Istri Lemah Menjadi Kuat

Istri Lemah Menjadi Kuat
Menikah Denganmu


__ADS_3

Tangannya dengan nakal mulai menjelajahi seluruh tubuh Saira, mulai dari leher yang kini turun dan membelai dada Saira. Tentu saja perbuatannya membuat Saira menangis. Ia sudah bersumpah jika tubuhnya hanya milik Romeo.


"Tolong, aku akan segera menikah. Jangan lakukan ini kepadaku. Aku sangat mencintainya."


Tapi pria itu seolah menulikan pendengarannya. Ia terus meraba bagian sensitif Saira dan seolah sudah tahu di mana saja titik lemahnya. Hal itu tentu saja membuat Saira mendesah. Ia merutuki reaksi tubuhnya yang berlawanan dengan hatinya.


"Kau sangat menggoda," bisik pria itu kini ia sudah mulai naik ke tubuh Saira. Keperkasaannya kini menusuk perut Saira sampai membuat Saira sedikit sesak. Ia mencoba merapatkan kedua kakinya. Tapi sial baginya karena pria itu berhasil memasukkan satu kakinya ke celah ************ Saira.


"Aku sangat menyukai dua benda kenyal ini."


Ia membuka kancing baju Saira perlahan-lahan. Air mata Saira sudah tidak terbendung lagi. Terlebih kini pria itu perlahan membelai miliknya yang masih dibalut seutas kain tipis. Sedangkan tangan kanannya membelai puncak keindahannya yang sesekali dimainkan oleh lidahnya.


"Ahh," desahan mulai menggema dari bibir Saira. Ia ingin menutup mulutnya tapi ia tidak berdaya. Hanya menangis yang bisa dia lakukan saat ini.

__ADS_1


Kini pria itu mengambil kesempatan menjelajahi mulut Saira karena dia tidak lagi bisa menolak. Desahan demi desahan terus keluar dari bibir Saira saat tangan pria itu dengan lihai memainkan klitorisnya. Tubuh Saira sudah tidak terkontrol, seolah meminta lebih. Hal itu membuat pria itu senang. Ia menyingkap underware merah Saira ke samping tanpa melepasnya.


Milik Saira sudah dibanjiri cairan, dua jarinya ia masukkan dan membuat ritme yang mampu membuat pinggul Saira sedikit terangkat karena sensasi yang diciptakan oleh pria itu.


"Ahh," desah Saira saat pria itu sudah selesai dengan bibirnya.


Pria itu dengan pelan mulai melebarkan kedua kaki Saira. Ia berlutut di depan Saira dan membuka pembatas kejantanannya yang sudah mengancung tegak. Saira menggeleng tapi reaksi tubuhnya kembali berlainan. Ia seolah mendamba untuk dimasuki.


"Romeo," ucapnya berharap pria yang akan menggagahinya benar-benar dia.


"Romeo, aku tahu itu dirimu." isak Saira membuat pria itu menjauh dari Saira.


Ia melepaskan ikatan tangan Saira dan segera menyuruhnya pergi dari sana, memakai celananya yang memperlihatkan miliknya masih mengacung, lalu keluar dari kamar. Tapi Saira tidak mau. Dia melilitkan selimut tipis dan segera menyusul pria itu ke ruang tamu. Saira semakin yakin jika itu adalah Romeo.

__ADS_1


"Romeo," ucap Saira lembut.


Terlihat pria itu terduduk di sofa, masih mengenakan topengnya. "Pergilah!"


Saira tidak menghiraukan kalimat tersebut, ia mendekati pria yang dia yakini sebagai Romeo. Dia duduk disamping pria itu dan perlahan membuka penutup wajahnya. Betapa kaget Saira saat melihat wajah Romeo yang dipenuhi luka. Saira menangis melihatnya, tentu saja hal itu membuat Romeo sangat sedih. Ia memeluk tubuh Saira dengan lembut dan memenangkannya.


"Jangan menangis sayang, air matamu terlalu berharga." bisiknya.


Saira merungkai pelukannya, ia menatap wajah Romeo yang tidak setampan dulu. Ia menangis dan menciumi wajah itu dengan penuh kasih. Kerinduannya akan pria itu kini terobati.


 


Harendang harendang tukulukulu .......

__ADS_1


__ADS_2