Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Sangat Kecewa


__ADS_3

William mengambil semua berkas yang tergeletak di meja dan membawa ke kamarnya. Halena sendiri tampak mengikuti langkah kaki Saira sampai ke kamar. Ia mengetuk pelan dan memanggil nama Saira dengan lembut.


"Eve, buka pintunya Nak, ini Mama."


"Masuk saja, Ma. Pintunya tidak dikunci sama sekali."


Halena memutar kenopnya dan masuk ke dalam kamar putrinya. Ia mendekat dan menatap lekat Saira.


"Sayang, kenapa menganggap serius ucapan Papa, hm?"


"Ma, Eve kecewa sama Papa, kenapa hanya sudut pandang Bibi yang dia dengar dan dengan mudah mengambil kesimpulan begitu saja. Bukankah untuk mengetahui siapa yang salah, kita harus mendengarkan dari dua sisi."


Halena tersenyum dan mengelus lembut rambut sepinggang putrinya. "Mama tahu, tapi Papa melakukannya semuanya demi kebaikan kamu sayang."


Saira kembali tertawa, apa semua orang tua memang senaif mereka. Membiarkan kesalahan orang lain benar alih-alih mencari tahu kebenarannya. Kini ia yakin, kepergian Evellyn tidak akan pernah sia-sia. Lebih baik dia pergi dari keluarga seperti ini. Ternyata nasib dan takdirnya tidak beda jauh dengan apa yang ia alami, hanya ada sedikit perbedaan saja tapi intinya mereka sama.


"Sudahlah, Ma. Lupakan saja besok aku akan pergi dari rumah ini!" Saira berkata dengan tegas.

__ADS_1


"Sayang, tolong jangan lakukan ini lagi, Mama bisa mati kalau kamu memilih pergi, Mama tidak akan bisa." Halena menangis dan semua terlihat sangat menyayat hati, tapi Saira harus memberi mereka pelajaran agar tidak mudah menyimpulkan sesuatu.


"Ma, jangan berkata seperti itu," ucap Saira lembut sambil memeluk Halena.


"Mama tidak bisa jika harus kehilangan kamu Sayang, bahkan saat kamu koma, hidup Mama pergi separuh. Tolong jangan tinggalkan Mama."


Saira tersenyum, bagaimana pun ia harus bisa mengubah sudut pandang ayahnya mengenai masalah yang sedang diaminkan oleh Tasma dan putrinya. Saira akan membuat mereka membayar semua kejahatan yang sudah mereka lakukan pada Evellyn dan itu tidak akan lama lagi.


"Ma, maafkan Saira tapi semua harus Saira lakukan agar Papa bisa mengerti siapa yang benar dan siapa yang salah."


"Sayang jangan seperti ini," ucap Halena masih dengan tangisnya.


"Tapi jangan tinggalkan Mama lagi."


"Iya, Eve janji, tapi Mama harus membantu Eve supaya semua kebenaran terkuak."


Halena mengangguk paham, iya akan melakukan apa pun yang putrinya inginkan asal tidak ditinggalkan lagi. Saira tersenyum senang.

__ADS_1


"Apa rencananya?" tanya Halena setelah tenang. Saira mengusap air mata yang jatuh ke pipinya.


"Mama harus membela Papa, jangan membelaku."


"Tapi, Sayang nanti kamu ...."


"Mama tenang aja, semua harus berjalan sesuai dengan kemauan Bibi Tasma. Tapi kita akan memainkan setelah semua akan berakhir."


"Memangnya Bibi Tasma mu kenapa Sayang? Sampai kamu tidak menyukainya."


"Ma, percayalah tidak semua orang di dunia ini terlahir baik. Mama juga akan tahu segalanya."


"Baiklah, tapi kamu harus menang."


"Pasti asal Mama mau bekerja sama."


"Mama pasti akan melakukannya demi putri Mama."

__ADS_1


Saira tersenyum, ia akan segera menjalankan misi balas dendamnya pada orang-orang yang sudah menghabisi Evellyn. Ingatan Evellyn masih ada meski tidak semuanya. Itulah kenapa Saira tahu mengenai kematian Evellyn yang selama ini dianggap sebagai kecelakaan murni, padahal kenyatannya tidak seperti itu.


----------


__ADS_2