Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Mengingat Masa Lalu


__ADS_3

Seminggu setelah pemakaman Rita. Aksa kembali bekerja seperti biasa. Proyeknya dengan Saira juga hampir rampung sempurna. Hari ini ia memutuskan untuk libur sehari menenangkan pikirannya yang tampak kusut. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang kingsize. Dulu istrinya sangat suka menempati ranjang ini. Bahkan Aksa selalu memakai bantal beserta guling tanpa pernah mencucinya. Ia takut, jika dicuci semua kenangan Saira akan menghilang.


"Sayang, aku kangen banget sama kamu."


Ia menatap langit-langit dan ingatannya kembali bergulir ke masa di mana ia selalu memaki istrinya. Padahal Saira tidak membuat kesalahan sama sekali. Betapa kejam dirinya di masa lalu. Kini Aksa menyadari kata pepatah. Jangan membenci sesuatu secera berlebihan karena belum tentu dia akan kau benci selamanya.


Ia memutuskan tidur karena sangat lelah dengan kenangan yang coba ia gali. Tidak ada hal menyenangkan yang ia tinggalkan sebagai kenang-kenangan di masa depan.


"Aku mohon Saira, pergi jauh dariku! Aku tidak ingin melihatmu lagi!"


Wajah teduhnya tersenyum menatap ke arah Aksa yang memohon dalam kerapuhan. Ia menyembunyikan segala dukanya untuk membuat orang-orang di sekelilingnya Bahagia.


"Aku akan melakukannya, jangan bersedih lagi! Senyummu akan segera kembali, Kak."


Tubuhnya perlahan menghilang di balik kabut tebal dan Aksa tersadar dari mimpinya dengan napas memburu. Ia menyugar kasar rambutnya. Mimpi itu terus berulang dan membuatnya tidak bisa tidur. Ia bangun dan segera membasuh wajahnya.


"Aku memang laki-laki paling bodoh di dunia ini!" desahnya dengan panjang.

__ADS_1


Di sisi lain, Saira sedang ingin berbagi dengan anak-anak panti. Dulu itu adalah kegiatan yang rutin ia lakukan. Ia bertanya kepada lingkungan sekitar, sekiranya di mana bisa ia menjumpai panti asuhan terdekat. Setelah mendapat alamatnya, ia segera ke sana bersama Alyne dan membawa serta beberapa makanan yang sudah ia paketkan.


"Selamat sore, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya seseorang sesaat setelah mereka sampai di depan panti tersebut.


"Kedatangan kami kemari, untuk memberikan makanan ini kepada anak-anak dalam rangka berbagi."


Wanita tua itu tersenyum dan menyuruh mereka masuk untuk menemui pengurus panti asuhan. Mereka di sana di sambut baik oleh mereka dan dipersilakan duduk. Beberapa anak berlari ke arah mereka.


"Mama," ucap salah satu dari mereka yang diperkirakan berusia lima tahun.


Wajah murungnya membuat Saira tidak tega, ia menyuruh gadis itu duduk di sampingnya.


"Maafkan atas semuanya Bu," ucap Ida tidak enak hati.


"Tidak masalah Bu, sebelumnya perkenalkan saya Evellyn dan ini sekretaris saya Alyne."


"Saya Ida, pengurus panti ini."

__ADS_1


"Kalau boleh tahi, nama pantinya apa ya Bu. Soalnya di depan saya tidak sempat melihat namanya." Saira berujar dengan ramah.


"Rumah Saira Kasih, Bu."


Mendengar nama panti ini, membuat jantung Saira berdetak. Apa maksud dari namanya ada di sini. Atau ini hanya kebetulan saja. Benaknya terus bertanya-tanya.


"Memangnya pemilik panti ini siapa Bu? Namanya seperti asing bagi saya." tanya Saira.


"Ah, ini adalah panti yang didirikan oleh sesorang untuk mengenang almarhum istrinya. Dia bilang istrinya sangat menyukai anak-anak dan panti."


Kembali, Saira merasa nama panti itu adalah namanya. "Boleh tahu siapa nama pemiliknya?"


"Pak Aksa, Bu."


"Baik, terima kasih banyak." Saira tersenyum dan masih belum menyangka Aksa akan membangun panti ini untuk mengenang dirinya. Kenapa pria itu repot-repot melakukan semua itu. Pertanyaan itu terus menggema di kepalanya.


------

__ADS_1


__ADS_2