
"Bagaimana masalah seperti ini bisa terjadi?" tanya Saira dengan datar. Sungguh ia tidak suka ada kesalahan dalam bekerja.
"Maaf soal kejadian yang tidak menyenangkan ini Bu Evellyn," ucap Aksa pelan.
"Kali ini saya memaafkan Anda Pak Aksa, tapi lain kali saya tidak akan mentolerir lagi semuanya."
Setelah selesai dengan kalimatnya Saira segera keluar dari ruangan Aksa dan Alyne sudah menunggu di luar ruangan.
"Alyne, kita harus kembali ke Australia besok, kamu pesan tiket kita hari ini."
"Baik, Bu Evellyn," ucapnya dengan patuh.
Mereka segera meninggalkan kantor Aksa menuju kediamannya. Ia harus menyelesaikan pekerjaannya dengan segera agar semua lukanya bisa hilang saat ia kembali ke Autralia. Kenangan menyakitkan itu harus dihilangkan darinya.
"Alyne, sebelum kembali aku ingin ke makan temanku."
__ADS_1
Alyne segera mengemudikan mobil menuju tempat pemakaman. Ia hendak keluar dari mobilnya. Namun, mengurungkan niat saat melihat ada seseorang yang berada di sana. Dia kenal pria itu, ya dia adalah Danu—kakak lelakinya.
"Alyne, kembali ke rumah, aku tidak ingin ke makam itu lagi."
Alyne menganguk dan kembali menjalankan mobilnya. Tangan Saira mengepal erat menahan semua amarah yang tidak bisa ia lepaskan. Kenapa? Kenapa baru sekarang ia dicintai, kenapa baru sekarang ia disayangi dan kenapa baru sekarang dia disebut sebagai keluarga. Setelah kematiannya, semua orang bersikap sok baik dan merasa kehilangan orang yang sangat mereka cintai, kenapa? Pertanyaan itu selalu muncul di benak Saira.
"Evellyn, apa kamu baik-baik saja?" tanya Alyne khawatir. Sejak tadi dia perhatikan Saira tampak sedang tidak baik-baik saja. Dia bertanya-tanya siapa pria yang berada di makam itu.
"Kalau kamu merasa khawatir, artinya aku sedang tidak baik-baik saja."
Alyne terdiam di kursi kemudi hingga mereka sampai di depan rumah. Saira segera beranjak terlebih dahulu dan masuk ke kamar. Di sana ia menumpahkan segalanya. Alyne hanya menjadi penonton dari balik tembok. Karena hanya itu yang bisa ia lakukan.
"Kenapa Tuhan memberiku takdir seburuk ini, kenapa juga aku harus terlahir dari keluarga seperti mereka. Kenapa?" isaknya. Dada sesak memenuhi ulu hatinya. Bahkan menghancurkan seluruh isi kamarnya tidak akan pernah cukup untuk mengurangi rasanya.
Matanya berkilat marah, genggaman tangannya menguat seiring berputarnya adegan demi adegan yang pernah ia lalui dulu. Malam itu akan menjadi saksi, hari terakhir ia menangis. Tidak akan ia biarkan setetes pun menetes lagi.
__ADS_1
"Sakit Saira, sakit Evellyn, semua harus dituntaskan."
Sebuah senyuman yang belum pernah dilihat oleh siapa pun terbit di bibirnya. Inilah dirinya yang sekarang, dirinya yang baru terlahir kembali. Saira dan Evellyn adalah satu. Misinya hanya satu yakni balas dendam pada orang-orang yang sudah melukai mereka.
-----
Paginya, Saira dan Alyne segera berangkat menuju Bandara Soekarno Hatta. Penerbangan mereka tiga jam lagi. Perjalanan mereka melalui area pemakaman Saira dan mata Alyne melirik ke arahnya yang terlihat menatap.area tersebut. Alyne menyuruh sopir untuk menghentikan mobilnya di pinggir jalan dan hal tersebut membuat Saira bingung.
"Kenapa berhenti, Pak?" tanya Saira.
Alyne segera menjawab sebelum sopir tersebut. "Evellyn, aku tahu kamu sangat ingin ke makam itu, maka pergilah sebelum kita kembali."
"Sok tahu kamu, Pak jalan aja."
"Pak, jangan jalankan mobilnya," Alyne menatap serius mata Saira. "Ingat, jarak Autralia dengan Indonesia tidak dekat. Kalau kamu ingin melihat makamnya untuk terakhir kali maka lakukan sekarang."
__ADS_1
Saira tampak menimbang dengan lama. "Semakin lama kamu berpikir maka kita akan ketinggalan pesawat!" tegur Alyne.
------