
Saira beserta Alyne sudah mendarat di Bandara Soekarno Hatta. Kedatangan mereka membuat Aksa kembali berseri. Masalah yang menghimpitnya beberapa waktu yang lalu seolah terangkat begitu saja. Ia bahkan sampai mengutus sopir perusahaan untuk menjemputnya ke bandara.
"Selamat datang kembali Nona Eve dan Nona Alyne," sapanya dalam bahasa Inggris.
"Terima kasih!" Alyne menjawab dan tersenyum ramah.
Mereka segera menuju kantor Aksa. Sebenarnya Saira sangat lelah. Namun, pekerjaannya sangat banyak dan tidak bisa menundanya.
"Tolong antarkan barang saya ke alamat ini, nanti akan ada asisten saya yang mengambilnya." perintas Saira sebari menyerahkan sebuah alamat.
"Baik, Nona."
Mereka segera menuju lobi kantor dan disambut oleh resepsionis dengan hangat.
"Selamat datang kembali Nona!"
Saira tidak menggubris mereka sama sekali. Ia memilih langsung pergi menuju ruangan Aksa. Baginya menegur mereka hanya membuang waktu dan ya, dia sangat tahu tabiat orang-orang seperti mereka.
"Sombong banget, mentang-mentang bos!" kesal resepsionis tersebut.
Saira tersenyum miring mendengarnya. Itulah alasan ia tidak suka basa basi dengan siapa pun. Diabaikan, rasanya sudah sangat kebal menerima semua itu. Alasan kenapa Saira memilih menutup diri adalah karena kesalahannya di masa lalu. Semua luka menyebabkan dirinya menjadi seperti ini.
"Selamat datang Nona, Tuan Aksa sudah menunggu di dalam."
__ADS_1
Sekretarisnya mempersilakan ia masuk. Satu hal yang disukai Saira adalah Sekretaris dari Aksa. Terlihat sangat apa adanya dan tidak munafik.
"Terima kasih!" Saira tersenyum untuk pertama kalinya dan hal itu sukses membuat gadis itu membeku.
"Apa Nona Eve baru saja tersenyum padaku? Bahkan barusan dia membalas sapaanku." ia sampai menampar pipinya dua kali. Tingkahnya membuat Saira tersenyum gemas.
"Maaf Nona," ucapnya setelah sadar dari keterpakuan dan segera membuka pintu untuknya.
"Selamat datang kembali Nona Evellyn." sambut Aksa dan segera mempersilakan mereka duduk.
"Terima kasih Tuan Aksa!" Alyne tersenyum dan segera duduk di sofa.
"Terima kasih karena masih kembali ke sini. Saya sungguh takut jika Nona tidak kembali lagi."
"Bagaimana saya bisa meninggalkan pekerjaan yang sangat penting. Lagi pula kepulangan saya ke Autralia untuk mengerjakan beberapa hal yang sangat penting."
"Bagaimana perkembangan proyek kita?" tanya Saira.
"Sudah hampir selesai 80% dan sisanya akan segera selesai dalam waktu dekat."
"Syukurlah!"
Mereka segera melakukan meeting untuk menyelesaikan sisanya. Setelah selesai Saira dan Alyne segera pulang ke rumah mereka. Dalam perjalanan, Saira kembali melihat tempat pemakaman umum. Masih banyak bunga di sana.
__ADS_1
"Alyne, bagaimana menurutmu jika ada gadis yang membuat kesalahan, apa dia berhak untuk tidak dimaafkan?" tanya Saira demgan serius.
"Menurutku, jika kesalahannya masih bisa dimaafkan kenapa tidak."
"Termasuk jika merebut tunangan dari Kakaknya sendiri?"
"Jika permasalahnnya itu, saya rasa masih bisa dimaafkan."
Saira tersenyum miris mengenang masa lalunya. Jika saja egonya dulu bisa dimaafkan, semua ini tidak akan terjadi. Dia tidak pernah menyalahkan keluarganya hanya saja, sebuah keluarga membuatnya menjadi sampah dalam lingkungannya sendiri.
"Kenapa menanyakan hal itu?"
"Aku hanya penasaran saja. Kau tahu siapa yang kukunjungi kuburannya tempo lalu?"
Alyne mengangkat alisnya dan menatap Saira dengan serius.
"Aku mengunjungi makamku sendiri!" tatapannya mendadak dingin dan Alyne menggigil melihatnya.
"Apa maksudmu?"
Saira tersenyum dan memilih menggantung ucapannya. Melihat raut wajah Alyne membuatnya sangat senang. Mungkin menggoda Alyne akan menjadi kesukaannya kali ini.
"Setelah membuatku penasaran setengah mati, kini kamu menggantungku bagai jemuran di musim hujan!" dengkus Alyne kesal.
__ADS_1
------
Gais maaf ya semalam listrik mati dan jaringan menghailang. Sekali lagi maaf ye.