Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Malu atau Gengsi


__ADS_3

"Papa, apa yang...," ucapnya terhenti saat sebuah tamparan melayang tepat mengenai pipinya sampai menciptakan warna kemerahan.


"Dasar anak tidak tahu diri! Apa yang sudah kamu lakukan dengan kedua perempuan ini, hah!" teriaknya dengan menggelegar.


"Pa, ini tidak ...," ucapannya segera dihentikan oleh Wira.


"Kalau kamu membuat onar lagi, Papa tidak akan segan mengirim kamu ke dalam penjara. Kali ini kamu selamat karena Pak Romeo masih memaafkan atas perbuatan kamu karena masih menghormati Papa."


Wira menatap kedua pria dengan tubuh tegap yang sedang menunduk takut. "Apa kalian tidak ada pekerjaan selain melakukan hal seperti ini? Keluar!" hardiknya.


Mereka segera keluar dan Wira menatap Elca dengan wajah memerah. Ia sangat malu karena sebagai atasan dari gadis itu, ia sudah salah dalam mendidik putranya yang minim moral.


"Elca, maafkan saya karena sudah gagal mendidik putra saya sampai melakukan hal tidak baik kepadamu. Jujur, saya tidah mengetahui tabiatnya yang seperti itu."


"Bapak tidak perlu meminta maaf, karena yang salah di sini bukan Bapak."


Wira tetap menggeleng dan merasa tidak pantas untuk tetap menatap gadis tersebut. Ia sungguh sangat merasa malu. Wira kemudian beralih ke arah Romeo dan Saira. "Saya juga minta maaf kepada kalian berdua. Sebagai pemilik dari perusahaan tempat saya bekerja, Pak Asthon sekali lagi maafkan saya yang sudah lalai."


Saira tidak menanggapi pria itu. Sangat aneh baginya jika seorang ayah tidak tahu bagaimana tabiat anaknya. Kecuali pria itu tidak tinggal sama sekali dengan Yudi. Tapi setahu Saira mereka berdua tinggal satu atap. Ia juga memperhatikan kedua tangannya mengepal erat. Wajah merah tampak bukan seperti rasa malu, melainkan amarah yang sedang coba dia tahan.

__ADS_1


Senyumnya juga terlihat palsu dan tidak benar-benar tulus. Apa yang dia sampaikan tidak sesuai dengan apa yang ada dalam hatinya.


"Tidak masalah Pak, saya senang karena Pak Wira tidak seperti yang orang lain sampaikan."


"Saya senang Pak Asthon tidak mudah mempercayai perkataan orang lain mengenai saya, kalau begitu saya permisi."


Sebelum keluar dari sana Wira sempat menatap tajam Elca yang sedang tersenyum lega. Semua interaksi tersebut tidak luput dari pengamatan Saira.


"Pria itu, sedang menyimpan sesuatu Romeo, kita harus hati-hati."


"Apa maksudmu?"


"Pak Wira, dia tidak benar-benar menyesal atas tindakan Yudi."


"Kenapa kamu bisa menyimpulkan seperti itu?" tanya Romeo penasaran.


"Setiap yang dia ucapkan tidak sesuai dengan fakta. Ia berbohong dengan segalanya. Banyak amarah yang tersimpan dalam tatapan serta genggaman tangannya. Kamu harus hati-hati."


"Maksudmu Pak Wira tidak benar-benar meminta maaf?" tanya Elca.

__ADS_1


"Benar! Dia bahkan menatap tajam kearahmu sebelum dia keluar. Aku yakin, kau sedang dalam masalah besar sekarang Elca."


Gadis itu kembali gemetar dengan apa yang baru disampaikan Saira. Jika benar begitu maka hidupnya akan segera tamat.


"Romeo, kita harus membuat Elca selalu berada dalam pengawasan." Saira menatap Romeo serius.


Kini Saira beralih ke hadapan Elca yang gemetar. "Bukankah kau bilang jika mereka memiliki kekuasaan?"


Elca mengangguk.


"Apa kamu tahu kekuasaan mereka seperti apa?"


"Yudi selalu di temani oleh beberapa pria berbadan besar dan sangat menakutkan." alis Elca mendadak berkerut saat mengingat sesuatu.


"Mereka lebih terlihat seperti preman dari pada bodyguard."


Jika memang begitu, maka kecurigaan Saira tidak melenceng sama sekali.


--------

__ADS_1


__ADS_2