Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Mulai Goyah


__ADS_3

Wawa kembali dilarikan ke rumah sakit lantaran kondisinya yang semakin parah. Ia terus mengingau memanggil nama Saira. Hal itu membuat Izora samgat sedih. Andri sendiri hanya mampu melihat istrinya terbaring lemah tak berdaya di ruang perawatan.


"Pa, apa Mama akan baik-baik aja?" tanya Izora sudah mulai goyah dengan keyakinannya selama ini.


Andri membawa tubuhnya ke dalam pelukan dan mengusap lembut rambut panjangnya. "Kita doakan semoga Mama segera sembuh ya Sayang."


"Aku takut, Pa. Aku takut jika harus kembali kehilangan otang yang aku cintai. Ditinggalkan oleh Saira saja rasanya sangat menyesakkan. Aku nggak mau jika harus kehilangan Mama juga." ia menangis dan Amdri berusaha menenangkan dirinya.


"Yakinlah, Mama pasti akan baik-baik saja."


Alvin yang sedang bertugas, melihat Izora sedang berada di depan sebuah ruangan bagi pasien yang gawat darurat. Ia juga melihat seorang pria yang sudah cukup berumur memeluknya dengan lembut.


"Siapa pria itu?" tanya Alvin pada angin yang kebetulan lewat di depannya.


"Apa pria itu pacarany? Tapi rasanya tidak mungkin. Lihatlah wajahnya sudah sangat tua."

__ADS_1


Alvin terus berperang dengan batinnya mengenai siapa pria tua yang sedang memeluk Izora. Ia hanya berdoa semoga Izora dojauhkan dari ciri-ciri wanita oelakor yang sedang musim saat ini dan jujur, membuat Alvin merinding.


Di tempat yang sama, Alsa berlari menemui tempat ibunya dirawat saat ini. Jantungnya sudah memompa dengan menggila akibat kabar tersebut. Saat hendak menuju lorong sebelah kanan, matanya menangkap sosok yang dia kenali.


"Zora, Paman. Ada keperluan apa di sini?" tanyanya saat melihat mata keduanya tampak sangat sedih.


"Mama lagi kritis, Aksa." isak tangis Zora mulai terdengar dan hal itu membuat Aksa ikut merasakan kesedihannya.


"Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Andri sambil melihat ke sekeliling.


"Kasihan Tante, dia pasti sangat kesepian kalau kamu lagi kerja. Nanti akan kutemano di ruangannya selagi menunggu Mama membaik dan bisa dibesuk.


"Terima kasih, Zor. Kalau begitu, aku pergi dulu."


Aksa segera pamit dan pergi menemui ibunya di ruang rawat inap di lorong yang berlawanan dengan Izora.

__ADS_1


"Pa, kenap keluarga kita tidak bisa bahagia, apa ini semua hukuman atas perlakukan kita pada Saira, Pa.",


"Sstt, jangan pernah berkata seperti itu Nak. Semua sudah ditakdirkan oleh yang maha kuasa, sebagai hamba kita hanya menjalaninya saja. Tetaplah yakin dan percaya bahwa semua akan kembali pada tempatnya semula.",


Zora menganguk paham dan mereka kembali menunggu di depan ruangan tersebut selama satu jam lamanya.


"Bagaimana keadaan Mama?" tanya Aksa setelah sampai di ruangan tempat Rita dirawat. Selang infus dan beberapa alat lainnya sudah menghiasi tubuh rentanya.


"Mama, kenapa bisa seperti ini?" tanya Aksa lembut.


"Entahlah, seingat Mama tadi terpeleset di kamar mandi."


"Ya udah, lain kali Mama lebih hati-hati lagi ya."


"Kembalilah ke rumah, dan jaga Mama di sana." pinta Rita dengan suara lemah. Aksa hanya diam tidak menjawab.

__ADS_1


--------


__ADS_2