
Semenjak mengetahui Ae dan Lyn bukan orang biasa. Banyak karyawan yang mendadak baik kepada mereka. Tidak terkecuali tiga orang yang selalu melempar nyinyiran serta tatapan sinis setiap kali mereka lewat di lobby. Namun, satu-satunya orang yang tetap mereka anggap sebagai teman hanyalah Elca dan penghuni divisi yang mereka diami. Karena mereka tidak pernah melakukan ti dakan yang membuat Saira kesal.
"Selamat pagi Bu Eve," sapa beberapa karyawan.
Saira menatap mereka dengan datar. Lalu memasuki lift. Saat hendak tertutup bayangan Elca terlihat dari luar. Saira dengan cekatan menyodorkan tangannya ke arah pintu dan lift itu kembali terbuka.
"Elca, ayo masuk!" ajaknya sambil tersenyum.
Mereka yang hadir di sana merasa iri karena hanya Elca yang disapa sedangkan sisanya diabaikan seperti patung.
"Terima kasih," ucap Elca dengan senang hati. Ia berpikir Saira tidak ingin lagi berteman dengannya mengingat ia hanyalah karyawan biasa.
"Elca, wajahmu kenapa? Terlihat sedikit memar." tanya Saira sambil berbisik dan menetiliti wajah gadis itu yang masih berusaha menyembunyikan lebamnya.
"Ini, aku terjatuh Eve," ucapnya dengan ragu.
Saira tahu, ada sesuatu yang tidak beres dengan Elca yerlihat dati gerak geriknya yang begitu gemetar dan kaku saat mengatakan hal tersebut. Jika Elca tidak mau jujur dengannya, maka hanya ada satu cara untuk mengetahui apa uang terjadi dengannya. Saira mengambil ponsel lalu mengetikkan sesuatu di sana dan mengirimkan kepada orang yang selalu siap sedia menjadi mata-matanya. Tentu saja dengan bayaran ekalusif karena info yang disajikan selalu akurat.
__ADS_1
Mereka pun sampai di lantai yang mereka tuju. Elca tampak sangat lesu dan lemah lunglai. Saira mengawasi semuanya dengan seksama. Ia sangat yakin ada sesuatu yang terjadi dengan gadis itu. Alyne sendiri tidak masuk bekerja karena sedang menemani ibunya keliling kota Jakarta dan menjelajahi kuliner nusantara. Andai saja gadis itu ada di sana maka ia bisa menolongnya untuk mencari tahu soal Elca. Di antara mereka berdua, Elca paling dekat dengan Alyne.
"Baiklah kalau begitu, lain kali hati-hati."
Saira segera menuju meja kerjanya. Tapi memar di wajah Elca masih membekas dan terus membuatnya penasaran. Ia beberapa kali mencuri pandang. Gadis itu terlihat menahan perih dan sesekali mendesis kesakitan saat tangannya menyentuh memar.
"Ada apa dengannya? Kenapa tidak jujur padaku, apa karena dia kurang nyaman?" pikirnya.
"Mbak Eve, dipanggil Pak Romeo ke ruangan sekarang."
Seseorang datang dan memberitahu hal tersebut. Ia sedikit mengernyit bingung mengenai Romeo yang ingin menemuinya. Apakah sedang ada masalah atau bagaimana. Banyak pikiran yang bersarang di kepala Saira.
"Silakan, Bu sudah ditunggu sama Pak Romeo. Sekretarisnya langsung menyambut dan menatapnya dengan senyuman ramah tamah yang biasa ia pamerkan.
"Terima kasih Raya."
"Sama-sama Bu Eve."
__ADS_1
Saira segera membuka pintu dan disambut oleh Romeo yang sedang menunggunya di meja kerja.
"Ada apa memanggilku kemari?" tanya Saira sambil menutup pintu.
"Temani aku makan siang dengan klien dari perusahaan Internezz corp. Mereka cabang dari Bandung."
"Kapan dan sepenting apa?" tanya Saira penasaran.
"Penting sayang, mereka akan menjadi calon investor kita nantinya."
"Jam berapa?" tanya Saira
"Nanti siang kujemput ke ruangan kamu ya sayang."
"Cuma mau bilang itu saja?" tanya Saira.
"Iya," jawab Romeo singkat.
__ADS_1
Romeo, kamu sehat nggak 🤣🤣🤣