
Alvin menelan saliva dengan susah payah. Aura yang dikeluarkan oleh Saira sangat mencekam dan mengancam. Ia mengira gadis itu menemuinya karena ada rasa tertarik mengingat wajahnya yang tampan. Namun, ternyata ekspektasinya jauh melenceng.
"Dengarkan aku baik-baik karena kau tidak akan mendengar kalimatku yang kedua kalinya."
Alvin segera memasang telinganya dengan cermat.
"Apa kau mengenal gadis bernama Izora?" tanya Saira dengan tatapan serius.
Meski alis Alvin terangkat, ia tetap menjawab. "Dia temanku."
Saira tersenyum misterius, "apa hanya itu?"
Pria itu mengangguk mantap dan kembali menatap Saira dengan serius. Meski sedikit dari sudut hatinya menciut karena aura Saira sangat tidak biasa. Namun, sebagai pria ia harus menunjukkan jati dirinya sebagai pria.
"Apa kau tahu dia kemana?" tanya Saira sudah seperti penyelidik.
"Dia berada di rumahnya."
"Apa kau yakin?" tanya Saira.
Ia akan mengetes seberapa dalam perasaan pria ini pada kakaknya. Jika itu tulus ia akan memberikan mereka kehidupan yang tentram. Tapi jika sebaliknya maka Saira akan memisahkan pria ini dari kakaknya, karena Izora hanya pantas dicintai oleh pria yang pantas.
__ADS_1
"Gadis itu tidak akan pergi kemana-mana karena harus menjaga kedua orang tuanya yang sakit." jawab Alvin dengan cuek.
Jawaban itu kembali membuat senyum Saira semakin misterius. "Jawabanmu sudah membuatku yakin akan satu hal."
"Apa maksudmu?" tanya Alvin bingung.
Saira bangun dari duduknya dan berdiri. "Kau hanya pria biasa yang tidak akan pernah bisa mendapatkan cinta dari wanita bernama Izora."
Alvin turut bangun dan semakin bingung dengan apa yang dikatakan oleh Saira.
"Bukankah kau megatakan kalau Izora hanya teman bagimu?" sinis Saira.
Alvin menghela napas dan berkata dengan jujur. "Kupikir kau ini utusan ayahku. Dia akan membunuh Izora jika aku mengakuinya sebagai kekasihku. Aku hanya ingin melindungi diq, jika terjadi apa-apa padanya maka hidupku akan tamat."
Setelah selesai dengan kalimatnya, Saira segera pergi dari sana dan meninggalkan banyak tanda tanya di benak Alvin.
"Apa sudah selesai?"
"Sudah, ayo!"
"Bagaimana dengan pria itu?" tanya Alyne penasaran.
__ADS_1
'Dia akan segera bertindak jika memutuskan menjadi pria sejati. Tapi akan mendekam jika memutuskan menjadi pengecut!"
"Biar kutebak, dia akan memilih yang pertama."
"Semoga saja," ucap Saira dan mereka segera melenggang pergi dari sana.
"Apa yang dia katakan barusan, kenapa kalimatnya membuatku bingung sekaligus penasaran. Aku juga tidak mengerti mengenai satu hal, kenapa aku harus mendapat restunya." Alvin masih mengingat setiap kalimat serta tatapan tajam milik Saira.
"Apa hubungannya dengan Izora?" tanyanya lebih pada diri sendiri.
Ia lalu mengeluarkan ponselnya lalu menghubungi gadis itu. Namun, nomor Izora tidak aktif sama sekali. Hal itu membuatnya khawatir. Sudah beberapa hari ini ia mengabaikan gadis itu karena gerak geriknya sangat dibatasi serta dipantau oleh sang ayah.
"Zora, semoga kamu baik-baik saja saat ini."
Ia segera pergi dari sana untuk mencari Izora, tentunya harus melakukan beberapa hal untuk bisa mengelabui ayah serta kakaknya.
Saira sendiri sudah menemukan di mana Izora saat ini berada. Ia juga menempatkan beberapa pelindung mengingat orang yang sedang dia lawan bisa membuat sesuatu yang tidak ia inginkan. Saatnya ia mengirim sesuatu kepada Wira yang sedang merayakan kebebasannya karena bukti yang menjeratnya sudah musnah sepenuhnya.
"Mereka sangat bodoh karena mempercayaimu Wali."
"Kau benar Wir, dengan jabatanku yang sekarang, aku bisa melakukan apa pun tanpa ada yang mengetahuinya."
__ADS_1
-----