Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Wanita Berhati Dingin


__ADS_3

Saira sudah berdiri di depan gedung kebanggaan Aksa—selaku CEO perusahaan tersebut. Hari ini segala perasaan yang sempat mengusiknya kemarin, sudah musnah. Tidak ada lagi apa pun dalam hatinya, yang tersisa hanya kebencian. Alyne mengikuti langkah kakinya menuju lobi.


"Selamat pagi, Bu Evellyn." sapa resepsionis mereka dengan sopan.


Saira tidak memberikan jawaban sama sekali. Semua diwakili oleh Alyne sebagai sekretarisnya. Ia tidak akan pernah menunjukkan siapa sifat ramah tamah. Karena sifat itu pernah membuatnya berada dalam neraka.


"Mari, Bu. Saya akan mengantar keruangan Pak Aksa."


Seorang wanita membawa mereka ke sebuah ruangan yang berbeda dari kemarin. Kini mereka berada di ruangan rapat khusus. Aksa menunggu dengan tenang di ruangannya. Ia tidak sabar ingin melihat wajah wanita yang sudah membuat jantungnya berdetak dua kali lipat. Perasaannya berbeda saat pertama kali bertemu Izora.


"Silakan, Nona Evellyn." wanita dengan setelan baju kuning dipadukan rok span selutut dengan warna hitam. Rambit ikalnya digerai indah dan tertata dengan rapi.

__ADS_1


Saira memasuki ruang rapat tersebut. Di sana sudah banyak yang hadir dan Saira menyapa mereka dengan profesional. Hal itu membuat Aksa keheranan. Pasalnya kemarin saat mereka bertemu, Saira tidak seramah seperti sekarang. Padahal di sini dialah pemimpinnya.


"Terima kasih sudah hadir tepat waktu, kita kedatangan tamu dari hotel Azela. Hotel Azela adalah salah satu hotel terkemuka di Autralia. Jadi kita harus menggunakan kesempatan ini sebaik mungkin untuk menarik minat mereka terhadap perusahaan kita."


Saira tampak diam dan mencerna setiap bait kalimat yang disampaikn oleh Aksa pada bawahannya. Pria itu terlihat sangat berwibawa dengan semua yang dia sampaikan. Bahkan cara berpakaiannya juga terlihat berkelas. Namun, bukan itu poinnya, Saira harus bisa segera menyelesaikan tugasnya di sini lalu kembali ke Autralia. Ia sangat merindukan rumah serta orang tuanya.


"Rapatnya sudah bisa kita mulai, ya. Silakan Mina," ucap Aksa pada seorang wanita yang sudah bersiap di depan. Penamoilannya yang menawan, sangat menunjang, ditambah cara dia menyampaikan setiap kalimat sangat lugas dan mudah dipahami oleh mereka semuanya.


Mereka yang hadir di sana tampak mengangguk setuju dengan apa yang disampaikan oleh Saira. Mereka menatap Aksa yang tamoak sedang menimbang sesuatu.


"Saya juga setuju dengan ide tersebut, tapi bagaimana kita bisa memadukan antara nuansa meqah dengan alam. Bagaimana caranya?" tanya Aksa penasaran.

__ADS_1


Saira menatap mereka semua dengan wajah datarnya. Tidak.ada raut keramahan di sana. Baginya pekerjaan tidak ada unsur candaan atau yang melihatnya akan menganggap dia bisa diajak bermain-main.


"Saya sendiri sudah menyiapkan desainnya. Silakan dilihat dulu." Sara menyerahkan hasil desain bawahannya kepada Aksa.


Aksa tampak terpukai saat melihat desain tersebut. Seumur hidup, ia belum pernah melihat desain sebagus ini. Ia menatap Saira dengan wajah senang.


"Menurut saya desainnya sangat menarik dan bisa kita aplikasikan pada hotel ini. apalagi di Jakarta belum ada yang seperti ini."


Aksa menatap puas pada sekumpulan kertas tersebut yang disusun dengan sangat rapi.


"Rapat hari ini selesai, akan dilanjutkan dalam waktu dekat."

__ADS_1


-----


__ADS_2