Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Kemarahan Aksa


__ADS_3

Aksa menggebrak meja dengan kasar. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa memiliki karyawan yang tidak kompeten sama sekali. Dengan jabatan setinggi itu, tapi tidak ada masalah satu pun yang beres di tangannya. Kini mereka harus kehilangan salah satu investor yang menjadi incaran para pengusaha. Itu semua karena kelalaian bawahannya.


"Bagaimana bisa ini terjadi, hah!" teriaknya lantang di meja rapat. "Kalian tidak bisa menangani masalah seperti ini!"


Semua yang berada di sana tertunduk diam menerima amukan Aksa. Ini semua memang kelalaian mereka yang salah memprediksi kedatangan investor tersebut. Uniknya, investor tersebut selalu menyamar untuk kengetahui bagaimana citra perusahaan tempat ia akan menanam modal. Lalu kemarin, investor itu datang dengan pakaian sederhana dan diusir dari lobi oleh resepsionisnya dengan kasar.


"Kau!" tunjuknya pada pria dengan kumis tebal. "Apa kau tidak bisa melihat sikap seorang pekerja, sampai menerimanya bekerja di sini hah!"


"Maaf, Pak. Ini tidak akan terulang lagi," ucapnya dengan takut-takut.


"Tentu saja, sekarang kau pecat resepsionis itu atau karirmu yang akan kuhancurkan!"


"Ba ... baik, Pak."

__ADS_1


"Saya tidak mau lagi mendengar ada kesalahan di perusahaan ini. Kalian di sini dibayar mahal, kerja yang becus!"


Selesai dengan kalimatnya, ia segera meninggalkan ruang rapat dengan kemarahan yang sudah di puncak ubun-ubunnya. Ia bahkan menutup pintu ruangannya dengan kasar. Sektetarisnya sampai dibuat menggigil. Aksa duduk di kursi kebesarannya, lalu menutup sejenak kedua matanya. Tawa dan tangisan istrinya selalu terngiang di telinganya.


"Saira, aku kangen sama kamu," ucapnya lirih.


Hanya saat sendirian ia akan menghabiskan waktu untuk mengenang sang istri. Ia akan menangis sampai semalaman jika sedang libur. Bahkan tidak ada siapa pun yang bisa menganggunya. Semenjak kepergian Saira, ia menjadi pria tertutup dan gila akan pekerjaannya. Siang dan malam ia habiskan waktu untuk bekerja. Jika dulu Izora adalah prioritasnya, maka saat ini pekerjaan adalah nomor satu. Ia bahkan sudah lupa dengan rencana pernikahan mereka.


Yang paling menyakitkan dari semua itu adalah, tidak ada kenangan apa pun yang tertinggal. Jika ada sepotong baju, ia akan memeluknya setiap malam. Ia sangat merindukan Saira. Hanya sepotong poto yang tersisa. Itu juga diambil tanpa sengaja dan bentuknya sangat buram. Itu dia cetak dengan ukuran besar dan digantung di ruangannya.


Sebuah ketukan mengalihkan atensinya, ia segera menghapus air matanya lalu kembali memasang wajah dingin.


"Masum!" perintahnya tegas.

__ADS_1


Seorang gadis dengan pakaian yang terbilang sopan, lalu kaca mata besar bertengger di sana. Ia membawa sebuah berkas.


"Maaf, Pak. Ini berkas yang Bapak minta tadi pagi," ucapnya sambil menyerahkan berkas tersebut.


"Ada lagi?" Tanyanya datar tanpa ekspresi.


"Minggu depan, kita akan kedatangan tamu istimew dari Autralia. Perusahaan beliau bergerak di bidang perhotelan. Namun, mereka tertarik dengan konsep perusahaan kita Pak."


"Baik, kau boleh pergi."


Gadis itu pergi dengan jantung berdegup kencang. Bukan karena terpikat ketampanan Aksa, melainkan ia sedang berusaha agar tidak membuat kesalahan. Di antara semua pekerjanya, bagi Aksa hanya sekretarisnya yang bekerja dngan becus. Ia juga sengaja memilih sekretaris yang biasa saja. Ia tidak suka melihat sekretaris dengan label wanita malam.


-----

__ADS_1


__ADS_2