Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Aksa


__ADS_3

Saira segera membuka ponselnya saat ada notifikasi masuk. Keningnya mengkerut melihat isi pesannya, dia lalu mengetik balasan dan mengirimnya.


"Sebenarnya, kamu niat ngajak atau tidak?"


Romeo kembali memeriksa ponselnya, sudut bibirnya tersenyum penuh makna. "Jawab aja dulu, mau atau tidak?


Saira tersenyum dan segera membalas. "Iya, aku mau."


"Kujemput pukul tujuh malam."


Saira tersenyum membaca pesan dari Romeo. Pria itu selalu mengatakan sesuatu dengan gamblang, tidak pernah romantis tapi satu hal yang dia sukai yaitu cara pria itu memperlakukannya seperti ratu. Tidak pernah berbicara romatis melainkan lebih suka bertindak. Saira kembali melanjutkan pekerjaannya sampai sore menjelang.


Malam hari ia sudah bersiap dengan dandanan andalannya, rambut digerai indah dengan gaun merah sepanjang lutut dan belahan dada yang tidak begitu rendah. Make up dipoles tipis di wajahnya yang sudah tercetak dengan sangat cantik.


"Wah, wah kamu sangat cantik," ucap Alyne yang selalu terpaku dengan dandanan Saira.


"Kau baru menyadarinya?" ejek Saira. Lalu ia mendengar deru mobil.di depan kediamannya.


"Itu pasti Pak Romeo, ayo buruan turun."


"Iya, ini juga mau turun."

__ADS_1


"Ayo!" ajak Saira, Romeo lagi-lagi dibuat terpaku oleh kecantikan Saira yang selalu berhasil membuatnya terpesona berkali-kali. Belum sempat ia mengatakan apa pun, Saira sudah lebih dulu berbicara.


"Aku tahu, kecantikanku selalu membuatmu terpesona, ayo pergi."


Pria itu tertawa mendengarnya, kebahagiaan yang diberi oleh Saira begitu sederhana tapi sangat istimewa bagi Romeo. Dia tidak membutuhkan wanita yang selalu menyenangkan hatinya dengan make up tebal dan liburan ke salon, karena Romeo hanya membutuhkan sebuah kesederhanaan yang selalu membuatnya bisa merasa damai saat di sisinya.


"Kau akan membawaku ke mana?" tanya Saira saat sudah di perjalanan.


"Ke suatu tempat yang akan membuatmu senang."


"Aku jadi penasaran," ucapnya.


Mereka kini sudah sampai di sebuah cafe sederhana tapi sangat indah. Seolah menggambarkan sisi Saira di mata pria itu. Banyak lampu menggantung di sepanjang jalan sebagai penerang lorong tersebut. Lalu di ujung lorong Saira melihat dua buah kursi dengan satu meja. Banyak lilin di sekitarnya. Tapi satu objek yang membuat mata Saira membeku dan terharu. Taburan mawar merah yang membentuk hati dan tulisan will you marry me.


"Aku lebih suka melakukannya dari pada hanya mengumbarnya melalui untaian kata. Apalagi untuk kekasihku yang sangat cantik ini."


"Aku sangat tahu karena kau berbeda dengan yang lainnya." Saira tertawa kecil.


"Jadi bagaimana sayang?"


"Memangnya aku bisa menolaknya."

__ADS_1


"Tidak akan kubiarkan hal itu terjadi," kekeh Romeo. Ia membawa Saira menuju kursinya lalu duduk bersimpuh sembari mengeluarkan sebuah cincin berbeda dari yang terakhir kali dia berikan pada Saira.


"Kemarin kan udah cincinnya," ucap Saira merusak momen romantis yang baru saja di bangun olehnya.


"Aku bahkan ingin memberimu cincin setiap kali kita makan malam, aku begitu sangat mencintaimu."


Saira tersenyum bahagia mendengar kalimat tersebut dan ia kemudian menyodorkan jemarinya ke depan Romeo agar bisa memasangkan cincinnya.


"Lihat, bahkan vemda itu terlihat serasi dengan jemari manismu sayang."


"Karena kau memberinya dengan penuh cinta." kekeh Saira.


"Karena dirimu sangat pantas untuk dicintai, aku akan melamarmu tahun depan. Bagaimana?"


"Ters ...." kalimat yang ingin diucapkan Saira menggantung di bibir.


Aksa terlihat menghampiri keduanya dengan tatapan marah dan terluka. Pantas saja nomor Saira masih aktif, ternyata dia memang masih berada di Indonesia. Rentetan memori beberapa bulan yang lalu masih membekas di ingatan Aksa. Gadis itu enggan di antar ke bandara.


"Jadi kau membohongiku?" tanya Aksa dengan marah.


Romeo menatap bingung ke arah Saira dan meminta penjelasan mengenai pria itu.

__ADS_1


-------


__ADS_2