
Alyne menatap Saira dengan wajah bingung. Ia meminta gadis itu membantunya untuk menerjemahkan maksud dari pria itu. Saira menatap jahil ke arahnya dan menggeleng sambil menahan tawa. Kemudian ia beralih ke arah Aksa dan meminta bantuan. Pria itu berdehen pelan.
"Wanita cantik yang sedang kau ajak bicara itu tidak bisa berbahasa Indonesia. Kau bisa berbahasa Inggris jika ingin mengatakan sesuatu."
"Ah, pantas dia terlihat linglung. Kalau begitu saya permisi!"
Pria itu segera pergi dari sana meninggalkan pertanyaan besar di benak Alyne. Namun, detik kemudian ia menjadi bodoh amat dengan pria barusan. Ia juga tidak ingin tahu lebih jauh, karena baginya pria seperti itu tidak ia butuhkan sama sekali.
"Alyne, apa kamu nggak penasaran sama apa yang dia katakan barusan?" tanya Aksa penasaran melihat reaksi gadis itu. Jika biasanya gadis lain akan bersikap penasaran.
"Untuk apa menanyakan hal yang sudah jelas jawabannya. Pria seperti itu tidak masuk dalam list idamanku." Alyne mengunyah makanannya dengan pelan.
Saira menatap Alyne dengan kagum. Gadis itu memiliki pemikiran yang bagus. Tidak seperti dirinya di masa lalu. Ia melihat menu masakan yang tersaji di hadapannya. Jika dulu ia sangat menyukai udang, kini makanan itu seperti racun baginya. Ia bahkan tidak menyentuh sama sekali.
"Padahal dia memujimu!" pancing Saira membuat Aksa menganguk setuju. Namun, reaksi Alyne tetap tidak berubah sama sekali.
"Tetap saja aku tidak tertarik dengan modelan seperti itu."
"Lalu pria seperti apa yang bisa membuatmu jatuh cinta?" tanya Aksa sesekali menatap Saira yang sedang menatap ponselnya.
__ADS_1
"Pria yang bisa bertanggung jawab dan pandai mencintai pasangannya!"
Senyum Aksa perlahan memudar diganti dengan wajah sedih. Ia kembali diingatkan pada almarhum istrinya. Saira menyadari hal tersebut dan mengusap lembut pundaknya.
"Kamu teringat sama mantanmu lagi? Bisiknya dengan pelan. Aksa tersenyum singkat dan menganguk.
"Semua pasti akan berlalu, begitu pun dengan kisah masa lalu."
Aksa menggeleng pelan. "Tidak akan pernah hilang, Eve. Kesalahanku terlalu besar untuk dilupakan. Mungkin sampai mati sekali pun akan terus terkenang dengannya."
Saira tersenyum miring melihat betapa rapuhnya pria congkak yang dulu ia cintai. Bahkan sampai rela melakukan apa pun hanya demi dirinya. Dulu hidupnya sangat tidak berarti sama sekali. Ia menyesal karena menghabiskan waktu bersama keluarga yang tidak pernah menginginkannya hadir.
Aksa melihat jam tangannya dan sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia mendesah karena terlalu cepat waktu berlalu. Seingatnya, mereka baru sebentar duduk bersama dan makan.
"Aku akan mengantar kalian." Aksa menawarkan untuk mengantar mereka.
"Tidak perlu, kami bawa mobil kok."
Alyne menatap pada Aksa yang terlihat sangat ingi mengantar Saira. Ia berinisiatif dengan menyuruh Saira agar oulang bersama Aksa.
__ADS_1
"Ev, kamu pulang aja sama Aksa, biar aku pulang sendiri." ia tersenyum memberi Aksa kesempatan. Pria itu tampak sangat berterima kasih.
"Kamu yakin mau pulang sendiri?" tanya Saira khawatir. Anggukan mantap itu akhirnya membuat ia lega.
"Ya sudah kalau begitu, ayo!"
Mereka segera keluar dari sana, Saira dan Aksa masuk ke mobil pria itu. Sedangkan Alyne segera menuju mobilnya. "Hati-hati di jalan, jangan ngebut dan segera pulang!"
Saira melambaikan tangannya pada Alyne yang sudah lebih dulu menjalankan mobilnya. Aksa juga segera mengikuti jejak ban itu membelah malam yang dihiasi cahaya neon.
"Eve, apa aku boleh menanyakan sesuatu?" Aksa akhirnya mengajukan pertanyaan yang sudah lama menganggunya.
"Boleh, emangnya mau nanyak apa?" Saira tampak mendengar dengan serius.
-------
Halo wak-wak ku semuanya, awas ya kalian kalau nggak kasih hadiah, kukutuk kalian jadi kaya raya 🤑🤑🤑
Betewe ni ye, yang suka julid minggir sana. aku sih nggak baper cuma kadang kalau badmood pengen kutelan sampai ekornya 🤣🤣🤣🤣
__ADS_1