
William menatap tajam wajah Saira yang tidak terintimidasi sama sekali. Halena tampak menggenggam lembut tangan suaminya. Masalah yang ada di rumah ini adalah, ayah Evellyn yang terlalu gampang diperdaya oleh adiknya sendiri. Ia sekarang mulai mengerti, kenapa Evellyn tidak ingin berjuang kembali.
"William, jika suamiku belum meninggal, hidupku tidak akan seperti ini. Hidup di antara kalian tapi aku kami seperti orang asing." isaknya masih terdengar. Namun, Saira tahu semua itu hanya dusta belaka.
"Eve, minta maaf sama Bibimu sekarang!" perintahnya dengan tegas.
"Papa tidak mau mendengar versiku dulu?" tanya Saira santai.
"Eve, Papa tidak perlu mendengar lagi karena semuanya sudah jelas."
Saira tertawa mendengar ucapan William, sungguh terbuat dari apa hati ayah Evellyn sampai lebih mempercayai Tasma dari pada putrinya sendiri. Ini sungguh menarik.
"Evellyn Ophelia! Minta maaf sekarang juga!" perintah William dengan nada oktaf tinggi, Halena sampai terkejut dengan suaminya.
__ADS_1
"Sabar, ingat jantungmu." Halena mengelus pelan pundak suaminya dan menatap Saira dengan memberi kode agar Saira menuruti kemauan ayahnya.
"Kalau kamu tidak mau diatur, Papa akan mencabut jabatan kamu besok!" ancam William dengan marah.
Tasma dan Chloe tampak terkeut mendengar ucapan William. Namun, mereka senang karena rencana mereka ternyata berhasil. Tidak sia-sia dia menangis, ia melihat ke arah Saira yang terlihat sangat syok dengan ucapan William barusan. Sudut bibir Tasma tersenyum sinis melihat betapa tidak berdayanya Saira di hadapan sang ayah.
Saira teekejut dengan kalimat William barusan. Ia tidak habis percaya dengan smua yang dia saksikan barusan. Sampai ia tidak bisa membendung tawanya yang perlahan menggema di ruang dengan nuansa cokelat muda. Hal itu membuat mereka mengernyit bingung, terutama Tasma. Ia mulai berpikir jika Saira pasti gila karena kalimat tersebut.
"Papa pasti bercanda ya kan?" tanya Saira masih dengan tawanya.
Saira menghentikan tawanya, tatapannya kembali seperti semula. Ia menatap mereka semua dengan tajam, bahkan ibunya. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar untuk mengambil sesuatu. Setelahnya ia kembali ke sofa. Ia menyerahkan sebuah dokumen beserta kunci mobil dan beberapa fasilitas lainnya.
"Papa tidak perlu mengancamku, aku akan mengembalikan semuanya dan ya, aku juga akan meninggalkan rumah ini selamanya. Tapi ingat satu hal Pa, jangan pernah menemuiku sampai aku mati karena aku tidak akan pernah mengijinkannya!"
__ADS_1
"Evellyn!" teriak William dengan mata memerah.
"Jangan berteriak kepadaku, Pa!" Saira menyerahkan dokumen itu ke hadapan William. "Inikan yang Papa mau, ambil semuanya Pa."
Saira pergi dengan amarah yang membuncah. Bagaimana bisa seorang ayah melakukan hal semacam itu pada putrinya sendiri. Saira segera mengemasi semua barang yang ia perlukan. Ia akan kembali ke Indonesia dan memulai hidup baru. Ia tidak peduli lagi dengan keluarga Evellyn yang sudah membuatnya kesal. Terutama ayahnya yang tidak mendengarkan permasalahn dari dua sisi.
"Nak, Eve!" panggil Halena.
William menatap semuanya dengan hambar. Ia menyugar rambutnya kasar. Bahkan sekarang putrinya yang balik mengancamnya. Jika sudah seperti ini, dia tidak akan bisa berkutik sama sekali. Sedangkan Tasma dan Chloe sudah meraih kemenangan mereka. Ia mengusap bahu William dengan pelan.
"William, kamu sabar ya, entah kenapa Eve menjadi anak yang kurang ajar sekarang."
"Diam! Pergilah!" usirnya dengan tegas. Ia perlu menjernihkan pikirannya agar tidak kusut seperti sekarang.
__ADS_1
--------