Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Kepergian Saira ke Indonesia


__ADS_3

"Sayang, putri kita ke Indonesia hanya du minggu dan tidak akan lama di sana. Apa yang harus kamu khawatirkan. Lagi pula dia kesana karena urusan pekerjaan."


"Tapi tetap aja Pa, bagaimana ia akan makan nantinya, siapa yang akan menyediakan sarapannya."


William menghela napas panjang melihat rengekan istrinya. Ia menelpon seseorang.


"Jason, Belikan rumah di Indonesia yang paling nyaman beserta pembantunya."


"Papa, kenapa sampai harus membeli rumah, aku hanya sebentar di sana."


"Tidak apa-apa sayang, mana tahu nanti kita masih ke sana kan?"


Jantung Saira berdetak menggila. Mendengar nama Indonesia saja sudah membuatnya gelisah. Ditambah ayahnya sudah membeli rumah di sana. Ia tidak tahu apa takdir berperan di sini.


"Sayang, seperti yang Papamu katakan, kita mungkin akan kesana lagi kapan-kapan. Bukankah Papamu sangat romantis sebagai suami dan sebagai seorang ayah."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Halena tampak senang dan memeluk suaminya dengan sayang.


"Aku sangat mencintaimu."


"Aku tahu itu." William tersenyum sambil menjawil hidung istri tercintanya.


Keduanya tertawa dan Saira sangat bahagia melihat semua itu. "Eve, kamu sangat beruntung karena memiliki orang tua seperti mereka. Namun, nasibmu sungguh sial karena memiliki bibi seperti dia." batinnya.


"Sayang, kamu hati-hati di sana ya, jangan lupa mengabari Mama."


"Baik, Nyonya."


Saira tersenyum dan memeluk Halena dan William. Setelah itu ia melambaikan tangan pada keduanya. Alyne dengan setia menemani Saira.


Kini Saira sudah berada di bandara Soekarno hatta setelah perjalanan yang memakan waktu selama belasan jam. Ia melihat papan nama yang menjemput mereka ke sana. Padahal ia tidak memerlukan itu semua, karena Saira hapal seluk beluk Jakarta.

__ADS_1


"Selamat datang, Nona." sapa pria tersebut dengan sopan.


"Terima kasih," ucap Alyne. Mereka berdua mengikuti pria itu menuju tempat parkir dan segera meluncur menuju kediaman Saira yang baru saja dibeli oleh ayahnya. Mereka segera merehatkan tubuh yang terasa sangat melelahkan.


Di sudut rumah lainnya, Aksa merasakan jantungnya berdegup kenjang semenjak kemarin. Ia bahkan sempat memeriksa jantungnya, takut mengalami gagal jantung. Namun, tidak ada hal yang perlu dikhawatirkan sama sekali. Hingga saat ini jantungnya masih betah berdegup kencang. Ia ingat, besok akan kedatangan tamu dari Autralia.


"Sayang, dalam hidupku, aku hanya berharap Tuhan memberiku sebuah keajaiban." matanya tersenyum menatap pigura satu-satunya yang ia miliki.


"Apa ini salah satu hukuman darimu, kamu bahkan tidak menyisakan satu hal pun tentangmu untuk bisa kuingat dan kukenang."


Ingatannya selalu kembali pada saat sosok tubuh kaki dimasukkan ke dalam liang lahat. Wajah yang terlihat damai dan bibir tersenyum. Seolah ia sangat bahagia meninggalkan dunia ini.


"Sayang, aku sangat merindukan kamu."


-------

__ADS_1


__ADS_2