Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Elca yang Malang


__ADS_3

Sudah satu bulan berlalu, memar di tubuh Elca makin sering terlihat. Bahkan tempatnya juga berbeda-beda. Kecurigaan Saira semakin menjadi, cukup sudah gadis itu mengelak selama ini. Ia akan mencari tahu apa yang dialami gadis itu dengan cara baik-baik atau dengan paksaan. Jika perlu ia akan menggunakan kekuasaannya untuk mendapatkan jawaban.


Saira terus memperhatikan gerak gerik Elca yang sangat mencurigakan. Beberapa kali matanya menatap gawai yang ia simpan di laci. Matanya tidak terlepas dari sana. Saira memicingkan mata, sesekali ia menarik napas dan ketakutan dengan tangan gemetar. Kepala beberapa kali digeleng ke kanan dan kekiri.


"Elca," panggil Saira saat jam makan siang.


Saira mengeluarkan sesuatu dari laci, mengambil gawai lalu mengetik sesuatu di papan pesan, setelah selesai ia segera mengirimnya kepada yang bersangkutan.


Gadis itu terlihat tidak fokus sehingga panggilan Saira tidak didengar olehnya. Pikiran sudah menyita penuh kepalanya. Saira datang mendekat dan memegang pundaknya membuat gadis itu kaget dan menjatuhkan ponsel yang sedang ia pegang. Saira memusatkan perhatiannya pada benda pipih yang tergeletak di lantai. Ia mendahului Elca mengambilnya.


"Kembalikan ponselku, Lyn."

__ADS_1


"Ada apa dengan ponsel ini? Kenapa kau sangat takut saat benda ini di tanganku."


"Bukan apa-apa, tapi itu ponselku! Tolong kembalikan."


"Aku akan mengembalikannya jika kau berkata dengan jujur, kenapa banyak memar di tubuhmu."


"Aku hanya terkena penyakit yang membuat tubuhku memar jika terkena benturan baik kecil mau pun benturan besar. Sekarang kembalikan ponselku."


"Aku sudah berusaha jujur tapi kau tidak mempercayainya." Elca sedikit berteriak dan membentak Saira karena kesal.


Sebuah notifikasi masuk, membuat gadis itu ketakutan. Bagaimana jika Saira nekat membukanya. Ia akan sangat malu, Saira sedikit mengintip dan ia tahu apa isi dari pesan tersebut. Ia tersenyum miring untuk sejenak.

__ADS_1


"Tolong kembalikan!"


Saira menyodorkan ponsel tersebut kepada Elca. Gadis itu menerimanya dengan tangan bergetar dan melangkah pergi. Namun, suara Saira menghentikan langkahnya.


"Aku akan segera kembali ke Autralia, jika kau ingin bertahan dengan masalahmu sampai tua maka lakukanlah. Aku tidak akan peduli jika kelak yang kutemui adalah makammu."


Setelah mengatakan hal tersebut, Saira segera pergi dari sana. Ia yakin sebentar lagi Elca akan mendatanginya. Itu pun kalau gadis itu ingin dibantu, jika tidak maka Saira akan lepas tangan dan tidak akan memperdulikan gadis itu lagi.


Elca duduk ke kursinya dengan napas memburu. Ia kini diserang rasa dilema berkepanjangan, sekarang tidak tahu apa yang harus dia lakukan. Orang itu anak dari salah satu petinggi di perusahaan tempat ia mencari nafkah. Jika ia berani membeberkan masalahnya pada Saira maka pria itu akan benar-benar memberinya berkali lipat rasa sakit. Akan tetapi jika ia tetap seperti ini, maka hidupnya akan sengsara seumur hidup.


Yang dia ketahui adalah Saira gadis yang tidak akan bisa menghadapi kejamnya dunia politik dalam perusahaan. Dia hanya tunangan dari pemilik perusahaan. Jika menjadi istri sekali pun Romeo akan tetap mempertahankan posisi orang yang paling berjasa dalam perusahaannya. Ia tidak ingin membuat posisi Saira berada dalam bahaya.

__ADS_1


------


__ADS_2