
Riko segera membawa semua bukti kejahatan yang dilakukan oleh Wali serta apa saja yang sudah ia sembunyikan selama ini. Banyak kasus besar yang tiba-tiba hilang begitu saja dan mereka akan membuat komperensi pers untuk menciptakan citra baik di dalam masyarakat. Riko tahu jika banyak pihak yang terlibat termasuk ketua hakim.
Saira dan Romeo segera memecahkan benang merah yang melintang panjang di hadapan mereka. Kasus besar yang selama ini menjerat beberapa pengusaha kaya kembali mencuat dan akan membuat citra kepolisian tercoreng. Namun, bukan itu yang diinginkan oleh Saira karena ia sangat tahu jika yang bersalah bukan polisi tapi orang yang menjabat gelar sebagai komisaris.
"Sayang," ucap Romeo saat mereka sudah berdua di rumah Romeo. Ia sudah sangat merindukan Saira. Sejak menangani kasus mereka jadi jarang bertemu.
"Kenapa? Rindu?" tanya Saira sambil meletakkan tasnya di sofa.
Di sana hanya Romeo yang menghuni rumahnya. Ia menyewa pembantu ya g datang setiap pagi untuk membersihkan rumahnya. Ia ingin memiliki privasi jika sedang berdua dengan Saira karena ia sungguh tidak suka diganggu oleh siapa pun seperti hari ini.
"Aku sangat merindukanmu, semenjak menangani kasus ini kita berdua jadi sibuk."
__ADS_1
Romeo mendekati Saira dan memeluknya dari belakang. Menghirup setiap wewangian yang menjamah kedua hidungnya.
"Aku kangen semua yang ada sama kamu."
"Oh ya?" tanya Saira sambil membalik tubuhnya sehingga mereka saling berhadapan.
Romeo menganguk dan menatap lembut manik Saira yang selalu membuatnya merasa damai. Bola mata sebiru samudra yang menenangkan meski pikirannya sedang kusut masai. Wajah itu perlahan mendekati bibir Saira yang ranum dan terisi penuh. Lipatan yang selalu berhasil membuyarkan kewarasannya. Ia tidak bisa mengabaikan bibir tersebut.
Saira melingkarkan kedua tangannya di leher Romeo lalu memejamkan mata saat bibir mereka menyatu. Saling memangut dan suara decapan mereka memenuhi ruang tamu dan sofa menjadi saksi membaranya cinta di antara mereka.
"Kamu membuatku selalu bersemangat." bisik Romeo dan kembali memangut bibir ranum Saira sebelum melepaskan dengan napas terengah dan mereka saling menatap.
__ADS_1
"Aku tahu," ucap Saira dengan suara sensual dan berhasil membuat Romeo semakin bergairah.
"Apa kamu bisa merasakannya, sudah lama sejak terakhir kali kamu menyentuhnya." bisiknya dengan serak. Saira bisa merasakan sesuatu yang keras menusuk perutnya dan ia tersenyum.
"Aku lelah berada di bawah," bisiknya dan Romeo terkekh dibuatnya.
"Baiklah Kekasihku, aku akan mengalah untukmu."
Romeo segera mengubah posisi mereka dan Saira yang kini berada di atas. Namun, sofa tersebut membuat gerak Saira sangat terbatas, tapi sesuatu dalam dirinya seolah menantang untuk melakukannya. Ia perlahan meraba dada bidang Romeo dan melepas beberapa kancing. Gerakannya yang sensual berhasil membuat Romeo meriang.
"Jangan menyiksaku sayang," ucapnya serak saat sesuatu mulai mendesak keluar dari sarangnya. Celana kerja yang masih ia gunakan sampai membengkak menahan sesuatu dan Saira senang melihatnya. Selesai dengan dada kini tangannya perlahan turun ke pusar dan bermain di sana. Sesekali Saira sengaja menggesek kejantanan Saira dengan miliknya yang masih terlindungi. Rok yang ia gunakan tersingkap hingga memperlihatkan paha putih mulusnya.
__ADS_1
"Sayang, napasku bisa putus kalau kamu terus menyiksaku seperti ini." desah Romeo menikmati setiap sentuhan Saira yang ia rasa sangat tanggung.
------