
"Apa? Kenapa bisa seperti itu, oke besok pagi saya akan segera ke sana. Tolong kalian oantau untuk sementara waktu."
Aksa segera mematikan panggilan tersebut dan beranjak ke kamarnya. Ia butuh merehatkan tubuhnya agar besok bisa melakukan aktivitas yang mungkin akan menguras tenaga dan pikirannya.
---------
Saira menatap langit malam dari luar jendela, bulan terlihat bersinar dengan terang. Sudut bibirnya tersenyum kecil saat mengingat masa lalunya. Kebiasaannya sejak dulu, ia sangat suka mengintip cahaya rembulan dari kamar. Gorden yang menutupi cahaya luar, selalu ia buka agar cahaya indah itu bisa masuk dan menyinari kamarnya.
Ingatannya terbang pada saat ia remaja dan Izora selalu menemaninya melihat bulan. Sudut bibirnya tersenyum mengingat kenangan manis yang pernah ia rajut. Namun, kini semuanya hancur karena kebodohannya. Semuanya musnah dalam sekejap mata.
"Arrggggg......!" teriak Saira menangis mengingat masa itu.
"Semuanya jadi hancur karena sebuah kesalahan, semuanya!"
Saira meringkuk di kepala ranjang dengan kepala ditekuk ke dalam kedua kakinya. Bahunya tampak bergetar menahan semua sesak yang menderanya. Setiap kali ia membayangakan masa lalunya yang menyakitkan, setiap itu juga amarah menguasai. Ia mengepalkan tangan dengan erat.
__ADS_1
"Saira, kamu tidak boleh bersedih, kamu tidak boleh lemah, perlakuan mereka di masa lalu harus membuatmu kuat, Saira!"
Ia menghapus air mata dan mengangkat kepalanya. Ia tidak akan lemah lagi, janjinya adalah untuk tidak merasakan masa lalunya yang kelam. Ia juga punya janji pada Evellyn untuk membalaskan dendam atas kematiannya. Tuhan sedang memberinya kesempatan kedua untuk memperbaiki semuanya. Segala sesuatu yang harus kembali ke tempatnya.
Terdengar sebuah ketukan dari luar kamar, Saira bangkit perlahan dan mendekati pintu.
"Ada apa?" tanya Saira datar pada Alyne yang menatapnya dengan Khawatir.
"Kamu kenapa?" tanya Alyne lembut.
"Tidak ada, aku hanya ingin mengecekmu saja. Ya sudah aku kembali dulu."
Alyne pamit dan segera pergi dari sana. Saira tidak tahu kenapa Alyne mau repot-repot mengkhawatirkannya. Apa gadis itu takut jika ia melakukan hal yang tidak-tidak, lalu pekerjaannya akan terancam. Saira menggelengkan kepala pelan. Kenapa juga dia berkata seperti itu. Saira kembali menutup pintu kamar.
Keesokan harinya, Saira dan Alyne pergi joging ke sebuah taman yang tidak jauh dari rumah mereka. Alyne dengan baju spot warna hijau sedangkan Saira dengan baju hitam bercorak emas.
__ADS_1
"Kira-kira berapa lama lagi kita di sini?" tanya Saira sambil berlari pelan diikuti Alyne di sampingnya.
"Tidak lebih dari delapan hari lagi, kenapa?" tanya Alyne.
Keduanya terus berlari pelan sesekali tampak berhenti dan berjalan seperti biasanya.
"Tidak ada, cuma pengen pulang cepat aja, rindu rumah dan keluarga. Emang kamu nggak rindu sama keluargamu?" tanya Saira serius.
Wajah Alyne perlahan kehilangan ronanya, ia menarik napas dengan pelan dan menatap kejauhan. "Aku tidak pernah mengenal siapa mereka, setahuku aku hanya diasuh oleh nenekku dan sekarang beliau sudah meninggal juga."
Saira melihat ada kesedihan di setiap ucapan Alyne. Ia todak tahu jika gadis itu sudah mengalami hal yang menyakitkan juga. Ia menepuk bahu Alyne pelan dan tersenyum.
"Mungkin keluargamu bukan yang terbaik, lalu sekarang kamu tinggal sama siapa?" tanya Saira.
-----
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak.