
Saira melempar ponsel tersebut dan membuang kartunya. Ia segera menyusul ke rumah sakit untuk melihat kondisi Izora. Dengan mengendarai mobil mewah, ia segera menginjak pedal gas dan meluncur.
"Bagaimana kondisinya?" tanya Saira setelah sampai.
Alyne menggeleng lemah, lalu Saira melihat Izora dari balik pintu. Air matanya jatuh saat melihat kakaknya meringkuk ketakutan. Bahkan suster yang mendekat juga diserang olehnya. Ia terus berteriak histeris.
"Alyne, aku ingin kau melalukan sesuatu untukku."
"Katakan saja."
"Telpon ayahku dan beritahu jika Izora sedang menjalani perawatan. Tidak perlu dikhawatirkan karena dia akan akan segera kembali."
"Baik," ucap Alyne dan segera menyingkir dari sana.
Zakof pun memilih pergi dari sana karena ia belum terbiasa dengan Saira.
"Kak, maaf karena telat menolongmu." bisik Saira pelan. Suaranya bahkan terdengar bergetar menahan tangis.
__ADS_1
"Aku akan membawamu pulang ke Indonesia setelah semuanya membaik."
Ia mengahapus air matanya lalu masuk ke dalam. Suster yang berada di sana segera pergi setelah mendapat intrupsi dari Saira. Ia perlahan mendekati Izora yang sangat kacau. Melihatnya seperti itu, jantung Saira seperti diremas kuat lalu diijak oleh ribuan kaki. Ia sangat terluka dengan semua itu.
"Kak," panggil Saira berusaha menguatkan dirinya.
"Pergi! Pergi!" teriaknya.
Saira segera memeluk tubuh Izora meski gadis itu terus memberontak. Ia sampai digigit oleh Izora tapi tidak bergeming sama sekali. Perlahan elusan lembut mulai dirasakan Izora. Perlahan ia melepas gigitannya dan tidak memberontak. Ia menangis dan Saira sangat benci mendengarnya.
Ia mengelus pelan rambut panjang yang tergerai berantakan, karena suster yang berusaha menyentuhnya akan dilempar dengan sesuatu. Ia melepas pelukannya dan mengikat rambut panjang kakanya.
Saat dokter masuk, Izora kembali merasa ketakutan. Ia mendorong kuat tubuh Saira sampai jatuh ke lantai. Kondisinya kembali seperti tadi. Ia histeris dan menyambak rambutnya dengan kasar. Berusaha melukai dirinya sendiri. Saira segera menghentikannya dan memegang erat kedua tangan Izora meski ia mendapat gigitan di beberapa bagian tubuhnya.
Dokter pun segera menyuntikkan obat penenang. Kini Izora sudah tidur dengan wajah pucat dan kusam. Saira berbicara dengan dokter dan mengatakan akan mengobatinya di rumah. Karena yang dibutuhkan oleh Izora bukan rumah sakit. Ia sedang mengalami mimpi paling buruk dalam hidupnya. Ia butuh seseorang yang mampu memahaminya.
Tanpa menunggu lama, Saira dan Alyne segera kembali ke Autralia dengan pesawat pribadi ayahnya. Mereka juga sudah mengetahui mengenai kondisi Izora. Untuk itu, Saira akan menempati rumah megahnya yang berada di pinggir danau buatan. Dibantu juga oleh Alyne.
__ADS_1
Sesampainya di sana, ia mengirim sebuah pesan pada Romeo mengenai kepulangannya. Romeo hanya membalas dengan singkat.
"Apa terjadi sesuatu?" tanya Alyne.
"Tidak, dia sedang banyak urusan. Kau tahu, belakangan hubungannya dengan sang ibu tidak begitu baik. Apalagi setelah mencelakaiku tempo lalu."
Lalu Saira teringat pada putranya yang masih belum bertemu dengannya. Rasa sedih muncul perlahan tapi ia menggeleng. Saat ini Izora sangat membutuhkannya. Ia harus menahan semua kerinduannya pada sang anak.
"Bagaimana kalau Romeo sampai bertemu dengan Izora? Izora sangat trauma dengan pria."
"Entahlah, mungkin dia harus menyamar jadi perempuan kalau mau kemari."
Alyne tertawa sebentar, lalu perhatiannya teralih pada Izora yang tertidur dengan lelap di ranjangnya. Selama tidak bertemu dengan pria, ia akan baik-baik saja.
"Apa yang harus kita lakukan pada Izora. Suasana seperti apa yang harus kita hidupkan di sini?" tanya Alyne serius.
"Kedamaian, hindari keributan, dan pria."
__ADS_1
-----