
Semua dia lakukan untuk menutupi sesuatu yang tidak ingin diketahui oleh orang lain. Karena setiap orang memiliki sisi kelamnya masing-masing.
"Apa kamu tidak pergi?" tanya Izora.
"Tidak, aku hanya akan menjagamu di sini. Kita tidak tahu kapan pria bejat itu akan menemukanmu di sini. Mengingat Elca sudah memberitahunya sesuatu."
Alyne sengaja menambahkan rasa cemas agar Izora tidak sulit diatur. Ia tidak ingin sampai terjadi apa-apa pada gadis tersebut. Meski bagaimana pun ia sudah menganggapnya seperti saudara. Entahlah, mungkin karena nasib mereka yang kurang bagus sehingga bisa saling memahami.
"Ya sudah, ayo makan. Semoga kamu menyukainya."
"Wah terlihat sangat enak," ucap Alyne dan segera duduk menyantap makanan tersebut. Jarang-jarang ia disajikan makanan seenak ini.
Di lain kesempatan, Romeo bersama Saira sudah menuju kantor penyidik dan menyerahkan bukti mengenai kejahatan Wira. Sebelum menyerahkan bukti tersebut Saira mendokumentasi penyerahannya agar penyidik tersebut tidak bisa melakukan kesalahan sedikit pun. Ia akan memberantas siapa pun yang akan bertindak jahat.
"Apa buktinya sudah cukup untuk menjobloskannya ke dalam penjara?" tanya Saira serius. Ia bahkan menatap pria tersebut tajam.
"Ini sudah lebih dari cukup."
"Baguslah," ucapnya.
"Kalian tunggu saja berita mengenai hal ini, kami akan segera menyergapnya."
__ADS_1
Saira dan Romeo izin pergi dari sana. Seseorang menatap tajam ke arahnya dengan segudang rencana. Ia mengeluarkan ponselnya dan mengabari hal tersebut.
"Apa! Semua bukti itu palsu?" teriak Wira syok.
"Kau harus membantuku Wali, apa pun yang mereka lakukan kau harus bisa menggagalkannya."
"Aku akan mencobanya, tapi tidak bisa menjanjikan hal apa pun. Musuh yang sedang kau hadapi ini sangat berbahaya. Mereka sangat cerdas sehingga sulit mengecohnya."
"Saya tidak mau tahu, jika semua tidak lancar, siap-siap kau juga akan ikut terserat Wali."
Ancaman dan peringatan dari Wira membuat jiwa Wali menciut ke titik terendah. Ia dengan segera menelpin seseorang untuk membantunya.
"Kenapa kamu mendokumentasikan penyerahan bukti tadi?" tanya Romeo.
"Kalau begini terus, kapan kita menikah sayang," ucap Romeo dengan sedih. Hal tersebut membuat Saira tertawa terbahak.
"Jangan memasang tampang jelek seperti itu, kau tidak cocok untuk melakukannya," ejek Saira membuat Romeo cemberut.
"Cobaan menikah itu berat, dulu aku belum begitu paham mengenai semua ini, ternyata inilah yang dimaksud oleh kakak tertuaku, dia pasti sudah melalui hal ini."
"Bukankah kau anak tunggal?" tanya Sara bingung.
__ADS_1
"Itu hanya pencitraan, kamu tahu terkadang masalah kehidupan keluarga itu terlalu sulit untuk dipahami begitu saja."
"Ah kau benar juga," ucap Saira.
"Apa kamu tidak merindukan tubuhku?" tanya Romeo sambil menggoda.
"Lagi tidak berselera untuk menikmatinya, lain kali tawarkan lagi."
Pria itu tertawa mendengar kalimat kekasihnya, bersama Saira banyak hal yang ia lalui dan semuanya terasa bahagia. Meski pernikahannya rentan tertunda karena rumitnya masalah yang sedang mereka hadapi bersama.
"Apa kau terbiasa melakukan hal itu?" tanya Saira penasaran. Karena baginya Romeo terlalu lihai saat mereka bergulat bersama.
"Tidak juga, sejujurnya aku hanya belajar dari kakakku, sisanya inisiatif sendiri."
"Kenapa kalimatmu tampak meragukan," ucap Saira dengan wajah menyelidik.
"Hei jangan menatapku seperti itu, aku ini pria baik-baik. Meskipun hidup di hiruk pikuk perkotaan, aku ini masih terbilang pria suci, itu asal kau ketahui saja."
Saira tertawa mendengarnya, Romeo seperti wanita yang diragukan keperawanannya oleh seseorang. Lihatlah ekspresinya.
--------
__ADS_1
Heleh Mamas Romeo,