
"Kau sangat menggoda," ucap Romeo dengan napas terengah.
"Kau juga," ucap Saira sama terengahnya.
"Aku pulang dulu, kalau masih lama berada di sini, aku takut tidak bisa menahannya agar tidak menyerangmu." tunjuk Romeo pada lingganya yang mengeras dan menonjol perkasa seolah siap untuk dilepaskan.
Saira terkekeh mendengarnya, "Kalau begitu selamatnya dia agar tidak menerkamku."
Romeo mengecup kening Saira dan berlalu pergi dari sana.
Hanya dengan ciuman, Saira sudah basah dan ia harus mengganti pakaiannya agar bisa tidur dengan nyenyak. Saira meraih ponselnya yang berada di nakas lalu menelpon seseorang.
"Alyne, bawakan bajuku lengkap dengan underware nya."
Tidak lama setelah panggilan dimatikan, Alyne hadir sambil menyengir kuda dan membawa pesanan Saira di tangan kanan. "Kenapa meminta baju ganti?"
"Apa kau pikir aku akan nyaman tidur dengan baju yang sudah dipakai seharian?" dengkus Saira.
"Bagaimana Pak Romeo?" tanyanya yang terdengar ambogu di telinga Saira.
"Apanya?"
__ADS_1
"Sentuhannya," ucap Alyne terdengar frontal bagi Saira.
Saira sampai terbatuk karena kalimat yang dilempar gadis itu. Apa dia mengetahui mengenai perbuatan keduanya? Saira menjadi sedikit was-was dengan Alyne. Bukan takut karena ketahuan, hanya saja image nya akan rusak di mata gadis itu.
"Aku tadi melihat Pak Aksa menyentuhmu dengan penuh kelembutan."
"Apa maksudmu?" tanya Saira dengan jantung berdetak menggila. Apa sekarang waktu bagi wibawanya runtuh? Ia menggeleng beberapa kali sampai membuat Alyne khawatir. Ia takut Saira sedang kesakitan.
"Apa kamu baik-baik saja?"
"Jelas-jelas kakiku sakit," ucap Saira kesal dan mengambil baju dari tangan Alyne.
Kini Saira paham maksud kalimat Alyne dan menghela napas lega. Ia masih aman untuk sekarang.
"Bantu aku ke kamar mandi."
Alyne dengan telaten penuh membantu Saira berjalan menuju kamar mandi dan menunggu gadis itu di depan pintu. Saira mendesah saat melihat cairannya begitu lengket ia segera mencuci di wastafle agar tidak membekas. Jika sampai dilihat oleh asisten rumah tangga atau paling buruknya Alyne, hidupnya bisa tamat saat itu juga.
"Kenapa tubuhku selalu bereaksi saat Romeo menyentuhku." gumamnya. Sesekali senyuman tersemat indah di bibir indahnya.
Dengan segera ia mengganti pakaiannya ia duduk di toilet duduk agar tidak jatuh. Setelah selesai, ia meletakkan underwarenya ke sebuah tempat agar bisa kering. Lalu memanggil Alyne untuk membantunya keluar.
__ADS_1
"Terima kasih Alyne."
Sekarang bahkan ia tanpa segan mengucapkan kata keramat itu. Alyne tentu saja senang melihat perubahan yang ada dalam diri Saira. Jika dulu, banyak kekosongan terlihat di maniknya yang dingin dan datar. Kini dipenuhi kehangatan.
"Jangan mengucapkan terima kasih padaku, itu semua sudah menjadi tanggung jawabku sebagai sekretarismu. Pak William sudah mengamanahkan tanggung jawabnya kepadaku."
"Aku senang karena Tuhan memberiku gadis sebaik dirimu."
"Aku juga senang karena Tuhan memberiku atasan sebaik dirimu."
Keduanya tertawa mengisi kesunyian malam yang sudah menunjukkan angka sebelas malam. Mereka hanya dua orang asing yang dipertemukan dalam keadaan berbeda. Saling melengkapi dan memahami berujung saling menyayangi antara satu dengan yang lainnya
"Aku akan tidur di sini menemanimu," ucap Alyne tanpa diminta.
"Kau selalu memahami segalanya dan tahu kapan aku akan membutuhkanmu."
"Karena kamu adalah Atasan, teman, kakak dan sahabat bagiku."
Alyne sangat menyayangi Saira begitu pun sebaliknya.
__ADS_1