Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Taring Mematikan


__ADS_3

"Tidak makan?" tanya Alyne saat keduanya bertemu di lobi.


"Aku akan makan bersama Romeo, dia sudah menungguku di mobil."


"Ya sudah, pergi sana nanti dia menunggu."


"Aku pergi dulu," ucap Saira dan kembali berjalan. Sebelum Alyne benar-benar memasuki lift. Saira segera mengatakan mengenai Elca. Ia berharap Alyne mampu membujuknya. Jika tidak maka gadis itu akan selamanya menjadi budak nafsu pria.


"Awasi Elca, gadis itu sedang dimanfaatkan oleh seseorang."


"Kupikir hanya aku yang berpikir mengenai hal ini," ucap Alyne. "Baiklah, aku akan mengawasinya."


Saira segera pergi menuju sebuah mobil yang sudah menunggunya di depan. Pria itu keluar dan membuka pintu mobil. Banyak mata yang menatap dengan rasa iri. Mereka berharap berada di posisi Saira saat ini.


"Silakan masuk calon istri."


"Terima kasih," ucap Saira tersenyum manis.


"Sama-sama calon istri."


Saira menggeleng melihat kelakuan Romeo.

__ADS_1


Mereka segera pergi dari sana. Sepanjang perjalanan Saira tampak tidak seperti biasanya. Romeo menyadari ada sesuatu yang sedang dipikirkan oleh kekasihnya.


"Sayang, apa ada yang menganggu pikiranmu?" tanya Romeo lembut.


Saira menatap Romeo dengan dalam. Ia harus mengatakan hal ini kepada Romeo, jika ia merahasiakan masalah ini maka, Elca akan hidup sengsara selamanya. Meski mulutnya mengatakan tidak akan peduli, tetapi Saira tidak bisa mengabaikan nasib gadis itu. Selama ini dirinya begitu tulus dan tidak seperti wanita lainnya. Betapa jahat pria yang memanfaatkan kelemahan seorang wanita demi keuntungan semata.


"Aku sedang memikirkan Elca, dia sedang ada masalah besar dan tidak tahu harus meminta pertolongan pada siapa. Dia sangat tertutup karena sudah diancam oleh pria itu."


"Apa masalahnya?" tanya Romeo.


"Aku hanya melihat dengan sekilas tapi ada satu kata yang sempat kubaca saat aku mengambil ponselnya."


"Apa isinya?" tanya Romeo dengan penasaran.


"Satu lagi, ada banyak memar di tubuhnya. Itulah alasan kenapa selalu memakai baju panjang. Tangannya penuh lebam, saat ditanya ia hanya mengatakan terkena penyakit yang menyebabkan kulitnya rentan kena memar."


"Sepertinya masalah itu sangat serius." timpal Romeo.


Mereka sudah sampai di sebuah restoran tempat mereka akan makan siang dengan klien. Di sudut ruangan sudah ada satu yang menunggu keduanya.


"Nanti akan kita lanjutkan pembahasannya."

__ADS_1


"Apa itu klienmu?" tanya Saira sambil menatap seorang pria.


"Sepertinya begitu, ayo ke sana!"


Saira dan Romeo segera mendekat ke sana dan segera duduk setelah basa basi.


Saira memperhatikan pria itu, matanya yang tidak fokus pada apa yang Romeo jelaskan saat mereka sedang menunggu sajian. Matanya terus menatap ke arah Saira yang menatapnya balik dengan tajam. Wajah penuh aura dingin dan datar membuat Saira semakin terlihat cantik di matanya.


"Bagaimana Pak Yudi? Apa Anda ada saran atau bantahan?" tanya Romeo setelah menjelaskan semuanya.


"Pak Yudi?" tanya Romeo dengan bingung.


"Ah, maaf, saya sedang tidak begitu fit tapi menurut saya semua yang Anda katakan sangat bagus, Pak Asthon."


Selama Romeo menghadiri sebuah pertemuan dengan klien, ia tidak pernah dilakukan seperti ini. Apa pria itu tidak tahu jika waktunya sangat berharga jika hanya dihabiskan dengan mendengarkan alasan pria itu. Bahkan tidak mengetahui dengan jelas apa yang ia katakan barusan.


"Maaf, Pak Yudi, jika Anda meganggap pertemuan ini sebagai lelucon, maka Anda sudah sangat salah besar!"


Saira akhirnya bersuara dengan tajam penuh penekanan.


 

__ADS_1


Keluar dah taringnya si Saira.


__ADS_2