
"Yudi, segera musnahkan buktinya, jangan sampai ada yang tahu mengenai hal ini dan ingat, hancurkan tanpa sisa."
"Baik, Pa."
Yudi segera melaksanakan perintah ayahnya dengan segera membakar bukti tersebut. Mereka berdua tersenyum senang melihat hal tersebut karena merasa sudah aman dari malapetaka. Namun, tanpa mereka sadari, malapetaka baru saja akan dimulai.
"Jadi kamu sudah tahu kalau Elca akan mengambil berkas tersebut?" tanya Alyne penasaran.
"Akulah yang menyuruh Elca untuk menyerahkan bukti tersebut dan sekarang gadis itu sedang berlibur ke Bali bersama keluarganya."
Penjelasan Saira membuat Alyne menganga lebar. Ternyata mereka berdua telah bersekongkol tanpa sepengetahuannya. Ia tertawa melihat kekonyolannya. Lagi pula mana mungkin Saira bisa bertindak bodoh, kenapa ia melupakan fakta tersebut.
"Baiklah, aku mengaku sudah terlalu konyol menganggapmu ceroboh."
"Itu hanya bagian dari sebuah rencana, terkadang tidak semua anggota harus mengetahui setiap rencana bukan? Ini namanya menjebak penjahat."
"Kuakui, kamu lebih licik dari mereka." Alyne menatap kagum pada Saira yang sedang melihatnya dengan senyuman maut.
"Jika mau mengalahkan lawanmu, gunakan otak terjahatmu untuk mengalahkan mereka. Selalu dua langkah lebih cerdik dari mereka, hal itu akan membuatmu tidak bisa dikalahkan."
__ADS_1
"Kamu benar, lain kali aku akan belajar darimu."
Mereka berdua merayakan kemenangan semua yang dirasakan Wira dan Yudi. Mereka sangat senang karena mereka berdua akan segera masuk ke dalam lubang buaya. Saira melihat jam tangan indah yang melingkar di tangannya.
"Aku sudah terlambat, aku pergi dulu dan kamu harus menjaga Izora dengan baik." peringat Saura dan segera berlaku dari sana.
"Apa dia begitu spesial?" tanya Alyne penasaran mengenai kepedulian Saira kepada gadis itu. Padahal seingatnya hubungan mereka tidak begitu dekat.
"Jangan banyak bertanya, lakukan saja seperti yang kuperintahkan!"
"Baiklah big bos," ucap Alyne dan segera keluar dari sana. Di lantai bawah ia sudah melihat ruangan teraebut terlihat rapi dan tidak ada lagi terdapat pecahan kaca.
"Seingatku, aku tidak pernah menyewa jasa pembantu," ucapnya.
"Kalian sudah mau pergi?" tanya Izora yang datang dari arah dapur. Di tangannya sudah ada beberapa sarapan dan segera menghias meja makan.
"Apa kau yang membersihkan ruang tamu?" tanya Saira penasaran.
"Iya benar, apa ada masalah?" tanya Izora sedikit menciut. Ia masih mengingat setiap kemarahan yang menyembur dari mulut Saira kepada gadis menyedihkan yang sudah pergi dari runah ini.
__ADS_1
"Tidak, lain kali tidak perlu membersihkan rumah. Kau berada di sini bukan untuk melakukan hal tersebut." Saira menatapnya dengan datar dan segera pergi dari sana.
Alyne menatap Izora dengan tersenyum ramah, "tidak perlu dimasukkan ke hati."
"Apa dia selalu bersikap seperti itu?" tanyanya.
"Tidak juga, kamu hanya belum mengenalnya saja."
"Begitu ternyata, tapi tatapannya selalu datar dan tajam."
"Itu tatapan andalannya setiap bertemu orang baru, tapi dia sangat baik dan perhatian."
Mendengar hal tersebut hati Izora menjadi tenang. Ia juga tahu, tidak semua dari tatapannya mengandung hal yang tidak baik. Terbukti dari bagaimana gadis itu menolongnya saat ia diculik dan sekarang bisa bebas, bahkan begitu memikirkan nasib keluarga serta keselamatannya. Ia tahu satu hal soal Saira, gadis yang menyembunyikan segalanya dengan tatapan tajam.
-----
Ayo lo Wira, Yudi? udah merasa menang aja 🤣🤣🤣 Tuh aku update 4 bab. betewe aku mau bikin kue gais. jadi ini update buat hari ini.
Sedikit pemberitahuan ya, aku nggak malas nulis cuma mager aja 🤣🤣🤣
__ADS_1