada Saira agar diperbolehkan pulang.


"Ada apa?" tanya Saira saat gadis itu sampai ke ruang tamu. Di sana Saira masih menyibukkan diri dengan semua kegiatannua.


"Ayahku pasti sangat khawatir padaku, bisakah aku pulang?"


Saira menatap wajah Izora dengan serius. Ia menyilangkan kedua tangan.


"Mengenai hal itu, kau tenang saja karena aku sudah mengurusnya. Jangan bertanya dari mana aku tahu kau diculik karena aku tidak akan pernah menjawabnya!"


Intonasi Saura terdengar sangat tajam tanpa bantahan, baginya sekarang semua itu tidak perlu, ia harus fokus untuk membalas pria bernama Yudi dan Wira. Mereka berdua adalah sampah masyarakat yang harus di masukkan ke dalam penjara. Kalau bisa menuju Nusakambangan agar mereka bisa meradakan hal yang belum pernah mereka bayangkan.


Mendengar hal tersebut Izora memilih diam dan kembali pamitan untuk ke dalam. Saira hanya menganguk singkat dan kembali mengerjakan tugasnya. Semua kejahatan pria itu harus segera ia kumpulkan agar lekas diproses.


Dering ponsel menghentikan Saira dari kegiatannya. Gadis itu dengan segera mengangkat saat melihat nama ya g tertera di sana. Senyum dengan setia membingkai wajahnya yang cantik dan menawan.

__ADS_1


"Iya, ada apa?" tanya Saira serius.


"Sayang, sejak kemarin aku merindukanmu, kamu yakin tidak merindukanku?"


Saira mendecih remeh dan tertawa. "Jangan selalu berkata begitu, kau ini. Jika dibilang aku tidak merindukanmu mungkin akan terdengar mustahil, tapi ya sudahlah."


Romeo di seberang tertawa mendengar ucapan kekasihnya. Padahal rencana mereka sebelumnya akan segera menikah. Namun, masalah datang menimpa tanpa diketahui sebelumnya. Saira harus menghadapi pria seperti Yudi dan Wira yang licik.


"Baiklah, aku tahu kamu sangat merindukanku, bagimana kondisi kakakmu? Apa sudah membaik?" tanya Romeo.


"Lalu bagaimana mengenai kasus pria tua itu? Apa sudah selesai?"


"Sedikit lagi selesai, tapi aku ingin sekali melihat raut wajahnya yang jelek itu! Dia pasti sangat marah jika mengetahui kedua tahanannya berhasil lolos." kekeh Saira.


"Ya sudah sayang, kamu segera istirahat ya. Jangan sampai kelelahan dan ingat aku selalu mencintaimu."


"Terima kasih, aku juga sangat mencintaimu. Selamat malam," ucap Saira dan panggilan mereka segera berakhir.

__ADS_1


Wira mengeram marah saat mengetahui anak buah yang sangat dia banggakan membiarkan dua tahanan paling berharganya kabur. Ia menendang mereka semua tanpa terkecuali. Kekesalan mulai merasukinya.


"Bodoh, kalian sangat bodoh! Mereka hanya dua orang, hanya dua orang dan kalian tidak becus menjaganya!" teriak Wira.


"Maaf, Tuan! Gadis yang pertama kita culik, dia ternyata bisa bela diri dan ...."


"Lalu kalian dikalahkan olehnya? Dasar bodoh."


"Ayah, sudahlah. Kita harus segera menangkapnya atau paling mudahnya segera saja menghabisinya." sambung Yudi.


"Membunuhnya? Apa yang kau katakan?" tanya Wira tidak habis pikir dengan jalan pikiran putranya.


"Kita akan kembali menyusun sebuah rencana untuk menangkap mereka."


-----


batuk ini menyiksa aku dnan engkau ... siapa engkau? engkau adalau dia. Heleh

__ADS_1


__ADS_2