Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Membalik Keadaan


__ADS_3

"Papa minta maaf atas kejadian kemarin. Tidak seharusnya Papa melakukan hal yang kekanak-kanakan."


Saira masih belum bersuara. Ia masih diam dan mendengarkan dengan seksama.


"Jadi, mohon maafkan Papa." sambungnya lagi.


Saira menyunggingkan senyum tipis dan menatap Tasma yang tampak syok dengan perubahan sikap William. Sebelumnya masih terlihat marah. Namun, kali ini mengapa terlihat sangat lunak pada putrinya yang sangat kurang ajar dan Tasma sangat membencinya.


"Eve sudah lama memaafkan Papa tapi jangan harap Eve akan meminta maaf juga!" tekannya dengan tegas dan William berdehem pelan memakluminya.


"Pa, ada yang ingin kusampaikan pada Papa dan ini sangat penting!"


"Ya sudah, di sini saja."


"Tidak! Ini bersifat rahasia dan aku ingin membicarakan hal ini hanya berdua saja dengan Papa."


"Ya sudah, Papa tunggu di ruang kerja." pria itu segera pergi meninggalkan mereka semua di sana.


Tasma sangat penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Saira pada ayahnya. Ia harus bisa menguping. Namun, ruang kerja kakaknya kedap suara dan tidak ada celah sedikit pun.


"Ma, tolong temani Alyne sebentar selagi aku ada urusan. Dia juga sangat menyukai bunga." jelas Saira dan berlalu dari sana.


"Wah, benarkah itu Alyne, kalau begitu Bibi akan membawamu ke taman di belakang. Ayo!" ajaknya dan mereka menghilang di balik pintu.


Sekarang tinggal Tasma dan Chloe yang seperti cacing kepanasan.

__ADS_1


"Ma, apa yang akan dibicarakan oleh Eve dan Paman."


"Mama tidak tahu," jawab Tasma dan sedang berpikir keras.


"Kita harus bisa menyingkirkan Eve apa pun caranya."


"Ikut Mama ke kamar, kita harus menyusun rencana dengan matang untuk menyingkirkan Evellyn. Dia bisa menghambat rencana kita."


Mereka berdua segera meninggalkan ruang tamu. Mata-mata Saira yang bekerja sebagai pembantu di sana sudah merekam ucapan mereka berdua. Ia akan segera menemui Saira untuk memberikan bukti ini.


Di ruang kerjanya, Saira segera memasuki ruangan tersebut. Saira segera duduk di kursi yang teraedia di sana.


"Jadi apa yang ingin kamu katakan pada Papa?" tanya William dengan serius. Iya tahu Saira akan mengatakan hal yang serius.


Alis William terlihat menukik dan menggambarkan wajah bingung.


"Ada apa dengan mereka?"


"Apa Papa menyayangiku?" tanya Saira dengan serius.


"Tentu saja Papa sangat meyayangimu."


"Lalu bagaimana dengan Bibi Tasma, apa Papa menyayangi Bibi?"


"Dia adik Papa satu-satunya, tentu saja Papa sangat menyayanginya."

__ADS_1


"Lalu apa Papa akan percaya dengan apa yang akan Eve sampaikan?" tanya Saira dan William tampak berpikir sebelum akhirnya menganguk.


"Menurut Papa, kecelakaan yang kualami dulu apa semua murni kecelakaan?"


"Kenapa menanyakan hal itu?" tanya William kembali dengan raut bingung. Insiden itu sudah setahun yang lalu.


"Jawab saja, Pa!"


"Semua itu murni kecelakaan, bahkan saksi yang berada di tempat kejadian juga mengatakan hal yang sama."


Saira tersenyum dan menunjukkan sebuah poto pada ayahnya. "Apa ini saksinya?"


William tampak mengingat dan menganguk. Ia melihat pria itu oernah diwawancarai oleh wartawan.


"Iya benar."


Saira tersenyum mendengarnya. "Apa Papa percaya dengan pria itu?"


"Apa maksudmu?"


"Jelas-jelas tempat itu sepi, jika ia sebagai saksi seharusnya ia segera melarikanku ke rumah sakit atau meminta pertolongan. Tapi pria itu hanya menatapku dengan tersenyum."


Itu salah satu ingatan Evellyn yang masih menempel di kepalanya. Mendengar hal itu, William tampak terkejut mendengar ucaoan putrinya. Jika benar apa yang dikatakan Saira maka semua kecelakaan itu bukan murni tapi sudah direncanakan.


 

__ADS_1


__ADS_2