
Alyne menganguk paham. Ia dan Saira menata kamar Izora dengan rapi. Kesan damai sangat terlihat. Sofa panjang di hadapkan pada jendela besar yang menghadap pada danau. Alyne bahkan membeli dua puluh ekor angsa sebagai hiasan di danau tersebut.
Izora terbangun dari tidurnya, dan menatap mereka berdua dengan waspada. Bayangan kejam dari belasan pria terus menghantuinya. Saira berlari dan segera memeluknya. Mengucapkan beberapa kata yang membuatnya tenang.
"Mereka semua sudah membayar perbuatannya. Mereka tidak akan bisa lagi menemukanmu, mereka sudah kulempar ke neraka." bisik Saira.
Izora menangis, Alyne sampai meneteskan air mata melihatnya. Saira menghapus air mata kakaknya.
"Selama aku berada di sisimu, tidak akan pernah kubiarkan siapa pun menyakitimu lagi. Aku adalah malaikat pelindungmu."
Izora merebahkan kepalanya ke bahu Saira. Ia merasa damai saat menjadikan gadis itu sebagai sandarannya. Perlahan Saira mulai mengatur beberapa kegiatan untuk Izora. Saira tahu bahwa Izora tidak boleh dibiarkan sendiri dan melamun. Saira tahu salah satu hobi kakaknya adalah menanam bunga. Ia sudah menyiapkan 100 meter untuk lahan bunga. Ia juga membeli berbagai macam jenis bunga yang bisa memenuhi semua areanya.
Izora yang melihat semua itu sangat senang. Pikirannya perlahan teralihkan dari semua mimpi buruknya. Saira juga menyiapkan banyak pupuk serta peralatan lainnya.
"Ada mawar hitam, aku sangat menyukainya tapi mawar ini sangat langka."
Pertama kalinya ia berbicara dengan panjang dan sangat senang. Saira senang melihatnya.
__ADS_1
"Aku juga ada sesuatu untukmu." Saira membuka penutup bunga tersebut. Di sana sudah ada angrek hitam yang snagat menawan. Izora sangat senang mendapatkan bunga yang sangat langka tersebut. Ia berjanji akan merawat bunganya dengan baik.
"Kalau kamu bisa merawat mereka, aku akan membawakanmu lebih banyak lagi bunganya."
"Aku pasti akan merawatnya, terima kasih."
Saira sangat senang melihat perkembangan Izora. Tapi satu hal yang masih mengganjal di benaknya. Apa semua akan baik-baik saja kalau nanti bertemu dengan ibunya. Bagaimana Izora akan mengatasi semua ini. Saira menghela napas panjang.
Ponselnya berdering, ia mengangkat panggilan yang dari Romeo.
"Sayang, kemungkinan aku belum bisa kembali, Mama tiba-tiba drop."
"Makasih ya Sayang, aku akan segera menyusul begitu keadaan Mama sudah membaik."
"Iya."
Saira kembali meletakkan ponselnya saat Romeo mematikan panggilan. Matanya masih menatap awas pada Izora yang dengan telaten menyiram dan memberi pupuk. Sesekali dahan yang sudah tidak layak ia gunting.
__ADS_1
"Kak, apa semuanya sangat menyakitkan. Aku berharap Tuhan tidak lagi mempermainkan takdir kita."
Di Indonesia, Alvin sedang kebingungan mencari keberadaan Izora yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak.
"Kamu kemana Zora, aku sangat merindukanmu."
Lalu sebuah pesan masuk ke ponselnya. Itu dari Saira, ia mengetahui hubungan Izora dengan Alvin. Untuk itu ia harus benar-benar memastikan, apa Alvin akan tetap menerimanya jika mengetahui kebenarannya.
"Jangan mencarinya, Izora baik-baik saja."
"Anda siapa? Di mana Izora?" tanya Alvin sedikit emosi.
"Sudah saya katakan, jangan mencarinya."
"Saya akan terus mencarinya sampai ke ujung dunia sekali pun. Saya pasti akan menemukannya."
Saira tersenyum mendengar jawaban itu. "Kalau kau benar-benar yakin, datanglah ke Australia. Dia sedang bersama saya."
__ADS_1
Akan segera tamat gais, setelah masalah selesai mereka bersua akan menikah wkwkwkw