Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Jebakan Batman


__ADS_3

Saira menelpon Yudi untuk mengajaknya bertemu. Pria itu mengira jika itu adalah Elca dan tersenyum sinis. Siapa yang bisa menolak harta, tahta, dan ketampanannya. Dengan bergegas pergi ia segera menemui gadis itu. Saira sendiri sudah menyiapkan sebuah rekaman di saku Elca. Ia menyuruhnya agar menemui pria itu.


"Kamu yakin?" tanya Elca takut.


"Kamu tenang saja, ini adalah alat perekam yang langsung terhubung kepadaku. Nanti sisanya serahkan kepada Alyne. Yang perlu kamu lakukan adalah mencari bukti yang kuat agar dia tidak bisa lagi mengelak."


"Tapi dia sangat berkuasa, dia bisa saja menyuap para polisi seperti tahun lalu," desahnya.


Saira menatap mantap wajah Elca. "Apa kamu lupa siapa aku?"


Gelengannya membuat Elca tersenyum. "Tentu saja tidak, terima kasih karena sudah mau membantuku sampai sejauh ini. Aku bahkan tidak tahu harus membalasnya dengan apa."


"Balas dengan keberanianmu."


Elca seolah mendapat kekuatan tidak kasat mata setelah mendengar ucapan Saira. Baginya gadis itu adalah malaikat penolong, maka dari itu ia juga harus berani melawan Yudi—pria yang merasa paling berkuasa di sana. Ia berjanji akan membuat Yudi membayar atas semua yang pernah dia alami karena perbuatannua.


"Apa kamu sudah siap?" tanya Saira dengan tegas.


Tidak ada lagi tatapan keraguan, di sana hanya ada tatapan penuh keyakinan. Saira tersenyum melihatnya. Ia berjanji akan membalas pria itu beserta kekasihnya.


"Alyne, apa kamu sudah siap?" tanya Saira dengan senyum mengerikan. Dirinya sudah seperti psikopat yang haus akan darah. Untungnya dia hanya memberantas kejahatan.

__ADS_1


"Siap!"


"Elca, ingat satu hal! Apa pun yang dia katakan mengenaimu, jangan terpancing, kamu harus terlihat alami dan mengorek informasinya dengan dalam. Jangan sampai kamu termakan permainanmu sendiri."


"Baik, aku akan mengingatnya."


"Sekarang pergilah bersama Alyne."


Mereka berdua segera pergi meninggalkan Saira yang sedang menatap ponselnya sambil tersenyum. Nama seseorang tertera di sana.


"Ada apa?" tanya Saira.


Saira segera mematikan panggilan dan segera bersiap untuk pergi memantau semuanya bersama Romeo. Selang lima belas menit kemudian, Romeo sudah sampai di depan rumah Saira. Ia segera menekan bel. Saira segera berjalan membuka pintu sambil menenteng tas kecilnya dan mereka pun meninggalkan area perumahan tersebut menuju sebuah tempat.


"Kenapa kekasihku selalu terlihat sangat cantik." puji Romeo.


"Karena aku memang sangat cantik," ucap Saira sambil tersenyum.


"Saira memang sangat menawan," kekehnya.


"Romeo, kau jangan memanggilku Saira, panggil saja seperti biasanya."

__ADS_1


"Kenapa?"


"Kita tidak tahu siapa yang akan mendengar hal ini," ucap Saira dengan serius.


"Baiklah Tuan Putri, sekarang kita akan kemana?"


"Ikuti saja GPS, aku baru saja mengaturnya ke tempat yang dituju."


Romeo segera mengikuti arahan GPS dan dia tahu letak tempat tersebut. Jika pria itu sudah berani mengusik salah satu pegawainya. Ia akan memberi pelajaran kepadanya dan jika terbukti kejahatannya dilindungi oleh pria tua itu, ia juga akan memberinya pelajaran. Memang dia salah satu pemilik saham tertinggi setelah dirinya. Namun, Romeo bisa melakukan apa pun tanpa terkecuali.


Alyne dan Elca sudah sampai di sebuah tempat makan dan mengambil ruang private, jantungnya berdegup kencang, bagaimana jika pria itu mencoba kembali untuk melecehkannya seperti sebelumnya. Namun, usapan lembut di bahunya menjadi penenang.


"Elca, terkadang untuk meraih kebebasan, kita harus berani berjuang!"


"Kamu benar, Alyne. Aku harus lebih berani."


"Bagus, kalau begitu pergilah."


-------


Hayo Lo, gais berhubung hari ini aku sangat bahagia karena ehem ehem....

__ADS_1


__ADS_2