
Mata Tasma membulat sempurna, ia sudah salah mengambil jalan kali ini. Ia harus bisa memutar keadaan agar tidak merugikan mereka. Ia dengan cepat berjalan ke arah Saira dengan mata berkaca-kaca.
Kali ini berkat orang tuanya, ia kembali selamat saat Saira memaafkan Tasma karena melihat ayahnya terlihat memohon. Entahlah, bagi Saira orang tua Evellyn terlalu gampang dibodohi. Tidak heran nyawa putriny sendiri bisa dilenyapkan dengan mudah tanpa menimbulkan kecurigaan. Saira harus membalaskan kematian Evellyn agar gadis itu tenang di alamnya. Ia tidak akan menjadi pembunuh untuk melakukan itu semua. Bukankah, permainan licik dibalas dengan licik?
"Bu, rapatnya akan segera dimulai," ucap Alyne dengan sopan.
Saira menganguk dan segera berjalan menuju ruang rapat. Selama ia menjabat sebagai pemimpin di hotel ini. Semua karyawan yang bersikap tidak sopan tidak ada lagi. Bukan ia mengatakan ayahnya tidak becus mengurus hotel ini, hanya saja hotel ini dipimpin oleh orang yang salah. Yaitu orang kepercayaan ayahnya.
Ia memasuki ruang rapat dengan wajah andalannya. Mata tajamnya menyusuri setiap kursi dan matanya terpaku pada sebuah kursi kosong di ujung ruangan. Ia mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.
"Keluarkan kursi dari ruang rapat setelah saya selesai meeting!"
Suara yang menusuk sampai ketulang, terdengar sangat mengerikan di setiap telinga mereka yang hadir di sana.
"Saya tidak akan mentolerir siapa pun yang bekerja sesuka hati. Ini perusahaan besar, bukan kedai kaki lima yang bisa datang sesuka hati!"
"Alyne, rapatnya bisa kita mulai!"
Selama sepuluh menit, wanita dengan lipstik merah menyala menjelaskan sesuatu yang membuat Saira mengurut pelipisnya. Tatapan tajam tampak mengikuti wanita yang diperkirakan sudah berusia tiga puluh tahun itu.
__ADS_1
"Apa hanya ini yang bisa kau presentasikan?" tanya Saira datar.
Semua yang hadir di sana tampak gemetar dengan proposal yang sedang mereka pegang saat ini.
"Apa kamu pikir metode yang coba kamu terapkan bisaenguntungkan hotel ini?"
"Bisa Bu, metode saya belum pernah dipakai oleh hotel mana pun," ucapnya dengan bangga.
"Kalau begitu, katakan dari mana ide itu mulanya tercetus sampai kamu berani menyampaikannya."
Tampak bibirnya sedikit mulai mengering. Bagaimana bisa ia menjawab sesuatu yang bukan hasil dari pemikirannya. Saira tersenyum dan menggebrak meja dengan kasar. Semua yang hadir di sana tampak sangat kaget melihat reaksi yang diberikan olehnya.
"Jika kau terus melakukan hal seperti ini, maka hari ini juga aku bisa memecatmu!"
"Kalian bekerja di bawah kepemimpinanku, segala peraturan yang kuterapkan harus kalian patuhi, mengerti!"
Gadis itu menjawab dengan nada bergetar. Air mata hampir tumpah saat dirinya dipermalukan oleh Saira. Namun, ia hanya mampu memendam semuanya dengan rapat.
"Rapat hari ini selesai! Jika bahannya masih sampah seperti ini maka kalian semua akan saya pecat!"
__ADS_1
Setelah selesai, Saira keluar diikuti oleh Alyne. Sesampainya di ruang rapat, Saira duduk di sofanya dan mengurut pelipis. Matanya melihat sebuah kalender kecil yang selalu ia letakkan di samping mejanya. Ia bangkit perlahan lalu mengambilnya.
"Besok aku akan pergi ke Indonesia, tempat yang memberiku banyak luka." desahnya.
Ia menekan tombol telpon "Apa tiketku untuk besok sudah dapat?"
"Sudah, Bu."
"Terima kasih Alyne."
"Sama-sama, Bu."
-----------
"Sayang, Mama belum pernah berpisah sejauh ini sama kamu. Apalagi kamu mengunjungi Indonesia selama dua bulan lamanya." Halena tampak sangat sedih mengetahui kepergian putrinya.
"Ma, Eve kesana untuk urusan kerja," ucap Saira pelan.
"Tapi tetap saja Mama tidak akan tenang selama kamu jauh sama Mama."
__ADS_1
"Pa, lihatlah Mama. Usianya sudah tidak lagi muda tapi masih suka merengek seperti ini." Saira mengejek ibunya dengan candaan renyah. Bibir ibunya sampai merengut seperti anak kecil.
---+