Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Panti Asuhan


__ADS_3

"Beruntung sekali siapa pun yang menjadi istri Pak Aksa, cinta beliau sangat besar untuk mendiang istrinya." Ida terlihat sangat menghayati kisah itu.


Saira sendiri tersenyum miris, kenapa sesuatu baru diagungkan saat sudah tidak ada lagi. Apakah untuk mendapatkan sebuah cinta dan pengakuan, ia harus mati ribuan kali. Dunia macam apa yang sedang ia tinggali saat ini.


"Eve, kita sudah setengah jam di sini, ayo kita kembali!" ajak Alyne. Saira tersenyum dan menatap gadis kecil itu dengan sayang.


"Sayang, Tante pulang dulu ya. Kapan-kapan akan main ke sini lagi."


"Janji kan?" tanyanya. Saira menganguk dan gadis itu segera memeluknya dengan erat.


"Gadis pintar," ucap Saira sambil mengelus rambutnya yang sedikit ikal sebelum gadis itu pergi.


"Bu Ida, kami harus segera pulang. Tolong dibagikan pada anak-anak. Maaf karena saya tidak bisa memberinya secara kangsung."


"Tidak apa-apa Bu Eve, saya dan anak-anak sudah sangat senang dengan kedatangan Ibu berdua, sekali lagi terima kasih banyak."


Mereka berdua segera meninggalkan panti asuhan dengan ekspresi yang berbeda. Saira dengan pikiran bercabangnya sedangkan Alyne dengan gambaran penghuni pantinya.


"Mereka sangat polos kan?" tanya Alyne tanpa sadar.


"Apa kau teringat pada mereka?"


"Bukan, aku juga dulu pernah merasakan tinggal di panti asuhan. Ada saatnya senang, dan sedih. Berbagai perasaan bisa muncul kapan pun di mana pun tanpa di undang."

__ADS_1


"Lalu kapan kamu bertemu sama nenekmu?"


"Saat usiaku sepuluh tahun."


"Aku sangat sedih mendengar kisahmu Alyne. Dari kecil kamu tidak pernah merasakan kasih sayang seorang dari orang tuamu." desah Saira.


Berbeda jauh dengannya, ia hidup dalam lingkungan penuh kasih sayang. Namun, semua berubah saat ia memutuskan menikah dengan pria yang menjadi tunangan kakaknya.


"Hidup kadang memang kejam Alyne. Ada saat di mana dunia terasa indah. Tapi bisa berubah dalam sekejap."


"Kamu benar akan hal itu, entah kenapa aku masih bernapas hingga saat ini." desah Alyne.


"Kalau kau mati, kapan waktumu menikmati hidup. Jika mereka menelantarkanmu bukan berarti kamu akan mati kan? Hukum alam selalu berlaku. Gunakan itu untuk mengobati lukamu." ceramah Saira.


"Apa yang paling kau inginkan di dunia ini Alyne?" tanya Saira penasaran.


"Keluarga, hanya itu yang kuinginkan Eve." gumamnya lemah. "Kalau dirimu?"


Saira menarik napas dan mengembuskan perlahan. "Kebahagiaan, hanya itu yang kuinginkan selama ini."


"Bukankah kamu sudah mendapatkannya? Kulihat Nyonya sangat baik, kemudian Tuan besar juga sangat baik. Apa aku salah menilai mereka?"


"Memangnya kebahagiaan itu hanya datang dari keluarga saja?"

__ADS_1


"Lalu?" tanya Alyne penasaran. Ia mengalihkan pembicaraan.


"Dulu, temanku pernah mencintai pria yang sudah bertunangan dan kau tahu, rasanya sangat menyakitkan untuk diingat."


Alyne mendengarkan dengan serius, "Lalu apa yang terjadi selanjutnya?


Saira melihat mata Alyne dan tersenyum miris. "Apalagi kalau bukan penderitaan."


"Miris sekali hidupnya, apa dia teman yang kamu ceritakan tempo lalu?"


"Iya, kau benar!"


"Lalu bagaimana endingnya? Apa suaminya kembali membalas cintanya? Aku sangat penasaran."


"Pria itu memang kembali membalas cintanya."


"Aku suka happy ending. Semoga mereka langgeng sampai sekarang." doa Alyne sambil minum dan Saira teetawa miris.


"Cintanya tumbuh saat istrinya sudah meninggal."


Alyne terpaku mendengar kalimat terakhir yang Saira ucapkan.


 

__ADS_1


__ADS_2