Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Khawatir


__ADS_3

Aksa melempar ponsel dengan perasaan kesal luar biasa. Tender yang seharusnya dimenangkan oleh mereka, kini raip begitu saja. Ia sudah mengerjakan proposal yang sangat menarik agar mereka bisa memenangkannya. Kini ide tersebut malah berada di pihak lawan.


"Sial, sial!" teriaknya masih tidak terima.


Lalu bayangan Evellyn teringat dibenaknya. Kembali tangan kanannya meraih benda pipih tersebut, menekan sebuah nomor yang sudah tersimpan belum lama ini. Panggilan kelima belum juga kunjung diangkat.


"Eve, kamu kemana sih? Ayo angkat telponnya."


Kembali benda pipih itu melayang menyentuh kerasnya permukaan lantai. Layar utama sampai pecah meski tidak semuanya. Ia membuang diri ke sofa dan mencoba memejamkan mata. Pikirannya kini mulai bercabang. Perlahan mata itu mulai sayu dan tidur dalam kebimbangan.


Saira mendengkus kesal melihat nama si pemanggil. Hari ini suasana hatinya sedang kacau. Masih terbayang wajah pucat pasi dan tubuh kurus berjalan dengan lunglai. Rasa khawatir perlahan menyusup membelai hatinya yang sudah lama terluka. Awalnya Saira mengira, jika apa yang dia lakukan kepada keluarga di masa lalunya akan membuat dia bahagia. Namun, kenyataan sangat jauh dari apa yang ia rasakan saat ini. Gundah, bimbang dan khawatir merajalela di benaknya.


Besok ia berencana akan menjenguk sang ibu dan melihat kondisi kakaknya. Tapi tentu saja dengan cara diam-diam. Belum sanggup rasanya jika harus secara langsung. Malam itu tidur Saira hanya ditemani kegundahan tak berkesudahan.


"Selamat pagi, tumben wajahmu tidak semangat." sambut Alyne sembari menyediakan sarapan di meja makan.


Siara duduk dengan wajah lesu. "Alyne, kamu ingat dengan wanita yang dulu pernah kita jumpai di makan temanku."


Alyne mengangguk. "Kenapa dengan beliau?"

__ADS_1


"Tidak ada, hanya sedikit penasaran saja dengan kondisinya sekarang."


"Apa kamu mau aku menyelidikinya?" tanya Alyne sambil menaruh sesuatu di piring Saira.


"Tidak perlu, aku hanya penasaran saja. Lagi pula semua itu bukan hal penting. Segera bersiap, kita bisa telat ke kantor kalau kau selalu bertanya."


"Lihatlah jam yang menggantung di sana." tunjuk Alyne sambil melahap makanannya.


"Masih jam segitu? Jangan-jangan jamnya rusak."


"Rusak apanya, jelas-jelas baterai baru diganti minggu lalu."


"Kamu juga makanlah, jangan hanya memandangi, memangnya kamu bisa kenyang."


Obrolan keduanya terus berlanjut sampai mereka merasa sudah waktunya untuk bersiap. Selang beberapa puluh menit mereka berangkat ke kantor. Namun, masih sama, bayangan Izora masih terngiang di kepalanya.


"Alyne, bisakah nanti malam kita ke rumah sakit."


"Kamu sakit lagi? Kenapa tidak bilang, aku akan mengantarmu sekarang."

__ADS_1


"Bukan aku, hanya ingin refresing saja."


Kening gadis itu tampak berkerut dan menatap Saira dengan bingung. Setahunya refresing itu ke pusat perbelanjaan, ke pantai atau ke taman. Ini malah ke rumah sakit. Seolah tahu arti dari tatapan Alyne, Saira mendengkus dan menyentil keningnya sampai suara kesakitan terdengar.


"Aw, kenapa kamu menyentil keningku." protesnya.


"Biarkan saja, supaya kau tahu kalau refresing tidak hanya sekadar di tempat yang biasa kau kunjungi."


Keduanya masuk dengan masih adu mulut, tanpa sadar mereka melewati Viya yang sedang memberenggut kesal. Jelas sekali wanita itu menyimpan dendam kesumat pada keduanya tapi dia tidak bisa berkutik. Alyne gadia yang sangat bar-bar jika ia menganggu temannya. Viya harus puas dengan sakit hatinya.


----------


Viya kenapa kamu jahat


udah bagus jabatan tinggi


eh malah gk tahu diri


jadinya jatuh kan

__ADS_1


dan orang modelan Viya ini banyak di dunia nyata. merasa sudah di atas dan menginjak yang di bawah. Padahal dunia terus berputar.


__ADS_2