Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Bukti


__ADS_3

Saira kembali menyerahkan sebuah bukti pada William yang membuat pria itu tampak syok mengetahu sebuah fakta yang selama ini tidak ia ketahui. Jika putrinya meninggal bukan karena kecelakaan seperti yang diberitakan. Maka, ada seseorang yang mencoba melenyapkan putrinya.


"Jika benar seperti apa yang sudah kamu sampaikan pada Papa, maka pasti ada orang yang mau melenyapkan kamu."


"Itulah poinnya, Pa."


"Lalu hubungannya dengan Bibimu apa?" tanya William penasaran.


Saira kembali menunjukkan sebuah poto yang Chloe dan pria yang memberikan saksi sedang bersulang. Bahkan tanggalnya sehari setelah Evellyn kecelakaan. William kembali memutar ingatannya pada hari kejadian itu tepatnya setahun yang lalu. Ia memang tidak melihat Chloe sehari setelah putrinya kecelakaan.


"Lalu ini bukti terakhirnya Pa." tunjuk Saira sambil memainkan sebuah video. Hal itu berhasil membuat William mengeram marah. Ia sampai mendobrak meja kerjanya.


"Kurang ajar! Selama ini Papa menganggap mereka seperti saudara sendiri dan sekarang setelah mencelakaimu, mereka juga masih mau mecelakaimu."


"Papa harus segera bertindak jika tidak mau kehilangan untuk kedua kalinya."saran Saira santai.


"Papa akan memberi mereka apa yang selama ini tidak pernah mereka dapatkan."

__ADS_1


William segera keluar dari ruang kerjanya dan mencari keberadaan keduanya di kamar.


"Tasma ... Tasma ... di mana kau!" teriak William dengan urat wajah tampak jelas di wajahnya.


"Segera ke ruang tamu, ada yang mau kusampaikan pada kalian semua!" desisnya dan segera berlalu.


Saira segera menyusul ke ruang tamu. Namun, sebelum itu ia memberi sesuatu pada pembantunya yang sudah berjasa dalam membantu menguak kejahatan Tasma.


"Terima kasih, saya sangat puas dengan kinerjamu!"


"Sayang, apa kamu membuat Papamu marah?" tanya Halena pelan.


Saira menganguk dan duduk dengan santai. Jantung Halema dan Alyne sudah berdetak dengan kencang. Mereka khawatir Saira akan kembali diusir dari rumah ini dan lebih parahnya akan dikeluarkan dari ahli waris. Chloe dan Tasma terlihat datang dengan wajah berseri. Ia tidak tahu sama sekali kalau istana sedang menunggunya.


"Ada apa, Will kamu mengumpulkan kami di sini?" Tasma bertanya dengan wajah andalannya. Ia terkenal sangat lemah lembut di mata William.


"Eve, mainkan videonya!" perintahnya dengan tegas.

__ADS_1


Saira membuka ponsel dan memainkan sebuah video yang berhasil membuat mereka yang ada di sana tercengang. Bahkan Halena langsung menatap pada Tasma yang terlihat sangat syok.


"Apa-apaan itu!" teriak Chloe tidak kalah syoknya.


"Will, itu pasti fitnah. Aku tidak mungkin mencelakai keponakanku sendiri. Kamu tahu kan, Eve sudah kuanggap sebagai anakku sendiri."


"Iya, Om. Mana mungkin kami seperti itu. Lagi pula Eve sudah seperti saudaraku sendiri."


Saira melipat tangannya menyaksikan semua sandiwara apa lagi yang akan dimainkan oleh dua orang yang kini berada di hadapannya. Ia juga menatap William yang tampak tidak terpengaruh sama sekali dengan ucapan keduanya. Hal itu membuat Saira tersenyum. Mungkin jika ayahnya masih seperti dulu, ia akan percaya dengan sandiwara keduanya.


"Sudah selesai pembelaannya?" suara William terdengar dingin. Keduanya sampai menginggil ketakutan.


"Will, tapi semua ini ...." ucapannya terhenti oleh sebuah tamparan keras.


"Jujur, saya tidak pernah menyangka, kamu akan melakukan hal itu pada putri saya! Apa yang sudah dia lakukan sehingga kamu berniat menghabisi nyawanya, jawab!" teriak Halena marah.


------+

__ADS_1


__ADS_2