Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Sakitnya Diabaikan


__ADS_3

Aksa membanting ponselnya saat Saira tidak lagi mengangkat panggilannya. Beberapa kali ajakan makan malam ditolak bahkan sekadar jalan berdua pun gadis itu menolak.


"Eve, kenapa mengabaikanku sekarang?" Pertanyaan yang hanya akan terjawab jika ia menemui gadis itu.


Banyak spekulasi berkeliaran di kepalanya. Namun, tidak sampai merayap ke mana-mana. Cukup sekali ia kecolongan wanita yang dia cintai, kali ini bagaimana pun caranya Eve .harus ia dapatkan.


"Eve, kamu di mana? Kenapa mengabaikan panggilan dan pesanku."


Ia menunggu sampai satu jam tidak ada balasan, ia juga mengirim pesan ke email dan tanpa jawaban.


"Eve kamu kemana sih?" tanya Aksa.


Terakhir mereka bertemu adalah saat makan malam di restoran waktu itu dan tidak pernah lagi mereka bertemu. Bahkan pesannya juga diabaikan oleh gadis itu. Lalu ia menepuk keningnya, ia lupa jika gadis itu sudah kembali ke Australia beberapa minggu yang lalu.


"Jika dia sudah kembali, kenapa nomor Indonesianya masih aktif, apa dia memberikan pada orang lain? Tidak mungkin."


Kembali berbagai pikiran berkecamuk di kepalanya.


Sebuah pesan masuk dari orang yang tidak begitu penting baginya. Kemudian dari Izora.


"Mama sakit parah, dia ingin ketemu sama kamu."

__ADS_1


Aksa segera bersiap dan menuju rumah sakit tempat mertuanya dirawat. Ia sangat menyayangi wanita itu seperti ia menyayangi ibunya sendiri. Mendengar kabar itu, sangat menyakitkan baginya.


Izora terduduk lemas di depan ruang rawat sang Ibu. Mata lelah, pipi tirus dengan badan kurus menatap kedatangan Aksa.


"Di mana Mama?"


"Ada di dalam, masuklah."


Dia memasuki ruangan dan disajikan pemandangan menyakitkan, banyak alat yang menempel di tubuh yang sudah mulai ringkih di makan usia dan penyakitnya. Kesehatan yang mulai menuru semenjak kepergia Saira.


"Mama," panggil Aksa, mata yang tidak lagi berbinar saat menatapnya. Mata yang tidak lagi bergairah.


"Maafkan Aksa, Ma. Karena sudah mengabaikan Mama."


Wanita itu tersenyum lembut. "Mama tahu kamu pasti sangat sibuk."


"Mama sangat senang, karena akhirnya akan segera bertemu dengan putri Mama."


"Ma, jangan mengatakan hal seperti itu, Mama pasti akan sembuh. Aksa janji akan membawa Mama ke mana pun Mama mau, ya."


"Mama bisa merasakan kalau usia Mama tidak akan lama lagi."

__ADS_1


Izora yang mendengar percakapan keduanya memilih pergi dan berlari menuju taman. Di sana ia menangis tergugu saat jam sudah menunjukjan pukul dua belas. Tidak ada siapa pun di sana selain dia. Bagaimana ia akan menjalani hidup jika harus kehilangan ibunya. Wanita yang sangat ia cintai, wanita yang sudah berjuang untuknya. Kenapa Tuhan tidak memberi waktu yang banyak untuk melakukan hal yang sama. Ia akan berjuang untuk kesembuhan sang ibu.


"Tuhan, izinkan aku berjuang untuk Mama sekali lagi, jangan ambil secepat itu. Aku mohon kepadamu." isakan tidak mampu ia tahan.


"Aku bisa bertahan jika harus kehilangan pria yang kucintai, tapi tidak dengan wanita yang kucintai, dia segalanya Tuhan. Izinkan aku berjuang lebih lama lagi, aku tidak peduli jika harus menjual segalanya termasuk diriku."


Alvin yang saat itu melewati area taman, melihat sosok Izora sedang menangis sendirian. Ia mencoba mendekati dan dadanya berdesir ngilu saat tangis itu tidak kunjung reda. Bahkan sayatan di setiap kalimatnya berhasil membuatnya ikut merasakan kesedihan. Perlahan ia mendekat dan memegang bahunya.


"Kenapa menangis, hm?" tanya Alvin lembut.


Seolah tidak ada lagi yang bisa di jadikan sandaran. Izora memeluk tubuh tegap Alvin dan menangis dalam dekapannya. Semua beban yang ditanggungnya selama ini lepas begitu saja di dada bidang yang kokoh.


"Menangislah, selamatkan hatimu, bagi bebanmu bersamaku."


Alvin mengelus pucuk kepala Saira. Gadis yang pertama kali ia temui tidak sekurus saat ini. Bahkan matanya yang dulu berbinar kini sudah redup di makan kesedihan akan ditinggalkan.


"Alvin, aku rasanya ingin mati, aku ... aku sangat takut kehilangan Mama." Isaknya. Alvin bisa merasakan segalanya dan ia ikut menangis.


-------


Bagaimana rasanya diabaikan?

__ADS_1


__ADS_2