Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Kemana Saira?


__ADS_3

Romeo mendekati Saira karena raut wajahnya yang berubah tegang saat melihat ponselnya. Dia tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada Saira. Dia segera mengambil ponsel yang dipegang oleh kekasihnya lalu melihat nama pemanggil yang membuat Saira menampilkan ekspresi seperti itu. Romeo kembali menatap Saira.


“Papa,” ucapnya.


“Bagaimana ini?” Tanya Saira sambil menatap bimbang pada Romeo.


“Angkat saja,” ucapnya.


Saira menekan tombol hijau dan panggilan sudah terhubung. Jantungnya ketar ketir bukan main. Terakhir kali dia bertemu sosok paruh baya yang masih tampan meski sudah memasuki usia kepala enam. Saira menetralkan debar jantungnya dan menatap Romeo yang menguatkannya dengan gerakan bibir. Saira menganguk dan mulai mendengarkan kalimat demi kalimat yang perlahan mulai keluar dari bibir pria itu.


“Evelyn, apa Romeo ada di sana bersamamu saat ini?”


Romeo memberikan isyarat gelengan kepala. Saira menganguk paham. “Tidak ada, Pa.”


“Papa mau membicarakan sesuatu sama kamu, ini mengenai Pernikahan kalian yang sempat tertunda.”


“Iya, Pa.”


“Papa mau bertemu sama kamu di Green Restaurant pukul lima nanti, apa kamu bisa?”


“Baik, Pa. Eve akan datang ke sana sama Romeo.”


“Tidak! Papa hanya ingin bicara berdua sama kamu.”


Saira melihat ke arah Romeo yang juga bingung. Bukankah sudah seharusnya mereka berdua hadir karena menyangkut masalah keduanya. “Baiklah, Pa.”


“Ingat, jangan beritahu soal pembicaraan kita pada Romeo.”

__ADS_1


“B-baik, Pa.”


Panggilan pun dimatikan dan Romeo menyimpan banyak pertanyaan di benaknya. Begitu juga dengan Saira yang sama bingungnya. Romeo yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh ayahnya. Apalagi permintaan sang ayah barusan yang terasa begitu janggal baginya. Kenapa dia tidak boleh tahu mengenai pertemuannya dengan Saira. Kenapa harus dirahasiakan jika tidak ada yang disembunyikan oleh ayahnya.


“Kamu nanti datang aja, aku juga akan datang tapi mengamati dari jauh.”


“Ok,” ucapnya.


“Sekarang apa?” Tanya Saira.


“Apalagi, aku ingin bersamamu sekarang dna selamanya.” Kekeh Romeo.


“Dasar gombal.”


“Ini kenyataan yang harus kamu terima Sayang, aku hanya akan mencintai kamu satu untuk selamanya.”


“Kamu bagaikan matahari di siang hari, dan bintang di malam hari. Bagaimana bisa aku hidup tanpamu.”


Saira memeluk Romeo erat. Entahlah, hatinya sedikit tidak tenteram tanpa diketahui penyebabnya. Dia melihat jam masih menunjukkan pukul dua siang. Romeo melepaskan pelukannya dan menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin. Saira juga melakukan hal yang sama untuk membantu Romeo. Tidak terasa keduanya sudah bekerja selama dua jam, jarum sudah menunjuk angka empat.


Dering ponsel Saira kembali menggema, Saira menghentikan kegiatannya dan menyudahi pekerjaannya. Dia melihat ke arah Romeo yang masih terlihat sibuk dengan berkas-berkas penting di tangannya. Bahkan tidak terganggu dengan bunyi ponselnya barusan.


“Romeo sedang fokus, nanti saja kukabari melalui telpon.” Ujarnya dan segera keluar dari sana.


Tepat pukul lima sore, Romeo baru menyadari jika Saira sudah tidak ada di sana. Dia kaget bukan main. Dia segera menghubungi ponsel kekasihnya. Namun, tidak aktif membuatnya cemas.


“Apa mereka sudah bertemu? Kenapa ponsel Saira tidak aktif?”

__ADS_1


Romeo segera menyudahi pekerjaannya dan menyusul Saira ke restoran yang tadi disebutkan oleh ayahnya. Sekitar tiga puluh menit kemudian Romeo sampai di sana dan lekas masuk. Dia menyisir seluruh area tapi tidak menemukan keberadaan Saira dan ayahnya. Padahal seingatnya tempat inilah yang disebutkan dalam telpon.


“Kemana mereka, apa Papa mengubah tempatnya?” tanyanya dalam kebingungan.


Romeo kembali mengambil ponselnya di saku jas dan kembali memanggil Saira. Namun, suara operator yang menyambutnya. Jantung Romeo mulai berdetak tidak karuan karena rasa khawatir tiba-tiba menyelinap masuk tanpa diundang.


“Kemana mereka?” Tanya.


“Maaf, Mas. Ada yang bisa saya bantu?” tanya pelayan dengan senyum ramahnya karena melihat Romeo yang mondar mandir kebingungan.


“Tidak ada.” Tegasnya dan segera pergi dari sana.


Selang beberapa waktu, ponselnya berdering. Kening Romeo mengernyit karena yang sedang menelpon nya adalah sang ayah. Dia lekas mengangkatnya. “Halo, Pa.”


“Apa Eve ada bersamamu?”


Mendengar pertanyaan tersebut membuat Romeo cemas. “Pa, bukannya Eve saat ini sedang bersama Papa?”


“Seharusnya begitu, tapi sampai sekarang Eve belum juga datang. Papa sudah menunggunya lebih dari satu jam.”


“Pa, Romeo tutup dulu panggilannya,” ucapnya dan segera pergi dari sana dengan raut wajah marah.


“Kurang ajar!” makinya dan menjalankan mobilnya ke suatu tempat.


----


Gais maaf lama nggak update.

__ADS_1


__ADS_2