
Saira menerima sebuah pesan dari Alyne. Dahinya mengernyit bingung dengan pertanyaan gadis itu. Namun, sedetik kemudian, ia kembali paham dan membalas pesan tersebut.
"Aku akan segera menjelaskan saat aku tiba."
"Baiklah," balasnya.
Saira kembali menyimpan ponselnya, mungkin sudah saatnya bagi Alyne untuk mengetahui siapa dia yang sebenarnya. Menurutnya Alyne adalah gadis yang sangat setia dan begitu royal dengannya.
"Telpon dari siapa?" tanya Romeo.
"Alyne, gadis itu pergi bersama kakakku ke makamku. Beberapa kali aku pernah membawa Alyne ke makamku dan dia bertanya ada hubungan apa aku dengan Izora."
"Lalu, apa kami akan menceritakan segalanya?"
"Mungkin sudah saatnya dia tahu yang sebenarnya. Selama ini dia sudah sangat royal bekerja untukku tanpa pernah berniat menyimpang sedikit pun."
"Jika dia memang berhak mengetahuinya, maka katakan saja kebenarannya."
"Antar aku pulang saja."
__ADS_1
Romeo segera menuruti kemauan Saira. Baginya tidak ada yang lebih penting melainkan kenyamanan Saira. Karena baginya gadis itu bukan hanha sekadar kekasih atau calon istri. Namun, separuh napasnya.
"Sudah sampai," ucap Romeo saat mobilnya berada tepat di depan gerbang yang berdiri dengan kokoh.
"Mau mampir?" tanya Saira, pria itu menggeleng.
"Aku masih ada pekerjaan yang harus segera dituntaskan. Lain kali aku akan mampir dan membawakanmu sesuatu."
"Baiklah kalau begitu, aku menunggu hadiahnya." kekeh Saira dan berlalu dari sana.
Sedangkan Alyne masih setia menemani gadis tersebut yang tampak menangis di makam tersebut. Mendengar semua luahan hati Izora membuat sebagian sudut hatinya terenyuh. Tidak bisa dibayangkan betapa pedihnya kehilangan orang yang sangat dicintai.
"Hei, Saira kakak bawa teman kemari, dia sangat baik."
"Mungkin dia akan mengira kakak sedang gila karena menceritakan dirinya padamu. Tapi kakak sangat senang mengenal dia, kamu tahu, ada satu wanita yang memiliki tatapan tajam tapi sangat perhatian."
"Aku tidak akan menganggapmu seperti itu." kekeh Alyne sambil menyerahkan selembar tisu.
"Terima kasih," ucapnya.
__ADS_1
"Selesaikan curhatanmu semamumu, aku akan menunggu di mobil."
Alyne segera menjauh dari sana meninggalkan Izora yang masih setia bercerita. Ia membagi segalanya dengan makam tersebut. Bahkan sampai menceritakan Alvin. Pria yang mampu membuat seluruh hidupnya kembali berwarna.
"Terima kasih Saira, berkat dirimu, sekarang Kakak sudah bisa menjalani hidup dengan sebaik-baiknya. Kakak sangat menyayangimu, maaf kalau sudah lama tidak menjengukmu kemari!"
Setelah selesai, ia segera menyusul Alyne ke mobil.
"Sudah selesai?" tanya Alyne sambil membuka pintu mobilnya diikuti oleh Izora.
"Sudah, ayo kita pulang!"
Alyne yersenyum dan segera menjalankan mobilnya membelah jalan raya. Ia sudah tidak sabar ingin mendengar hubungan Saira dengan Izora. Gadis yang selalu ditolong olehnya.
"Apa kita bisa mampir sebentar ke rumah orang tuaku? Maksudku cukup melihat dari depan saja."
Alyne menganguk dan segera membawa gadis itu menuju kediaman keluarganya. Dari jendela mobil Izora bisa melihat ayahnya sedang menyeruput kopi di teras, sedangkan ibunya sedang menyiram tanaman karena hari sudah mulai beranjak jingga. Mereka berdua sudah lebih baik sekarang berkat orang dermawam yang sudah mmba tunya seperti malaikat.
"Apa mau mampir?"
__ADS_1
Gadis itu menggeleng. Ia masih cukup waras untuk tidak menemui kedua orang tuanya. Semua dia lakukan demi menjamin keselamatan mereka, Izora tidak ingin ada hal buruk yang terjadi pada kedua orang tuanya. Karena di dunia ini hanya keluarga yang ia miliki.
-------