
"Sayang, hei." Romeo memanggil Saira tapi tidak ada jawaban. Ia perlahan mulai merasakan suhu tubuh kekasihnya panas.
"Ya Tuhan, badanmu sangat panas. Sayang," ucap Romeo. Ia perlahan menarik miliknya tapi Saira menahannya.
"Aku ingin kau berada dalam diriku sebentar lagi." bisik Saira lemah.
Romeo yang sudah mencabut setengah, kini perlahan memasukkan kembali meski ia mengerang. Milik Sara terus mencengkram kuat miliknya. Ia selalu mendamba hal itu.
"Terima kasih, aku sangat bahagia karena Tuhan masih memberiku kesempatan untuk bersamamu." bisik Saira.
"Sayang, ada apa denganmu?" tanya Romeo lembut.
"Aku hanya ingin lebih lama bersamamu. Aku tidak ingin kejadian terakhir kali memisahkan kita lagi."
Perlahan isak tangis Saura mulai terdengar. Romeo segera menenangkannya sambil mengusap punggung Saira lembut.
"Tidak akan kubiarkan semua itu terjadi lagi sayang."
__ADS_1
"Romeo," ucap Saira sambil mengangkat kepalanya. "Jangan pernah meninggalkanku lagi, aku bisa mati tanpamu."
Romeo mengubah posisi mereka menjadi berbaring. Ia mendekap tubuh Saira yang masih panas. Apa yang sebenarnya dipikiran Saira sampai membuatnya demam.
"Sayang, atas keberadaan putera kita, aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Sekarang tidurlah."
"Aku takut tidur, terakhir kali kau menghilang saat aku memejamkan mata."
Romeo sangat terenyuh melihat Saira yang tidak seperti biasanya. Berapa kali kekasihnya memimpikan hal yang tidak menyenangkan seperti ini. Karena mereka hanya berbaring di sofa. Romeo perlahan melepaskan penyatuan mereka untuk mengangkat Saira ke ranjang. Gadis itu terlihat meracau dan menangis.
"Sayang, ada apa denganmu? Kenapa kamu sangat takut jika kulepaskan."
Setelah itu, Romeo pergi ke apotek yang berada tidak jauh dari apartemennya. Saira membuka matanya perlahan dan tidak menemukan keberadaan Romeo di sana. Ia bangkit perlahan dan mencari Romeo dengan langkah sempoyongan. Ia berteriak memanggil Romeo tapi tidak ada balasan.
"Romeo, Romeo!" teriak Saira. Tangisnya mulai menggema mengisi ruang tamu.
Saira juga tidak melihat ada aktivitas mereka selesai penyatuan. Sofanya sangat bersih. Ia yakin, semua hanya mimpi. Melihat kenyataan tersebut Saira jatuh terduduk dengan bahu bergetar. Ia meringkuk di pojok ruangan dan terus menangis.
__ADS_1
Romeo yang sudah selesai membeli obat, dibuat heran karena Saira kini berada dipojok ruangan. Ia mendekati Saira dan segera memeluknya.
"Ssttt! Sayang, maaf karena meninggalkanmu. Aku membeli beberapa obat untukmu."
Mendengar itu, Saira mengangkat wajahnya dan ia terus menangis kencang sampai sesugukan. "Aku tidak membutuhkan semua obat itu, aku hanya membutuhkanmu."
"Maaf, Sayang."
"Aku hanya membutuhkanmu di sisiku, jangan lagi tinggalkan aku Romeo." isaknya.
Romeo menggendong tubuh Saira ke kamar. Merebahkan dan menemani gadis itu sampai ia tertidur. Setakut itukah Saira kehilangannya. Ia menjadikan tangannya sebagai bantalan Saira. Saira memeluk erat tubuh Romeo seolah tidak ingin lagi ditinggalkan. Romeo membelai lembut rambut panjang Saira.
Ponsel Romeo bergetar, Alyne menelpon dengan khawatir. Ternyata gadis itu sudah memanggil 20 kali tapi tidak dia jawab karena tidak tahu.
"Ada apa Lyn?" tanya Romeo saat panggilan diangkat.
-----
__ADS_1
Gais maaf baru update, aku baru pulang berobat wkwkwkqkq.