
Sejak pagi, Saira merajuk pada Romeo karena mimpinya tadi malam. Di kantor pun ia masih saja tidak mau menyapa kekasihnya. Alyne juga ikut bingung melihat tingkah laku wanita yang sekarang sudah ia anggap sebagai sahabatnya. Bahkan siapa pun yang menyapanya tidak akan direspon dan hanya mendapat tatapan tajam darinya. Bayangan Romeo selingkuh dengan wanita lain masih membayang di kepalanya, ia takut jika akhirnya kembali ditinggalkan oleh pria itu. Sungguh, Saira tidak akan bisa hidup dengan baik kalau Romeo tidak ada di sisinya.
“Sayang, kenapa mengabaikanku, hm? Apa aku ada berbuat salah kepadamu?” Tanya Romeo dengan wajah memelas.
Akhirnya Saira membuka suaranya, “Aku tidak mau kalau kamu selingkuh dengan siapa pun, aku tidak akan bisa menerimanya.”
“Memangnya aku akan selingkuh dengan siapa kalau ada bidadari di sampingku.”
“Halah gombal, nanti juga kalau aku sudah tidak secantik sekarang kamu akan mencari gantinya.” Kesal nya membuat Romeo geleng-geleng kepala.
“Sayang dengarkan aku, meski kamu sudah menua, meski kamu sudah berkeriput, aku akan selalu ada disampingmu. Aku akan meninggal dipangkuanmu, dan ....”
Saira segera memeluk tubuh Romeo dan menangis. Ia tidak suka mendengar jawaban Romeo dengan meninggal di pangkuannya. Memangnya pria itu akan meninggalkan dia? Saira menangis hebat dengan bahu bergetar. Romeo melirik Alyne yang juga sedang menatap bingung ke arahnya.
“Jangan katakan apa pun lagi, aku juga tidak akan marah lagi.” Decaknya disela tangisnya.
__ADS_1
“Makanya kamu jangan merajuk lagi sayangku, meski mataku jadi juling, atau wajah ku semakin tampan, kita akan selalu bersama.” Kekeh Romeo membuat Saira kesal. Ia mencubit perut berotot kekasihnya sampai Romeo kesakitan.
“Kenapa lagi sayang?”
“Awas saja kalau matamu jadi juling!” ancam Saira dengan penuh peringatan. Mana mau dia kalau mata Romeo jadi juling.
“Astaga, kamu benar-benar menggemaskan dan minta dibawa ke kamar rahasian.” Kekehnya dengan tatapan nakal.
“Jangan aneh-aneh, awas kalian!” kali ini ancaman datang dari Alyne yang melihat mereka dengan tatapan horor.
“Sejak tadi juga aku sudah di sini. Dasar pasangan mesum!” kesal nya membuat keduanya tertawa.
Sebuah panggilan masuk mengganggu telinga Romeo yang sedang memeluk tubuh kekasihnya. Ia mendumel pelan, lalu meraih ponselnya yang terletak tidak jauh dari posisinya. Ia melihat nama si pemanggil lalu tersenyum misterius.
“Ada apa?” tanyanya dengan wajah serius.
__ADS_1
“..........”
“Dia hanya salah paham sedikit, katanya dia sangat ingin bertemu denganmu. Datang saja ke sini, aku akan menyerahkan bekasnya segera.”
“.............”
“Siapa?” Tanya Saira penasaran, sedangkan Alyne hanya bersikap bodo amat di sana. Ia masih fokus mengerjakan tugasnya, alih-alih kepo dengan urusan dua makhluk yang berada satu ruang dengannya.
“Calon Alyne.” Bisik Romeo membuat Saira terkekeh geli, ia merasa akan seru kalau Danish datang ke kantor Romeo dan ia penasaran dengan reaksi Alyne nantinya.
Sekitar dua puluh menit kemudian, Danish sudah berada di kantor Romeo. Ia datang dengan setelan jas rapi warna cokelat terang. Rambutnya ditata rapi, wajahnya terlihat sangat tampan dengan hidung mancungnya yang semakin menambah pesonanya. Alisnya yang tebal ikut meramaikan ketampanannya. saat ia melewati lobi, banyak mata menatap gila ke arahnya. Mereka terpana cukup lama sampai ada yang tidak menyadari air liburnya menetes begitu saja.
“S—siapa pria itu?” Tanya mereka dengan bibir bergetar.
“Hanya tuhan yang tahu.”
__ADS_1
---