
Saira memacu mobilnya dengan kecepatan sedang. Ia berhenti di lampu merah dan melihat suasana sekitar. Masih sama seperti dulu. Jakarta masih macet, hanya saja hari ini tidak begitu sesak. Sebelum pulang, ia memutuskan mampir ke apotek yang ada di depan rumah sakit tempat terakhir ia dirawat.
"Selamat datang, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" tanya salah satu pekerja di sana.
"Saya butuh obat tidur dan paracetamol."
Gadis dengan tubuh tinggi itu segera menyiapkan obat yang diminta Saira. "Ini Bu, diminum sesuai anjuran ya."
Saira mengangguk dan segera melangkah pergi dari sana. Bertepatan dengan Danu yang keluar dari rumah sakit. Keduanya saling bertatapan dengan lama. Bagi Saira, pria yang kini berdiri di depannya tidak layak disebut Kakak. Ia menatap dengan datar dan hendak masuk ke mobilnya. Namun, tangan Saira menghentikan dengan segera.
"Apa Anda yang bernama Evellyn?" tanya Danu tajam. Ia sudah sangat geram apalagi saat melihat tatapan yang terlihat tidak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.
"Ya benar, ada keperluan apa?" Saira melipat tangan ke dadanya dengan angkuh.
"Tolong jaga lidah Anda dengan baik, jangan berbicara sembarangan kepada seseorang yang tidak Anda kenal!"
__ADS_1
"Mohon maaf, saya tidak tahu kenapa Anda berbicara seperti itu!"
"Saya anak dari wanita yang tadi ziarah ke makan adik saya! Sudah ingat?" desisnya tajam.
Saira tertawa kecil lalu menatap menantang Danu tanpa merasa takut sedikit pun. "Oh, soal itu, saya rasa tidak ada alasan untuk marah, karena apa yang saya katakan benar adanya."
"Meskipun begitu, Anda tidak berhak ikut campur masalah keluarga saya, karena Anda bukan siapa-siapa!Gara-gara tindakan Anda yang kurang ajar, ibu saya sampai drop dan harus dirawat di rumah sakit."
"Saya memang bukan siapa-siapa tapi, bagi Saira saya adalah saudara, keluarga dan sahabat tempat dia bersandar!"
Kalimat itu berhasil membuat Danu mematung di tempat. Ia tertohok dengan apa yang diucapkan oleh gadis yang kini menatapnya mengejek. Izora benar, semua memang faktanya dan dia kalah.
Danu diam tidak menjawab. Memangnya apa yang bisa dia banggakan sebagai kakak dari Saira. Bahkan ia ikut menyakiti adik kecilnya sampai akhir hayat.
"Sebelum Saira meninggal, dia meninggalkan pesan pada kalian semua kan? Tidak perlu merasa bersalah apalagi menyesal. Karena Tuhan tidak mengizinkan dia lebih lama bersama kalian."
__ADS_1
Setelah selesai dengan kalimatnya. Ia segera pergi dari sana meninggalkan Danu dengan semua kenangan di masa lalu. Meski gadis itu mengatakan untuk tidak menyuruhnya merasa bersalah. Tetap saja perasaan itu selalu hadir tanpa diundang. Ia memilih keluar kota untuk menyembuhkan lukanya. Luka yang hadir karena rasa bersalah.
Ia kembali ke rumah sakit dengan tatapan kosong. Izora yakin kakaknya sudah bertemu dengan Evellyn dan mendesah.
"Izora, apa kejahatan kita sama Saira tidak bisa dimaafkan? Rasanya perkataan dia sangat menusuk, bahkan aku tidak bisa membalas ucapannya. Aku mematung sedangkan dia menatap mengejek."
"Entahlah, kita memang bersalah pada Saira, seharusnya kita tidak melakukan hal yang pada akhirnya membuat rasa sesal."
Sedangkan Saira segera pulang ke rumahnya dengan perasaan campur aduk. Ia teringat dengan ucapan Danu mengenai kesehatan ibunya. Ia tahu sudah bersikap kurang ajar, tapi hatinya sudah lama menjerit dan tidak akan pernah puas sampai ia melepaskan semuanya.
"Eve, kenapa pulangnya lama banget. Aku khawatir." Alyne menyambutnya setelah ia sampai di rumah.
Saira masuk tanpa menggubris Alyne sama sekali. Ia butuh menenangkan pikiran dan menyendiri. Sebelum masuk ke dalam kamar ia berbicara pada Alyne yang menatapnya bingung.
"Jangan menggangguku!"
__ADS_1
-------------
Jangan salfok sama judul gais 🤣🤣🤣 aku lagi mau menghilangkan stres dengan kalian ekwkwkwkwk. Tapi aku berharap kalian jangan ikutan stres ya nanti gk ada lagi prmbacaku yang waras kan nyesek aku. Cukup aku aja yang sedikit nggak waras hahahahaha. Guys inilah aku kalau dilanda sesuatu yang membuat mood ambyar aku suka ngoceh wkwkwkwkw aku gk pandai jaga image biar keliatan berkelas, lebih suka dikenal apa adanya eakkkk