Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Sesal itu masih Ada


__ADS_3

Kembali amarah Alvin menguap mendengarnya. Ia mengepalkan kedua tangan dan Izora yang melihat itu tidak berusaha menghentikan. Karena pria itu akan kembali tenang setelah mengetahui kelanjutannya.


"Aku sangat terpukul saat mereka diputuskan harus menikah. Saat itu kami akan bertunangan. Di sanalah kesalahanku hadir Al."


Izora kembali menangis mengingat hal itu, bahunya terguncang dan emosinya meledak. Ia menangis dan Alvin segera membawanya ke dalam pelukan hangat miliknya. Ia tidak ingin lagi gadisnya menangis. Namun, ia juga tahu kalau Izora tidak menceritakannya sampai tuntas, hatinya tidak akan merasa tenang.


"Mereka menikah dan kamu tahu, aku tidak menerima semuanya dan malah menjalin hubungan dengan mantan kekasihku. Kami ... kami selingkuh," ucap Izora kembali menangis.


Alvin semakin memperkuat pelukannya. Ia tahu saat itu gadisnya sangat terluka dan tidak tahu harus melampiaskannya kepada siapa.


"Aku tahu, kamu akan mengira aku sebagai kakak yang jahat, tapi itulah kenyataannya Al."


Alvin menggeleng, "Tidak Zora, kamu bukan kakak yang jahat, kamu hanya seorang kakak yang terluka.


Mendengar hal itu, perasaan Izora menjadi damai. Bukan karena dicap sebagai gadis baik-baik, melainkan Alvin memberinya banyak pengertian. Ia semakin jatuh cinta pada pria itu.


"Bahkan ibuku mengetahui hubungan kami berdua. Awalnya ibu menentang. Namun, aku kembali memohon dan secara terang-terangan kami kembali mejalin tali yang pernah putus oleh semesta. Adikku sampai mengetahuinya."

__ADS_1


"Aku terlalu egois untuk mengukur seberapa dalam lukaku dengan lukanya. Aku terus memberinya sejuta tusukan dari depan dan dari belakang, Suaminya juga melakukan hal yang sama. Kami menyakitinya tanpa ampun."


Napas izora sudah tidak beraturan lagi.


"Mungkin dari semua luka yang kami beri, ia masih mampu menahannya tapi tidak kali ini Al," tangis Izora kembali jebol. Sudah berapa kali ia menangis jika masih mengingat hal itu.


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Alvin, kemarahannya perlahan memudar seiring Izora bercerita.


"Aku mengalami kecelakaan dan kehilangan satu ginjalku sedangkan yang satunya tidak sempurna seperti yang sebelah yang mengalami kerusakan."


"Entah apa yang dipikirkan oleh Saira-ku sampai mengambil tindakan nekat dengan mendonorkan ginjalnya kepadaku."


"Dia baik sekali, pasti sekarang hidup bahagia bersama suaminya." Alvin memamerkan senyumnya.


"Andai semua itu terjadi, aku akan sangat berterima kasih kepada Tuhan."


Alvin kaget mendengarnya. "Apa maksudmu mereka tidak kembali bersama?"

__ADS_1


Izora mengangguk dan mengusap air matanya.


"Tapi kenapa?"


"Karena adikku meninggal saat melakukan operasi pengangkatan ginjal. Ia memiliki riwayat penyakit yang tidak pernah kami ketahui sebelumnya. Kepergiannya meninggalkan banyak duka di hati kami. Penyesalan selalu menghantui, andai saat itu aku tidak bersikap egois Al. Andai aku tidak bersikap begitu jahat, mungkin Saira-ku masih ada bersama kami."


Alvin ikut menangis mendengarnya. Ia tidak tahu jika ada kasih sayang yang begitu besar dari Saira kepada kekasihnya. Ia ikut berterima asih, berkat Saira ia masih bisa dipertemukan dengan kekasihnya.


"Kamu tahu alasan kenapa Mama jatuh sakit?"


Alvin menggeleng.


"Karena kematian Saira-ku. Kasih sayang dan pelukan terakhir yang diminta oleh Saira tidak pernah diwujudkan oleh Mama. Mereka mengabaikan permintaan Saira pada saat aku akan di operasi."


Mendengar hal itu, Alvin semakin terenyuh pada nasib yang dialami keluarga kekasihnya. Mereka seharusnya masih bisa hidup bersama. Namun, egois mengalahkan segalanya.


 

__ADS_1


To be continue ........


__ADS_2