Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Mama Kesayangan


__ADS_3

Kedatangan William beserta sang istri disambut hangat oleh Saira dan Romeo yang sudah menunggu di Bandara Soetta Jakarta. Tanpa menunggu lebih lama pagi, Saira segera membawa mereka menuju rumah. Sesampainya, Halena sangat merindukan putri semata wayangnya. Dengan penuh kerinduan ia memeluk Saira dan menumpahkan segalanya dalam dekapan seorang ibu. Saira bisa merasakan betapa besar kasih sayang yang dimiliki Halena untuk Evellyn. Gadis itu sangat beruntung. Namun, juga sangat sial karena memiliki keluarga yang iri kepadanya.


"Sayang, kamu makin berisi, Mama senang mengetahuinya."


"Soalnya ada chef yang handal tinggal di rumah bersamaku, Ma."


"Siapa?" tanya Halena penasaran.


"Selamat datang Nyonya, Tuan." sapa Alyne dengan sopan.


Mereka berdua tersenyum melihat kedatangan Alyne sambil membawa sesuatu di tangannya. Yakni martabak telur, Saira sengaja menyuruh gadis itu membeli makanan itu sebagai sambutan untuk kedua orang tuanya.


"Chef-nya yang di sebelah Mama."tunjuk Saira kepada Alyne yang sedang sibuk memegang barang bawaannya.


Halena tersenyum senang mengetahui fakta tersebut. Selama ini, mereka tidak salah memilih sekretaris untuk anak mereka, mengingat peran Alyne sudah sangat totalitas dalam menjaga gadis kesayangan keduanya.


"Alyne, kami membawa bingkisan untukmu, itu khusus dipesan oleh Evellyn dari desainer terkenal."

__ADS_1


"Wah terima kasih banyak, Nyonya William."


"Kami yang harusnya berterima kasih karena kamu sudah merawat putri kami dengan sangat baik. Bahkan tidak ada lecet sedikit pun."


"Hai, Romeo bagaimana kabarmu di sini? Apa kamu menyukai Indonesia?" tanya Halena.


"Saya sangat menyukai Indonesia setelah bertemu dengan Sa ... Maksud saya Evellyn di sini."


Tawa William tampak menggema di ruangan tamu saat mendengar ucapan Romeo. Putrinya memang memiliki daya pikat yang luar biasa. Meski semenjak bangun dari koma, ia cenderung datar dan tidak pernah teetawa lepas seperti dulu lagi. Selain itu, juga suka membangkang jika tidak menyukai sesuatu yang diutarakan olehnya. Padahal dulu gadisnya sangat penurut dan tidak banyak menuntut hal.


"Putriku memang sangat menawan meski ekspresinya selalu datar."


"Sayang, apa kamu baru saja tertawa?" tanyanya.


"Memangnya kenapa Ma?" tanya Saira setelah menyelesaikan tawa akibat kalimat ayahnya barusan.


"Mama senang kalau kamu sudah mulai lagi tertawa, bahkan kebahagiaan Mama berkali lipat dari sebelumnya. Apa Indonesia membuatmu sebahagia ini?" tanya Halena dengan wajah berbinar. Jika benar maka ia juga akan pi dah ke Indonesia, tempat di mana putrinya merasa bahagia.

__ADS_1


"Tidak perlu, Ma. Eve senang karena melihat kalian."


"Pokoknya Mama sangat bahagia sayang, dan selamat atas kabar kalian berdua yang sudah resmi pacaran."


Saira kaget dan menatap Romeo yang tampak sedang menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Aku tidak bisa merahasiakannya Sayang."


"Kau ini benar-benar, padahal bagus kalau Mama mengetahuinya dari putrinya sendiri." rajuk Sajra


"Memangnya apa bedanya, kalian sama saja, nanti juga akan menjadi anak Mama."


"Jadi kapan kalian akan menikah? Jangan terlalu lama nanti bisa berubah haluan."


"Secepatnya, Paman." Romeo menatap mantap ke arah Saira yang sedang tersenyum masam.


"Baguslah kalau begitu," ucap Halena ia kembali mencomot martabak telur. "Makanan yang lagi Mama makan ini namanya apa?"


"Oh itu martabak telur, Ma."

__ADS_1


------


__ADS_2