
Ia menghapus air matanya dan perlahan bangkit dari sana. Ia menemui Alyne dan mereka segera pergi dari sana. Alyne sangat penasaran dan dia sudah tidak bisa lagi membendung rasa ingin tahunya.
"Maaf, Bu. Siapa beliau?"
Saira menatap Alyne lalu mengalihkan tatapannya ke lain tempat. "Dia seseorang yang spesial di hati saya."
Alyne mengerti, Saira tidak ingin membicarakan hal lebih lagi mengenai sosok yang membuatnya penasaran. Mereka sudah sampai di kediaman Saira. Gadis itu terlihat memasuki kamarnya dengan tatapan dingin.
"Jangan mengangguku sampai aku sendiri yang keluar!"
Di sana Saira menumpahkan segalanya. Rasa sesak dan tangis tidak mampu ia bendung. Ingatannya pada masa lalu bergema di kepalanya. Kembali, rasa sakit menderanya bertubi-tubi. Bahkan rasanya jauh lebih menyakitkan dari sebelumnya.
"Kenapa aku harus kembali dipertemukan, luka yang coba kukubur selama ini kembali mencuat kepermukaan begitu saja. Bahkan sakitnya lebih parah." isaknya.
__ADS_1
"Betapa malang nasibmu Saira, mereka sudah memperlakukanmu dengan tidak adil. Aku berjanji padamu Saira, aku tidak akan pernah memaafkan mereka semua! Tidak akan pernah!"
Ia mengusap air matanya dan berjalan kearah sebuah cermin. "Kamu bukan Saira yang dulu. Kamu adalah Saira yang kuat, kamu tidak akan merasa kesakitan lagi. Aku berjanji padamu Saira, aku berjanji!"
Matanya menatap nyalang langit malam. Rasa sakit dan semua yang pernah ia rasakan, tidak akan pernah membuatnya kembali menjadi seeprti dulu lagi. Sudah cukup ia ditindas oleh orang-orang yang dia sebut sebagai keluarga.
--------
Entah harus berapa kali ia mengatakan penyelasannya pada sang maha kuasa. Tetap saja, semuanya tidak lagi ada arti. Sang istri sangat terpukul berat atas kepergian Saira. Kesalahan, penyesalan semua ia emban semuanya. Mereka telah menjadi orang tua tidak berguna.
"Sayang, andai Papa diberi keaempatan untuk kembali melihatmu, Papa berjanji akan memperbaiki semuanya. Kesalahan terbesar Papa sebagai seorang ayah adalah, membiarkanmu terluka seorang diri. Apa sekarang Papa pantas disebut sebagai seorang ayah?"
"Keluarga ini, sangat suram tanpamu sayang, berapa kali Papa harus menyesalinya agar rasa ini bisa berganti dengan kedamaian."
__ADS_1
Ia menangis sepanjang malam di ruang kerjanya. Keluarganya dulu sangat harmonis, bahkan tetap saat Saira mengecewakan mereka semua. Kehadirannya seperti tidak diharapkan oleh siapa pun. Keluarganya menjadikan Saira pusat kebencian. Seolah tindakannya sangat hina tak termaafkan. Namun, pada kenyataannya, putri yang dia benci memilih pergi untuk selamanya. Menyembunyikan setiap bait luka akibat goresan mulut keluarganya.
"Papa, Izora bawa minuman kesukaan Papa." teriak Izora dari depan pintu.
"Letakkan saja di depan pintu!"
Gadis itu menghela napas dengan lemah. Bagaimana bisa ia memperbaiki semua kondisi ini. Sang Ibu dan Ayahnya masih berkabung dan enggan untuk bangkit. Sejujurnya Izora butuh dikuatkan. Ia juga sangat terluka atas kepergian Saira. Tindakan jahatnya selalu membekas diingatan. Berputar bagai sebuah film.
"Ya udah, Papa minum nanti ya, Izora pergi!"
Gadis itu berjalan memasuki kamarnya, entah pada siapa ia bisa mengadukan segalanya. Ia melihat ponselnya berlayar hitam. Bahkan tidak ada panghilan dari siapa pun. Ia lelah dan merebahkan diri di ranjang king size nya.
------
__ADS_1