
"Karena Mama pasti akan menangis,ending terburuknya Mama akan ngotot ikut ke Indonesia, lalu apa Papa mau ditinggal sendirian?" goda Saira membuat William menggeleng.
"Baiklah, ini akan menjadi rahasial di antara kita saja." keduanya lalu tertawa lepas. Untuk pertama kalinya Saira merasakan kasih sayang seorang ayah yang tulus. Bukan berarti dia tidak pernah mendapatkan semua ini. Hanya saja semenjak menikah, semua kasih sayang yang sudah dibangun semenjak kecil, musnah begitu saja dengan mudahnya.
"Papa jaga selalu kesehatan sekama Eve di sana nanti."
"Kamu juga sayang, Papa nggak mau hal buruk kembali terjadi sama kamu."
"Eve janji, tidak akan ada hal buruk apa pun terjadi sama Eve."
William memeluk Saira "Gadis kecilnya Papa sudah besar ternyata."
Saira tersenyum mendengarnya. Ia lalu segera pamit menuju kamarnya. Di sana ia merebahkan tubuhnya. Ia memejamkan mata dan masuk begitu saja ke alam mimpi.
Di sana Saira melihat Evellyn yang sedang tersenyum ke arahnya. Gadis itu bahkan melambai kearahnya. Gadis itu terlihat mendekat dan mengucapkan terima kasih. Wajahnya berseri dan terlihat sangat bahagia dengan apa yang sudah Saira lakukan untuknya.
"Jiwaku sekarang sudah tenang dan semua berkat dirimu. Kau bisa menggunakan tubuhku untuk selamanya. Terima kasih!"
Saira terbangun dari tidurnya. Napasnya terdengar memburu. Ia baru saja bertemu dengan Evellyn di alam mimpi. Gadis itu tersenyum sangat indah dan tampak berseri.
__ADS_1
"Gadis itu sangat cantik dan lembut, kenapa bibinya sampai tega mau menghabisinya." Saira menggeleng tidak habis pikir dengan semuanya.
"Non, ditunggu di bawah oleh Nyonya dan Tuan."
Saira segera membasuk wajahnya lalu mengganti baju lalu turun untuk makan malam. Di bawah sudah ada Halena dan William yang menunggu kedatangannya.
"Maaf, Pa, Ma. Aku ketiduran tadi." terang Saira dan langsung duduk.
"Tidak apa-apa, lagi pula kita juga baru saja mau makan." Halena tersenyum.
Mereka bertiga makan dalam diam, William sendiri terlihat sudah tidak lagi sedih. Wajahnya lebih semangat dan hal itu membuat Saira senang. Ia tidak akan membiarkan ayah Evellyn menaruh kasihan pada mereka berdua.
"Kemarin rencananya lusa, Ma. Tapi barusan Alyne memberi kabar kalau keberangkatannya dipercepat. Besok kami akan segera berangkat ke Indonesia."
"Yah, Mama belum sempat menghabiskan waktu sama kamu." desahnya.
Saira tertawa pelan mendengar keluhan Halena yang tampak sangat menggemaskan.
"Mama bisa tidur bersamaku malam ini," ucapnya dan menatap William yang terlihat kaget dan tidak terima.
__ADS_1
"Lalu Papa akan tidur sama siapa?"
"Malam ini Mama akan tidur sama Eve, Papa tidur sendiri saja ya. Lagian kalau sama Papa, bisa tidur sampai kapan pun. Berhubung Eve mau pergi besok, Mama harus menghabiskan waktu bersamanya malam ini."
"Wanita memang selalu menang," desah William tapi tetap tersenyum. Ia akan membiarkan istrinya tidur bersama Eve mengingat putrinya akan pergi lama.
"Ma, lihatlah wajah Papa sangat jelek kalau sedang merajuk."
Mereka berdua tertawa melihat wajah William semakin kusut. Namun, sedetik kemudian ia juga ikut tertawa. Sudah lama rasanya mereka tidak melakukan hal seperti ini. Semenjak kecelakaan tahun lalu, kebahagiaan seolah direnggut dari rumah mereka. Yang ada hanya kesedihan belaka.
Di sudut belahan bumi lainnya, Wawa bangun dari tidurnya. Ia memimpikan putrinya masih hidup dan ia membangunkan Andri yang masih terlelap.
"Pa, bangunlah, Pa."
"Ada apa, Ma. Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Andri dengan wajah mengantuknya.
"Aku bermimpi Sairaku masih hidup."
-------
__ADS_1